POV
Bagas
Sangat mengejutkan bagiku karena tamu yang kakek maksud ternyata adalah Nadia.
Tadi kakek mengajakku dan April untuk menuju gasebo tempat biasa Bagas mengabiskan waktu di malam hari untuk sekedar melepas lelah. Belum juga kami sampai di gasebo itu.
“Keluar...!” Tiba-tiba “Kakek Bungkuk” berteriak.
Kemudian munculah sosok Nadia.
Dan hal yang lebih mengejutkan terjadi di mana April langsung mengambil ninjato, yang kerap April simpan di punggungnya. Dan langsung menyerang Nadia. Nadia sama sekali tak ada niatan untuk menghindar.
Untungnya “Kakek Bungkuk” cepat bertindak. Kakek langsung berteriak lantang untuk menghentikan aksi April selanjutnya.
Dan bodohnya aku malah menyapa Nadia, sontak saja membuat April terlihat ngambek. Dengan mendumel April masuk ke dalam rumah terlebih dahulu. Aku sempat berpikir untuk menyusul April masuk ke dalam rumah.
Namun...
Karena aku berpikiran Nadia adalah tamu, maka aku urung niatku untuk ikut menyusul April. Sejenak aku sempatkan untuk ngobrol sepatah dua patah kata dengan Nadia, setelah itu kami bertiga melanjutkan obrolan di ruang santai yang berada di gasebo. Aku di buat tercengang dengan kehadiran Nadia di sini. Dan yang lebih bikin aku kaget, ternyata Nadia adalah salah satu murid “Kakek Bungkuk” karena Beliau memanggil Nadia dengan sebutan “Rubah Kecil”.
Nadia juga sempat menjelaskan pernah duel dengan kekasihku karena sebuah kesalah pahaman. Aku jadi paham apa yang dilakukan April tadi.
Tak terasa sudah 2 (dua) jam lebih kami bertiga terlibat obrolan, sesaat kemudian Nadia undur diri untuk pulang. Saat berpamitan, aku sempatkan mengantar Nadia untuk menuju mobilnya yang terparkir lumayan jauh dari rumah kakek.
Aku sedikit curiga, namun Nadia beralasan takut mobil yang ia bawa rusak.
Masuk di akal juga karena mobil yang Nadia pakai berjenis sedan sport dan pasti akan merusak bagian bawah mobil jika dipaksa naik hingga ke rumah kakek.
Nadia sempat berpesan agar aku berhati-hati dalam waktu dekat ini.
Entahlah aku juga kurang paham, arti berhati-hati yang Nadia perintahkan! Dan hal mengejutkan terjadi, nadia langsung memelukku secara tiba-tiba. Aku sempat bingung dengan apa yang Nadia lakukan, namun sesaat kemudian aku memutuskan untuk melingkarkan tangan ke tubuh Nadia dan membalas pelukannya.
Entah aku beneran denger atau salah dengar! Nadia sempat mengucapkan satu kata dengan sangat lirih. “Kangen.”
Iya, cuma satu kata itu.
Entahlah fokusku membalas pelukan gadis cantik itu, dan jujur sebenarnya aku juga kangen dengan Nadia!
Setelah beberapa saat pelukan Nadia mengendur.
Cuuuppp!!
Tak kusangka Nadia memberanikan diri mengecup bibirku.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Nadia langsung memasuki mobil dan tak lama kemudian meninggalkanku sendirian. Dan setelah melihat mobil Nadia menjauh, aku putuskan untuk kembali pulang ke rumah “Kakek Bungkuk”.
Di depan rumah terlihat kekasihku berdiri dengan tangan dilipat di dada. Sorot matanya tajam memandangku.
Perasaanku mulai tak tenang, sepertinya hal buruk akan menimpaku.
Dan benar saja dugaanku, tanpa babibu kagi April langsung menghadiahkanku dengan tiga cubitan.
Nyuuuttt!!
Nyuuuttt!!
Nyuuuttt!!
Tiga cubitan keras April bersarang di perutku, dilanjutkan dengan menarik tanganku untuk masuk ke dalam rumah.
“Ampun, Pril...!” kataku memelas.
“Jelasin!” ketus April dengan wajah cemberut.
Terlihat kekasihku sangat marah dan cemburu dengan kehadiran Nadia tadi, dan mulau mencecarku untuk menjelaskan kenapa bisa kenal dengan sosok Nadia.
“Tak mungkin ‘kan aku jawab jujur.” Gumamku membatin. Aku kebih memilih untuk diam.
“Apa yang mesti aku jelasin, Pril?” tanyaku pura-pura bingung.
“Jelasin kenapa kamu bisa kenal sama cewek jahat tadi?” tanyanya to the point.
“Kan aku sudah bilang, cuma pernah ketemu dia di kawasan hutan lindung.” Jawabku seadanya.
“Berapa kali kalian ketemuan?” tanya April mulai menginterogasiku bak seorang jaksa penuntut umum menanyai seorang terdakwa.
“Duh, kok tanyamu gitu Pril...!?”
“Jawab, Bagaaaaas!” April memelototkan matanya.
“Iya, iya, baru lima kali Pril.”
“Baru katamu, Gaas!” Sungut April dengan tatapan seakan ingin mengulitiku. “Ngapain aja kalian pas ketemuan?”
“Aku cuma bertemu secara kebetulan Pril, saat itu Nadia sedang kehilangan anjingnya saat jogging di kawasan hutan lindung. Selanjutnya, ya ketemu secara tidak sengaja juga waktu kamu menyuruhku lari ke bukit.” Jelasku.
“Kamu mesti pernah macem-macem sama tuh cewek ‘kan? Ngaku gaas?”
“Apriiil!” Teriakku dengan nada mulai emosi.
“Kamu sekarang berani bentak April Gas, gara-gara masalah Nadia.” ucap kekasihku lirih terlihat matanya berkaca-kaca dan tertunduk.
“Lihat Bagas, Pril! April lihat Bagas!” kataku menyerunya.
Terlihat April hanya diam dan semakin tertunduk. Aku dengan sengaja memegang dagu kekasihku lalu menegakkan kepalanya.
Mata kami sesaat bertemu.
Terlihat kekasihku berlinang air mata.
“Priil.” Panggilku lembut.
“Apa?” jawabnya ketus.
“Tahu nggak siapa orang yang paling Bagas sayangi?” tanyaku serius.
Tak ada jawaban hanya gelengan kepala yang dilakukan April.
“Kamu.” jawabku cepat sambil tanganku mencengkram erat kedua bahunya, terasa tubuhnya bergetar berusaha membendung tangisan.
“Hiks...bohong.” jawabnya di sela isak tangisnya.
“Kamu percaya itu hakmu, tidak percaya juga hakmu Pril. Dan asal kamu tahu saja, aku tidak punya siapa-siapa selain kamu, kamu tempat Bagas pulang.” ujarku mencoba menenangkannya dan memang apa yang kukatakan adalah sebuah ketulusan yang berasal dari dalam hati.
“Janji!” katanya menegaskan.
“Iya, aku berjanji Priil.” Sahutku dengan mantap dan yakin.
Beegghh...
Terasa tubuh kekasihku berhambur memelukku kencang. Tak tinggal diam, aku balas memeluknya erat. Terasa tubuh kekasihku bergetar hebat, tak hayal akhirnya tangisan April pecah di pelukanku. Semakin kupeluk erat tubuh kekasihku dan membiarkan kepalanya terbenam di dadaku.
Tak lama setelah tangisannya mulai mereda, kuangkat kepalanya. Terlihat kedua pipinya dibasahi air mata. Kuputuskan untuk mengusap pipinya, kemudian kucium keningnya.
“Tetaplah menjadi tempatku pulang, Priil.” ucapku lirih.
Terlihat kekasihku menganggukan kepalanya, lalu berhamburan memelukku kembali.
Tak lama kemudian kuputuskan untuk melepas pelukannya.
“Kenapa dilepas, Gaas?!” Tanya April kaget dan bingung.
“Yuk ke dalem aja, malu dilihatin Kakek ‘ntar!” sahutku pelan.
“Gendong.” ucap April manja.
Tanpa menunggu lama, ku bopong tubuh kekasihku tersebut, dan menggendongnya memasuki kamar.
Telegram : @cerita_dewasa
POV
April
Cemburu. Jelas, aku cemburu dong.
Gimana nggak cemburu coba? Kalau orang yang kita sayangi memilih ngobrol dengan perempuan lain ketimbang menyusul pacarnya yang lagi ngambek.
Dan yang bikin aku tambah sebel, ngapain juga Bagas nganterin si Rubah genit itu sampai mobilnya. Tadinya aku pingin ngikutin mereka berdua sampe mobil, tapi kakek bungkuk malah melarangku.
Huft...! Sebel. Tapi semua sirna, karena jujur rasa sayangku ke Bagas terlalu besar.
Melihat tatapan Bagas yang teduh sudah bikin aku meleleh, apalagi berada di pelukan Bagas, semua amarah dan rasa cemburuku lenyap seketika.
Ditambah kesungguhan Bagas saat berkata, “aku adalah tempatnya ia pulang, aku seakan merasa terbang. Hihihi...”
Tapi beneran, tadi aku tuh aku cemburu.
Aku sadar kalau Nadia atau “si Rubah Kecil” memanglah sosok perempuan yang sangatlah cantik, di tambah body-nya yang bisa dikatakan sempurna.
Siapa coba yang nggak kuatir, kekasihnya bakalan kecantol sama tuh perempuan.
Aku takut.
Ya, aku takut kehilangan Bagas...
Sah, sah saja ‘kan?
O iya, hampir lupa, tadi sebelum si Rubah centil itu datang ke mari, hal mengejutkan terjadi di mana Kak Rian dan Tante Linda menyempetin datang ke mari dan memohon kepadaku untuk membawa Bagas pulang.
Sekilas hal wajar, namun aku menangkap ada sesuatu yang mereka berdua sembunyikan, maka aku menolak ajakan tersebut.
Entah mengapa aku lebih mempercayai Paman Belut? Maka aku bersikeras menolak ajakan tersebut dan terlihat raut kekecewaan tertangkap di wajah mereka berdua.
Belakangan banyak banget kejadian atau peristiwa yang mengejutkan terjadi.
Aku merasa apa yang dikatakan Paman Belut sangat bener, tentang banyak orang yang mengincar Bagas, dan aku merasa tenang berada di sini.
Bukan hanya karena suasana atau lingkungan yang nyaman. Yang membuatku betah di sini.
Terlebih melihat sosok “Kakek Bungkuk, aku merasa lebih aman berada di sini, ketimbang kembali ke kota berdua bersama Bagas. Setidaknya ada tambahan satu orang kuat dipihak kami berdua. Siapa lagi kalo bukan “Kakek Bungkuk”.
Aku beberapa kali berhadapan dengan musuh, dan mereka ternyata lebih kuat dibanding aku. Hal itulah yang membuatku memutuskan untuk sementara waktu akan menetap di sini.
Lagian di sini ‘kan aku bisa berduaan terus sama Bagas.
Aku bisa bobok nyenyak ndusel di ketiak Bagas.
Hihihi...aneh ya?
Jorok?
Tapi entahlah, dah jadi kebiasaanku kalo bobo ngedusel Bagas. Dan hal tersebut membuatku nyaman banget.
O iya, tadi sewaktu Bagas mengantar si Rubah centil ke mobil, “Kakek Bungkuk” sempat ngobrol berdua denganku. Dan aku jadi tahu kalau Rubah centil itu adalah murid kakek, dan nggak bisa dipungkiri lagi kalau murid kakek itu memang hebat.
Jadi, jadi, aku ngotot ingin ikutan jadi murid “Kakek Bungkuk”.
Awalnya kakek nggak mau mengangkatku jadi murid, tapi setelah sedikit kupaksa dan kurayu akhirnya kakek luluh juga.
Bisa dikatakan aku diterima menjadi muridnya.
Hihiihiii...
Kakek emang baik, beliau nggak pernah marah denganku.
Aneh, pokoknya aneh!
.
..
...
Kembali ke Bagas...
Selama berada di sini Bagas tumbuh pesat tak terbendung, dalam hal; insting, fisik dan kekuatan.
Berkat mahaguru seperti “Kakek Bungkuk”, Bagas menjadi sosok yang sangat kuat.
Bagas.
Bagas.
Pacarku memang sangat spesial. Aku sungguh dibuat takjub dengan usaha dan kemauannya.
Seolah tak pernah lelah, tubuh Bagas dengan cepat melakukan “adaptasi” untuk melalui semua ujian atau tantangan yang diberikan.
Bagas memang bak harimau kelaparan dalam hal mempelajari hal-hal baru.
Tak ada kata lelah.
Tak pernah mengenal putus asa.
Salut.
Benar-benar salut sama pacarku yang tampan itu.
Seperti kali ini, siang hari yang panas tidak mengurungkan Bagas untuk berlatih memanah.
“Duh keren lihat cara Bagas menggunakan busurnya, dengan mata tertutup, Bagas bisa memanah dengan baik buah apel yang di lemparkan Kakek ke langit.” Gumamku membatin.
Iya, Bagas berlatih semua jenis senjata.
Menurut “Kakek Bungkuk”.
Tak ada salahnya menguasai segala jenis senjata karena bukan hanya dari senjata api saja yang mampu untuk melindungi diri, bahkan ranting kecil pun dapat membantu kita saat bertarung.
Dan aku membenarkan hal tersebut karena saat kita dalam keadaan terjepit, apa pun di sekitar kita berada yang bisa untuk bertahan harus bisa kita gunakan sebagai senjata.
Aku nggak jauh berbeda dengan Bagas. Aku pun mulai berlatih. Namun aku lebih memfokuskan untuk berlatih menambah kecepatan, tentunya dengan latihan yang berbeda jauh sama yang bagas lakukan.
"Kalian apa kabar!" Tiba-tiba suara seorang pria mengagetkan kami.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar