TAK HARUS MEMILIKI
POV
OM BELUT
Setelah sekian lamanya...
Tanah lapang di lereng gunung tak jauh dari kediaman Guru Udang. Akhirnya sampai juga aku di tempat ini lagi. Ku hirup udara segar pengunungan yang sangat menyejukan. Sesaat pandanganku beredar. “Masih mirip puluhan tahun lalu tak banyak yang berubah." Gumamku membatin. Aku teringat masa lalu di mana berdua dengan kakakku Permana menjadi murid dari Guru Udang. Kami sering berlatih di lereng gunung yang saat ini sedang kupijak.
Kami bangga bisa menjadi murid dari Guru Udang. Banyak suka dan duka kami lalui di sini. Selama 6 bulan kami habiskan waktu di sini untuk berlatih bersama Guru Udang.
Entah fisik…
Entah kecepatan…
Entah teknik gerakan…
Entah itu strategi…
Semua yang kami dapat di sini menjadikan kami berdua menjadi sosok luar biasa dalam dunia kemiliteran. Iya memang asal mula kami berdua dari militer. Mengikuti jejak kakek dan ayah kami. Sebelum bergabung di divisi keamanan bayangan yang dibawahi langsung oleh departemen keamanan.
Selama berada di sini kami berdua melewati ujian demi ujian yang diberikan Guru Bungkuk. Tak ada kata lelah. Semangatku membara kala itu. Karena dahulu ada seorang gadis cantik jelita bernama Anisa. Aku lebih sering memanggilnya Nisa.
Anisa gadis dengan pribadi santun. Selain santun Anisa memiliki paras yang sangat cantik. Selalu baik tanpa pandang bulu. Dia tak pernah lelah menebar senyuman manisnya kepada setiap orang. Pribadi yang begitu ramah. Wajah cantiknya sangat teduh. Membuatku tak pernah bosan menatapnya.
Dia bak gadis yang sempurna. Gadis yang mampu merubah suasana menjadi sangat nyaman. Sontak siapapun orangnya akan menyukainya. Tak terkecuali aku.
Dia merupakan cinta pertamaku. Iya aku jatuh hati padanya. Bukan hanya jatuh hati, terlebih aku sangat mengagumi pribadinya. Namun sayang, sebelum aku berkesempatan mengutarakan isi hatiku. Aku mendengar kenyataan pait. Aku mendapat kabar dari kakakku, bahwa dia telah menjalin hubungan dengan Nisa.
Mereka ternyata memiliki perasaan yang sama. Dan semua itu membuatku mengurungkan niatku untuk mencurahkan isi hatiku ke Nisa.
Semua kupendam…
Kupendam sangat dalam…
Aku tak bisa memaksakan kehendaknya…
Aku memilih berusaha memusnahkan Nisa dari hatiku…
Kerena aku tak ingin merusak kebahagiaan kakakku dan juga Nisa…
Mereka saling mencintai. Berbeda bila denganku yang hanya aku yang mencintainya, mungkin Nisa tak mempunyai rasa yang sama denganku.
Namun, semua itu berimbas ke latihan yang kujalani. Saat itu aku benar-benar hancur. Fokus kepada latihanku menjadi berkurang.Semua kacau. Banyak waktu kuhabiskan hanya untuk melamun dan menyendiri.
Hasratku untuk memiliki Nisa sangatlah besar tak mampu kubendung. Namun semua urung kuperjuangkan. Serba salah di mana pilihan Nisa adalah kakakku sendiri.
Setelah menempuh waktu latihan selama 6 bulan. Aku putuskan bergabung di dalam militer. Tak hanya itu aku memilih job sebagai intelijen di mana selalu berpindah-pindah tempat. Semua kulakukan untuk menghilangkan sosok Nisa dari kehidupanku.
Namun semua yang kulakukan tak berbuah hasil. Di mana nama Anisa selalu berada di lubuk hatiku terdalam. Aku tak pernah mampu menggantinya dengan wanita lain. Menjadikanku memilih jalan hidup sendiri hingga saat ini.
Selang 2 tahun kemudian Permana mempersunting Nisa. Permana dan Nisa bersikeras untuk mengundangku menghadiri pernikahan mereka. Namun dengan dalih sedang melakukan sebuah tugas yang sangat penting aku meminta maaf kepada mereka berdua karena tidak bisa menghadiri acara sakral tersebut.
Aku berbohong. Iya aku memang pembohong. Alasan utamaku tak menghadiri acara sakral tersebut sebenarnya karena aku tak mungkin kuat melihat gadis yang kucintai duduk berdua di pelaminan dengan kakakku. Hatiku tak setangguh fisikku. Aku tetap manusia biasa. Aku hanya dapat menyimpan rapat-rapat rasa cintaku selamanya.
Semakin lama semakin aku mampu merelakan Nisa. Walau jujur nama Nisa tetap tak mampu tergantikan. Terpatri tanpa dapat kualihkan untuk di tempati wanita lain. Setelah aku semakin dewasa dan matang. Aku berfikir bahwa mencintai tak mesti harus memiliki. Aku masih dapat melihat sosok Nisa kapanpun aku mau. Namun bukan sebagai teman. Buka juga sebagai sahabat. Ataupun sebagai kekasih. Melainkan sosok Nisa sebagai kakak iparku.
Tak mengapa Permana kakakku sosok pria baik dewasa dan bijaksana. Nisa tak salah memilihnya. Kala Nisa mengandung Bagas. Terjadi suatu musibah, di mana sewaktu usia kandungan mencapai 8 bulan Nisa terjatuh dan mengalami pendarahan hebat. Aku mendengar kabar itu dari Permana. Di mana di kala itu golongan darah yang dimiliki Nisa sangatlah jarang. Mengetahui apa yang terjadi dan merasa mempunyai golongan darah sejenis aku memutuskan untuk pulang. Untung belum terlambat darahku mampu menolong nyawanya.
Aku sempat menemuinya pasca operasi kelahiran Bagas. Aku melihat wajah Nisa pucat namun terlihat aura bahagia yang terpancar darinya. Iya, dia telah menjadi wanita sempurna. Dia baru saja melahirkan bayi laki-laki yang sangat lucu. Pemandangan tak jauh berbeda terpancar dari Permana kakakku. Di mana dia sempat beberapa kali memelukku.
Tak hanya itu dia menganggapku dewa penolong dimana dia terus-terusan berterima kasih padaku. Tibalah saat berdua dengan Nisa di sebuah kamar rumah sakit. Di mana malam itu Permana sedang sibuk mengurusi biaya administrasi. Hanya 1 jam lamanya Permana pergi namun bagiku sangat lama. Perasaanku tak beraturan berduaan dengan sosok yang masih kucintai.
Sampe akhirnya terdengar Nisa memanggil namaku.
"Trima kasih bungsu"
"Dan maafin Nisa yang tak mampu membalas perasaanmu"
Hanya dua kalimat. Namun bagai tersambar petir, tubuhku kaku. Nisa terlihat meneteskan air mata sembari melihatku. Nisa meminta aku untuk mendekat. Mulutku benar-benar terkunci tak mampu berucap. Seakan ribuan ton beban yang kupikul. Aku berjalan sangat pelan mendekati Nisa.
Terlihat nisa mengulurkan tangannya.
Aku ragu...
Sangat-sangat ragu...
Sesaat kemudian Nisa menganggukan kepalanya. Kuberanikan diri menyambut tangannya. Lembut, hanya itu yang kurasakan saat menyentuh tangan milik wanita yang selama ini kuinginkan. Ajaib semua dahagaku hilang hanya menyentuh tangannya.
"Kau adikku Bungsu. Berjanjilah sayangi keponakanmu seperti kau menyayangiku. Anggap dia seperti anakmu sendiri"
Mulutku terkunci rapat. Tak mampu untuk melontarkan sekecap kata. Seperti tersihir, aku hanya mampu menganggukan kepala. Tak lama kemudian tanganku merogoh saku celanaku. Sembari memberikan sebuah kotak merah kepada Nisa. Terlihat Nisa tersenyum. Senyum yang sangat kurindukan. Senyum yang mampu membuat semangatku berkobar. Senyum yang juga mampu meredakan semua luapan emosi dan gejolak di jiwa. Semua hilang dengan seketika.
Di waktu instingku menangkap suara langkah kaki. Dengan segera kulepas genggaman tangan Nisa.
Berat !
Sangat berat!
Teramat berat melepas genggaman tanganku...
Namun apalah dayaku. Tak ingin Permana melihat kami berdua dalam posisi seperti ini dan membuat pikiran negatife tentang kami. Kuputuskan untuk beranjak pergi. Hanya sebuah pesan untuk Permana yang mampu kutinggalkan...
"Jaga anak dan istrimu Kak!"
Sembari tak lama kemudian dengan langkah gontai aku meninggalkan rumah sakit di mana Nisa dan keluarga kecilnya berada. Aku selalu memegang janjiku kepada Nisa. Aku akan menjaga Bagas dengan nyawaku.
Telegram : @cerita_dewasa
Berselang 10 tahun kemudian...
Di mana di kala itu aku sedang bertugas di benua biru. Di waktu itu aku sudah bergabung di divisi Criminal Clenser dengan status agen lapangan terbaik yang di miliki divisi. Karierku benar-benar menanjak kala itu. Hingga sebuah tawaran jabatan penting disodorkan kepadaku. Namun hal itu bersamaan dengan musibah yang membuat kakakku hilang. Tak hanya kakakku, Nisa pun ikut menghilang.
Tak hanya mereka berdua. Di mana keponakanku satu-satunya pun seakan lenyap ditelan bumi beberapa jam setelah kejadian itu. Hal itu membuat amarahku benar-benar tak mampu terbendung. Dengan tegas aku menolak tawaran jabatan tersebut. Aku memilih untuk menjadi agen ganda di mana aku menjadi pelatih akademi divisi dan juga agen lapangan.
Niatanku hanya satu mencari otak di balik serangkaian yang terjadi. Hingga kini pun aku masih percaya kakakku masih hidup. Dan sedikit demi sedikit info yang kukumpulkan semakin memperjelas siapa dalang yang harus bertanggung jawab dalam kejadian ini. Aku pun tak mau terlalu gegabah. Karena aku tau dengan pasti apa yang akan kuhadapi di depan.
Dengan kutemukan anak harimau yang hilang atau keponakanku. Membuatku optimis pada saatnya nanti, semua akan terbuka. Dan peperangan senyap antara keluarga akan terjadi. Namun tak segampang itu. Banyak pihak luar yang akan turut andil dalam peperangan senyap tersebut.
Semakin menarik dengan adanya pemuda luar biasa yang sempat bertarung denganku. Kalo benar dia anak Niken. Entahlah aku tak dapat membayangkan dan tak dapat berfikir untuk mengambil tindakan yang semestinya kulakukan kepadanya. Jika benar aku akan merasa sangat berdosa dengan masa lalu yang kuperbuat.
Namun untuk saat ini aku harus berfikir logis dimana kepentingan utama adalah menyingkap semua tabir yang bermuara dari hilangnya kakakku. Tak dapat kupungkiri bila saja aku harus tega melenyapkan siapa pun di kubu musuh. Mengesampingkan semua hal yang berkaitan dengan perasaan.
Bagas kelak yang akan menghadapi anak tersebut, masaku telah habis. Sisa tenaga yang kupunya akan kupergunakan untuk memberi penghakiman kepada dalang biang keladi di mana semuanya bermula.
Bagas kian lama menjadi sosok harimau yang kuat. Menurut Guru Udang, Bagas mampu menjalani tantangan dengan sangat baik dalam waktu yang sangat singkat.
Suatu saat Bagas pasti akan melampaui ayahnya. Atau mungkin sekarang Bagas sudah melampauinya. Yang pasti aku beruntung ada Bagas di pihakku. Mereka pasti tak akan membiarkan aku maupun Bagas pemilik darah Soetedja berkeliaran dengan bebas. Hanya menunggu waktu mereka pasti akan datang kemari. Dan aku pastinya dengan senang hati menunggu kalian.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar