BAB 43
Bu Alya mencium tepi bibirku. Sebetulnya ia mau mencium pipiku, namun sikap kagetku membuat aku bergerak dan bibir Bu Alya mendarat salah sasaran. Nafasnya terasa hangat menerpa pipi dan daguku karena tak pula ia menjauhkan wajahnya. Aroma wangi pun terhirup oleh hidungku. Bu Alya menatapku sebentar dengan bibir yang sedikit terbuka, wajahnya semakin mendekat, lalu…
“Ibu titip anak-anak ibu.” bisiknya membuat wajahku merinding karena hembusan nafasnya. dan..
Cuuuuup!!!
Ia kembali mencium pipiku, sesaat sebelum menegakkan duduknya kembali. Aku menahan nafas karena betul-betul shock atas kejadian singkat barusan. Otakku terlalu dipengaruhi imajinasi readers seolah aku akan mendapat ciuman di bibir, sehingga aku pun sempat berharap demikian. Kini entah harus lega atau menyesal ketika ciuman itu hanya menyentuh pipiku.
“Iiiiya, bu.” singkatku karena tidak tahu harus menjawab apa. Tapi jauh di dalam lubuk hatiku, aku bertekad untuk melaksanakan pesan dan harapan terhadap anak-anaknya itu. Aku menyayangi mereka, entah sebagai apa, dan aku akan menjalankan titah ibunya untuk menjaga mereka.
“Makasih.” senyumnya begitu indah, penuh bahagia dan binar kasih sayang keibuan.
Aku membalas senyumnya sambil merasakan elusan pada rambutku. Sikap lembutnya membuatku sungguh merasa terenyuh, aku menemukan hadiah teramat besar ketika mendapat kasih sayang Bu Alya.
[POV Cintung: Fiiiiuhhh… Sirna selamat dari bahaya tragedi cinta dalam keluarga ACM. .]
Pikiran mesumku hilang, berganti ketulusan untuk berbakti layaknya pada ibuku sendiri. Aku akan menjaga Callista dan Maya, apapun status kami ke depannya, dan aku tidak boleh menyembunyikan kebohongan dari wanita yang memiliki keluasan hati ini.
“Bu, sebetulnya.. (aku dan Maya sudah putus)
Aku batal mengucapkan kalimat terakhirku ketika suara Callista terdengar memanggil.
“Mamaaaaaah…!!!”
Bu Alya menggeleng mendengarnya, lalu ujarnya, “Kamu lihat sendiri tuh kelakuannya.. persis seperti anak-anak. Tapi asal kamu tahu, ia kembali riang seperti itu, semenjak ia mengenal kamu.”
“Mamaaaaaah…!!!”
Bu Alya pun berdiri dan melangkah menuju tangga, sedangkan aku tetap duduk sambil menahan senyum.
“Iya sayang. Kenapa sih harus pake teriak-teriak segala? Anak gadis gak boleh seperti itu.” jawab Bu Alya sambil berdiri di tepi tangga dan melihat ke bawah. Tak ada jawaban dari Callista, dan kulihat Bu Alya mematung sebentar sebelum akhirnya mengangguk.
“Wa, kita turun yuk.” ajaknya sambil menengok ke arahku.
“Iya, bu.” jawabku sambil berdiri dan mendekatinya.
Kami pun menuruni tangga bersamaan, nampak Callista sedang menggelendot pada lengan Pak Pras, ayahnya, sedangkan Maya tidak terlihat.
Bu Alya lebih dulu mendekati suaminya, dan pria itu mencium kening istrinya. Aku begitu takjub melihat kemesraan itu, sementara Calista mengerling pada ibunya.
“Cemburu ya?” goda Bu Alya.
“Nggak yeee… kan yang boleh meluk papah cuma aku ama si adek.”
“Biarin.. kalian gak tau ajaah.” goda Bu Alya lagi.
Kulihat Pak Pras hanya geleng-geleng melihat tingkah istri dan anak sulungnya itu, lalu sorot matanya berpindah padaku.
“Selamat malam, Pak.” aku menyapanya duluan sambil mengulurkan tangan.
“Hallo, Wa.” jawabnya. Ia menjabat tanganku erat. “Kamu sudah gede ya sekarang,” lanjutnya lagi sambil tersenyum.
“Hehee.. iya, Pak.” jawabku tersipu, aku masih sungkan pada pria ini.
“Kok kamu udah ikutan manggil “pah” sih, Wa?” goda Callista sambil berganti memeluk ibunya.
“Eeeh..“pak”kok, Bu, eh Calls.” aku salah tingkah..
Kubalas tatapan berwibawa Pak Pras sebentar, tapi tak berlangsung lama. Aku segera menunduk karena malu. Kalau hanya ada Bu Alya, aku mungkin akan berani membalas Callista, tapi di hadapan pria ini aku masih ngeper.
“Biasanya kalau ada cowok datang ke sini manggilnya “om”, loh Wa. Ariya aja manggil om. Kamu kok manggil “pah” berarti.. berarti..” ia mengerling penuh arti.
“Caaalls.. aku..” aku semakin gugup.
“Halaaah.. sudah-sudah, jangan kamu dengerin, Wa.” Bu Alya tidak tega melihatku, sedangkan Pak Pras hanya tersenyum melihat ulah anaknya, sekaligus menyaksikan kegugupanku.
“Papah mau mandi dulu atau..?” tanya Bu Alya pada suaminya.
“Mandinya nanti aja, papah mau ngobrol dulu dengan Sirna.”
“Oh yaudah.” jawab Bu Alya. Katanya kepada Callista, “Ayo sayang.. kita bantuin adikmu nyiapin makan malam.”
“Cie.. ciee manggil ‘papah'." Callista masih belum puas menggodaku sambil menjauh.
Pak Pras tersenyum, Bu Alya tertawa, sementara aku hanya mematung salah tingkah.
“Sudah, Wa. Kamu gak usah malu. Tahu sendiri gimana sifat anak-anakku.” Pak Pras menangkap ketidak-nyamananku di hadapannya.
Pak Pras mengajakku menuju sisi lain ruangan, keluar melalui sebuah pintu yang langsung menuju halaman belakang. Kami duduk di tepi kolam renang.
Ia mengeluarkan rokok putih dan menyodorkannya padaku.
“Eh.. Pak Pras merokok?”
“Saya perokok sejak lama, Wa. Ayo ambil.. jangan sungkan..” jawabnya sambil menawarkan kembali rokoknya karena aku masih sungkan untuk menerimanya. Aku sendiri punya, tapi malu kalau mengeluarkan kretek yang kubeli ketengan, apalagi tidak matching dengan zippo yang kukantongi.
“Terima kasih, Pak.” akhirnya aku menyatut sebatang. Kami pun menyalakan dan menghisap rokok masing-masing.
Tak lama kemudian seorang pelayan datang membawakan dua cangkir kopi untuk kami. Dari aromanya, aku langsung hafal asal dan merk kopi ini.
“Wah.. ternyata Pak Pras minum kopi dari desa kami juga.” ujarku sekedar untuk mencairkan suasana.
“Hebat kamu, Wa, dari aromanya saja bisa langsung tahu.”
“Hehee..”
“Makasih, mbak.” kataku pada si eneng yang membawakan kopi. Usianya kira-kira sepantaran denganku.
“Sama-sama, A.” jawabnya, lalu ia berkata pada Pak Pras, “Silakan diminum kopinya, Pak.”
“Makasih, ya Nan. Eh gimana kuliahmu?”
“Baik, Pak. Semester ini saya ngambil 22 SKS, Pak.”
“Oh baguslah.. belajar yang rajin dan jangan kecewakan ibumu. Kalau kamu keberatan oleh pekerjaan rumah karena harus ngerjain tugas, bilang aja ke ibu. Ia pasti mengerti.”
“Terima kasih, Pak. Nggak kok, Pak. Kuliah saya tidak terganggu oleh pekerjaan rumah.”
“Syukurlah kalau begitu. Yasudah sanah lanjutkan pekerjaanmu.”
“Iya, Pak. Saya permisi.”
Aku hanya tertegun menyaksikan percakapan mereka. Gadis ini rupanya bukan hanya pembantu, tapi juga anak kuliahan.
“Namanya Nani, anak Mbok Lasmi.” Pak Pras menjelaskan tanpa kuminta. “Sejak lulus SMA ia bekerja di sini, yaah.. hitung-hitung bantu-bantu ibunya, tapi mulai tahun ini kami mendorong Nani supaya kuliah agar masa depannya bisa lebih baik. Masa ibunya pembantu, anaknya jadi pembantu juga. Hehehe…”
Ketertegunanku berubah kagum setelah mendengar penjelasan Pak Pras. Anggota keluarga ini rupanya berhati mulia yang punya perhatian besar pada orang-orang kecil.
Sambil merokok dan menikmati secangkir kopi, Pak Pras bercerita tentang sejarah keluarganya. Almarhum kedua orangtuanya rupanya sama sepertiku berasal dari desa, tepatnya dari sebuah kampung di daerah Subang. Mereka memulai usaha dari nol sampai akhirnya bisa mendirikan perusahaan yang semakin besar seperti sekarang ini. Latar belakang itulah yang membuat Pak Pras tidak pernah meremehkan orang-orang kecil. Menurutnya, mereka bukan karena tidak mampu, tapi kurang beruntung dan kurang kesempatan.
Layaknya seorang ayah yang bahagia, ia pun membanggakan istri dan kedua putrinya. Merekalah yang menjadi sumber kebahagiaan dan semangat hidupnya dalam menjalankan roda perusahaan. Tanpa mereka, menurut Pak Pras, ia tidak akan pernah menjadi orang sukses. Dan… apapun akan ia lakukan untuk membahagiakan istri dan anak-anaknya.
Aku hanya diam sambil sekali-kali bergumam mendengarkan kisahnya. Dan aku, menurutku, aku adalah orang yang beruntung bisa mengenal keluarga ini. Terngiang kembali pesan Bu Alya untuk menjaga kedua putrinya, masih hangat dalam benakku semua yang Pak Pras ungkapkan, dan aku berjanji untuk tidak menjadi kerikil dalam keluarga ini.
“Kamu sendiri gimana, Wa?”
“Maksud Pak Pras?”
“Ya hidupmu, rencanamu, cita-citamu.”
“Oh.. maaf…”
Aku pun bercerita tentang kegiatanku selama ini yang selain kuliah, juga membantu Kang Narto jualan martabak. Karena ditanya tentang masa depan, aku pun bercerita tentang mimpiku bersama Rad dan Rayxy. Kami ingin agar kampung kami bisa sejajar dengan Sawer, bukan hanya untuk meningkatkan kesejahteraan warga, tetapi juga dalam memelihara warisan budaya yang sudah turun-temurun. Pak Pras hanya manggut-manggut sambil sesekali bertanya di tengah ceritaku.
Ia pun memberi banyak masukan dan nasihat agar aku berjuang dan tahan banting dalam mewujudkan itu semua. Sulit pasti, banyak hambatan sudah tentu, gagal mungkin saja terjadi; tapi bangkit dan memulai lagi itu adalah kunci.
“Mungkin karena itu kali, ya Wa.” gumam Pak Pras setelah beberapa saat kami saling terdiam.
“Karena apa, Pak?”
“Jiwamu itu yang membuat istriku punya feeling kalau kamu bukan pemuda biasa.”
“Maaf, saya tidak mengerti, Pak.”
"Hahaha... saya tuh awalnya heran, istriku begitu antusias bercerita tentangmu ketika secara tidak sengaja kalian ketemu di Cimahi. Bapak malah tidak ingat, ketika ibu menyebut namamu dan kita pernah bertemu ketika kamu lulus SD dulu.” jelas Pak Pras.
“Maya yang manja juga berubah lebih dewasa sejak mengenalmu. Kuliahnya semakin giat dan ia sudah bercita-cita untuk membantu mengurus perusahaan. Padahal sebelumnya beuh.. ia sangat tidak mau.”
“…”
“Dan kakaknya…” Pak Pras menarik nafas sebentar sambil menyalakan kembali rokoknya, “Ia memiliki masa lalu yang pahit. Kami sudah hampir putus asa untuk membuatnya bahagia kembali. Berbagai cara sudah kami lakukan untuk membantu dia agar bisa keluar dari kesedihan dan luka hatinya, tapi selalu saja gagal. Eh.. kebahagian keluarga kami kembali utuh saat tanpa diduga Callista berubah dengan sendirinya. Kata ibu, perubahan itu terjadi semenjak ia mengenalmu.”
“Eh.. bu.. bukan, Pak.” aku gugup. Kesalahan besar kalau muncul anggapan bahwa perubahan Callista terjadi karena aku. Yang ada juga malah sering bertengkar, dan baru belakangan ini saja bisa dekat.
“Ibu pasti salah, Pak. Saya dan Callista.. eh Bu Callista.. malah sering bertengkar kalau di kampus, Pak.” aku menyanggah.
“Hahaha.. sudah Callista saja. Bapak sudah tahu kok.”
“Eeeh…”
“Kalau ada apa-apa, mereka tidak pernah menyembunyikannya dari kami. Kalau gak curhat sama mamahnya, ya cerita ke saya. Yaaah.. begitulah, Wa. Kami mungkin terlalu menyayangi dan memanjakan mereka sejak kecil, akibatnya sikap mereka masih sering seperti anak-anak. Tapi syukurlah itu hanya terjadi di depan kami, di luar rumah, mereka tetap tumbuh seperti anak-anak gadis pada umumnya.”
“Iiiya, Pak.”
“Apapun katamu, saya berterima kasih karena kamu telah mengembalikan kebahagian anak-anak kami, khususnya Callista. Tap kata ibu, kamu pacaran dengan Maya?”
Jleeeeebbb!!!
Berarti Pak Pras salah, Callista dan Maya tidak selalu menceritakan pengalaman mereka pada ayah dan ibunya. Buktinya, baik Bu Alya maupun Pak Pras belum tahu kalau hubungan kami sudah berakhir.
“Mmmaaf, Pak.”
“Loh kok malah minta maaf, Wa? Kalau saya, melihat anak-anak saya bahagia itu sudah cukup. Banyak cowok yang mendekati mereka, tapi hanya tertarik pada kecantikan mereka dan pada harta yang kami punya. Felling saya.. kamu adalah pemuda yang bisa dipercaya.”
[Rayxy says: “Apaan, Pak? Jangan mudah percaya dulu.. tuh isi kolornya udah jebolin istri orang. Jagain istri bapak tuh.”]
“Eh.. Pak.. maaf… Saya mah tidak sebaik yang Pak Pras pikirkan. Dan.. dan.. saya dan Maya sudah pu…”
Praaaaang!!!
Terdengar jeritan histeris Callista disusul bunyi nampan atau sejenisnya yang dibanting sangat keras. Aku dan Pak Pras terperanjat, dan kami pun berlari ke dalam rumah.
Nampak Callista dan Maya sedang menangis sambil mengelilingi ibunya. Bu Alya sendiri menangis sambil duduk di atas kursi. Banyak orang yang berkumpul dengan wajah bingung dan panik, para pembantu keluarga Pak Pras dan Bu Alya nampaknya sudah berkumpul semua. Sementara di atas lantai, tergeletak nampan alumunium yang sudah penyok.
“Ini ada apa, Bu? Sayang kalian kenapa?” ujar Pak Pras sambil tersengal.
“Dia pah!!!” tiba-tiba Callista menunjukku. Matanya nampak merah di balik derai air matanya. Nafasnya tersengal karena amarah. Hal serupa terjadi dengan Maya. Ia memang menangis, tapi baru kali ini aku melihatnya begitu marah dan bengis. Pancaran kebencian langsung menggetarkan jiwaku.
“Tega kamu, Wa!!! Hiks hiks…!!!” hardik Maya.
“Sebentar.. sebentar.. papah gak ngerti, tolong kalian jelaskan!” ucap Pak Pras.
“Mah??” ia menghampiri istrinya dan berusaha memeluknya, tapi Bu Alya meronta, tangisnya semakin keras.
Dan.. semua mata tiba-tiba menatap tajam ke arahku, tak terkecuali para pegawai yang ada. Telapak tanganku tiba-tiba terasa dingin, dan jantungku berdetak kencang.
“Calls.. May…” hanya itu yang bisa kuucapkan, sisanya aku tidak punya lagi keberanian karena melihat kemarahan mereka.
“Sirna Pah.. Sirna.. Hiks… Pergi kamu!!!” bentak Maya.
“Sirna udah menggoda mamah, Pah!!! Hiks…”
Duaaaaaar!!!!!!
“Ia menodai mamah!!!” sambung Callista.
“Mencium mamah!!!” tambah Maya.
“Memaksa memeluk mamah waktu tadi mereka berdua di atas!!!”
Semua kata-kata mereka bagai tikaman pisau tajam, bahkan saking kaget dan takutnya aku tak mampu membela diri sedikit pun.
“Ini semua benar, Mah?” tanya Pak Pras dengan bibir bergetar. Sikapnya yang penuh wibawa kini berubah penuh amarah.
“Hiks hiks… hiiiikksssss….” tangisan Bu Alya semakin keras.
Itu sudah cukup bagi Pak Pras sebagai jawaban.
Siaaal!!!! Semuanya telah diputar balikkan, aku benar-benar difitnah. Tapi aku seakan tidak punya daya untuk melawan atau setidaknya membela diri. Aku hanya bisa mematung dengan keringat dingin mulai mengucur. Wajahku mungkin sudah pucat.
Dengan geram, Pak Pras berbalik ke arahku, matanya melotot dan kedua tangan terkepal. Bagai tersirep, aku hanya bisa mematung tanpa mampu menggerakan badan.
Srrrrttttt!!!
Pak Pras mengayunkan tangannya. Seketika aku memejamkan mata, siap menerima pukulan pria yang kusegani ini. Aku sudah benar-benar tidak berdaya, meski harga diriku merasa diinjak-injak menerima semua tuduhan ini.
Tik…!
Keringat semakin merembes pada pelipisku.
Tok…!
Meleleh…
Tik…!
Punggungku basah…
Tok…!
Nafasku tersengal.
Tik tok tik tok!!!
Pukulan yang kutunggu pun tak pula kunjung menghujam. Aku hanya bisa menunggu dan menunggu tanpa berani membuka mata. Kukuatkan hati untuk tidak melawan, apapun yang akan terjadi. Aku siap menerima segala caci maki dan pukulan, aku siap jika aku menjadi pusat kebencian seluruh keluarga besar P-ACM, meskipun semua yang dituduhkan tidaklah benar. Aku memilih dibenci, daripada menjelaskan dan membela diri. Aku mencintai dan mengagumi mereka semua, walaupun itu semua harus ternoda dengan fitnah yang tiba-tiba saja mereka lontarkan.
Pikiranku terlalu berkecamuk, sampai-sampai tidak sadar kalau sudah tidak terdengar lagi tangisan. Pukulan Pak Pras yang kutunggu pun tak kunjung menghantam. Yang terjadi malah…
Cuuuuppp!!!
Sebuah ciuman mendarat pada pipi kiriku.
Cuuuuppp!!!
Pada pipi kananku.
Aku cukup mengenal ciuman ini, ciuman dari orang yang berbeda.
Kubuka mataku sambil menahan nafas, wajah manis dua gadis begitu dekat di samping kiri-kananku. Senyumnya terulas indah meski ada bekas air mata di sana. Di depanku, Bu Alya dan Pak Pras saling memeluk memandangku. Dan yang membuatku bingung… sebuah tart dengan lilin menyala sudah berada di hadapan mukaku, dipegangi oleh Maya dan Callista.
“Selamat Ulang Tahun…”
Semua orang bernyanyi, semua orang tepuk tangan. Aku hanya bengong sambil menatap Callista dan Maya bergantian, juga Pak Pras dan Bu Alya. Semua orang bernyanyi riang dan semua mata tertuju kepadaku.
“Eh… ini… knnnapa…” aku kebingungan sendiri.
“Bukankah dia yang ulang tahun, tapi kenapa tart-nya diberikan kepadaku?” untuk menanyakan ini pun aku tidak bisa.
“May?” yang ditatap malah semakin mengeraskan nyanyiannya.
“Calls?” sama saja, ia malah kembali mencium pipiku.
“Pak, Bu?” aku memelas, keduanya menjawab dengan tawa gembira.
“Tiup lilinnya.. tiup lilinnya…” nyanyian pun berganti.
“Tiup, Wa.” ujar Maya sambil tersenyum memandangku yang masih terpaku.
“Haiiiissssh!!!” Maya berubah kesal melihat muka bloon-ku, yang tak juga meniup lilin.
Dengan cepat ia mengambil dompet dari dalam saku celana-belakang dan mengeluarkan KTP-ku.
“Kupret!! Kunyuuuk!! Rad kampret!!! Rayxy bajindut!!! Lia seksi!!! Nuuur bohay!!! Bu Ratih mengkal!!!! Ceu Ningrum mesum!!!!” Aku memaki dalam hati saat melihat tanggalan pada KTP.
“Ingat??” tanya Maya.
Aku pun hanya tersenyum kecut. Jangankan merayakan ulang tahun, ingat pun tidak. Ya.. hari ini adalah ulang tahunku yang ke-20, sekaligus perayaan pertama seumur hidupku. Kini aku mengerti, semua tangisan dan tuduhan itu hanyalah sandiwara semata.
Setelah disuruh Maya sekali lagi, aku pun meniup lilin disertai tepuk tangan meriah. Kemudian, aku pun diminta untuk memotong kue dengan pisau yang disodorkan oleh Bu Alya. Sebelumnya Maya menjelaskan bahwa potongan pertama harus diberikan kepada orang yang paling spesial. Sebuah keharusan, tapi sulit bagiku untuk memilih. Nanyian terhenti, semua mata memandang, menanti kepada siapa potongan kue ini akan kuberikan.
Kulirik Maya senyumnya mengembang, dan sorot mata itu masih membinarkan rasa sayang. Kutoleh Callista senyumnya manis penuh harap. Kupandang Pak Pras dan Bu Alya yang tersenyum bahagia.
Fiiiiuuuhh!!!
“Kue ini akan kuberikan kepada…”
Kembali kutatap semua orang yang ada dalam ruangan ini satu per satu. Wajah mereka berubah tegang.
“…Mbok Lasmi, karena hari ini si mbok juga ulang tahun.” aku mendekati wanita itu.
Nafas lega terhembus, meski kutahu ada binar kecewa dalam wajah Maya dan Callista.
“Mbok…” aku menyodorkannya, wanita ini tiba-tiba berkaca-kaca.
Ia menerima kue dari tanganku tanpa bisa menjawab. Lalu kuambil potongan kecil dengan sendok plastik dan menyuapinya.
“Selamat ulang tahun untuk Mbok juga.” ucapku sambil mencium pipi kiri dan kanan.
“Makasih, Nak. Hiks…”
“Wawa iiih… merusak acara aja. Huh…!!!” gerutu kesal Callista.
“Heh??” aku menengok, nampak gadis itu merengut, pun pula Maya.
Berbeda dengan anaknya, Pak Pras dan Bu Alya malah terbahak, pun pula yang lain pada menahan tawa.
“Kasian deh kalian.” gumam Bu Alya.
Aku mengernyit sambil kembali menatap Maya dan Callista.
“Rusak.. rusak.. rusaaak…!!!” gerutu Callista.
“Naniiiii.” Maya memanggil gadis itu. Aku baru sadar kalau dari tadi ia tidak ada di ruangan ini.
“Selamat Ulang Tahun…” nyanyian yang sama kembali dilagukan seiring munculnya Nani yang membawa kue dengan lilin menyala.
Kali ini ucapan selamat ditujukan kepada Bu Lasmi. Wanita itu bukan hanya terisak, tapi sudah segukan sambil menutup kedua mulutnya. Kali ini aku mengerti, kenapa Maya dan Callista kesal. Ucapan selamat ulang tahunku sambil memberi potongan kue pertama kepada Mbok Lasmi, membuat surprise yang sudah mereka berdua siapkan menjadi berantakan.
Suasana bahagia dan haru bercampur menjadi satu ketika menyaksikan tangis Bu Lasmi. Wanita itu melakukan upacara yang sama seperti yang tadi kulakukan, bedanya kali ditandai linangan air mata. Bu Lasmi menyuapkan kue pertamanya pada Nani, lalu ibu dan anak itu berpelukan sambil menangis. Kemudian Bu Lasmi menghampri Maya dan Callista yang masih mengapitku. Ia pertama-tama menyuapi Callista, lalu Maya, dan terakhir ia menyuapiku juga. Kedua kakak beradik itu mencium pipi Bu Lasmi dan memeluknya bergantian. Sikap mereka bukan seperti hubungan antara anak-tuan dengan pembantunya, melainkan lebih seperti hubungan antara seorang ibu dan anak-anaknya.
Lalu aku mendekati Pak Pras dan Bu Alya.
“Pak, terima kasih banyak.” ucapku dengan penuh rasa haru, kuambil dan kucium tangannya.
“Bu..” kali ini pada Bu Alya dan melakukan hal yang sama. Bu Alya malah menarik kepalaku dan mencium keningku.
“Calls… makasih banyak.” kusodorkan tanganku, tapi ia mengabaikan uluran tanganku, ia malah menghambur memelukku. Kubalas pelukannya walaupun merasa rikuh, juga tidak enak hati pada Maya yang memperhatikan kami berdua. Pelukan ini teramat erat, dan aku bisa merasakan ada sesuatu yang Callista ungkapkan dalam diamnya. Hatiku berdesir hangat.
Akhirnya Callista mau melepaskan pelukannya. Aku berbalik ke arah Maya. Sorot mata kami beradu. Senyum sama-sama kami bagikan. Aku begitu terenyuh melihat tatapannya, sebuah binar yang menyimpan rasa sayang yang besar.
Bukan Maya yang memelukku, tapi aku sendiri yang meraih tubuhnya. Kami pun berpelukan erat. “Makasih, May. Ini adalah pertama kalinya aku merayakan ulang tahun.” aku berbisik.
“Love you, Wa.” ia balas membisik.
Mataku terasa panas mendengar ungkapan jujur dan tulus gadis ini. Untung tidak ada yang terlalu memperhatikan kami berdua, karena mereka sibuk menyalami Mbok Lasmi yang masih terisak. Ingin aku menjawab dengan kalimat yang sama, tapi sebisa mungkin menahan diri.
Kudekap tubuhnya dengan erat, lalu kukecup ubun-ubunnya. Semua rasa kusampaikan dalam diamku.
“Cengeng.” gumam Maya sesaat setelah pelukan ini terlepas. Ia mengusap ujung mataku yang rupanya sudah berlinang.
Ingin aku memeluknya kembali, tapi urung karena para pegawai keluarga Bu Alya mengantri untuk menyalamiku.
“Selamat, ya nak.” Pak Karta menyalamiku.
“Makasih, Pak.” jawabku.
Fokusku pada Maya teralihkan, dan rasa haruku bisa kusembunyikan ketika menerima ucapan selamat dari semua pegawai dari keluarga P-ACM.
Usai bersalaman, kami pindah menuju ruang makan untuk makan malam bersama. Sangat indah.. ketika majikan dan para pegawai duduk makan sehidangan. Melingkar di sekitar meja panjang yang sudah disusun dan diberi meja tambahan. Berbagai hidangan pun tersaji.
Semuanya saling akrab tanpa kehilangan rasa hormat pada sang empunya rumah. Dan aku.. bagai raja yang harus menuruti dan menerima apa saja yang Callista dan Maya suapkan. Awalnya aku malu, tapi lama-lama terbiasa juga. Apalagi tak ada ekspresi keberatan dari Pak Pras dan Bu Alya.
Tiba-tiba Maya dan Callista cekikan di sela makan, lalu terbahak-bahak tanpa kontrol.
“Sayang ah.. gak baik anak gadis tertawa kayak gitu.” tegur Bu Alya.
Bukannya mendengar, mereka malah semakin lepas tertawa sampai-sampai berderai air mata. Callista tertawa sambil memegangi perutnya sendiri, Maya terbahak sambil memukuli bahuku. Para pegawai Bu Alya ikut tertawa karena melihat dua orang yang tertawa, tanpa tahu apa yang sedang mereka tertawakan.
“Wawa tadi lucu bangeeeeet.” gelak Callista.
“Ehh…” aku tersipu saat sadar bahwa mereka sedang menertawakan sikapku tadi.
Mendengar itu, semua orang tertawa lepas. Bahkan Bu Alya memeluk suaminya sambil berderai air mata menahan kelucuan. Mbok Lasmi dan Nani berpelukan dengan tubuh terguncang.
“Kalian apaan sih!!” omelku sambil senyam-senyum antara malu dan geli sendiri.
“Ibu kok bisa sih nangis beneran seperti itu?” tanyaku kepada Bu Alya.
“Kan Callista dan Maya yang ngajarin.” jawab Bu Alya dengan tubuh terguncang dalam pelukan Pak Pras.
“Ibu dan anak sama saja.” omelku tanpa sadar.
“Apa, Wa?? Kurang ajar kamu!!!” hardik Pak Pras.
“Eh.. mmm…”
Dan tawa pun semakin pecah.
Arrrrrrrhhhh.... aku bahagia. "Andai saja ibu ada disini, bu." tiba-tiba aku teringat ibuku di kampung. Kebahagiaan ini akan menjadi sempurna seandainya ia ada di sini. Kuingat juga para sahabatku, Rad, Rayxy, Nur, dan Lia.
“Kamu kenapa, Wa?” adalah Maya yang paling peka pada perubahanku.
“Hehehe.. gak apa-apa. Aku seneng aja. Makasih untuk semuanya.” jawabku.
“Inget ibu?” Callista tak kalah peka.
Kedua gadis ini memeluk tangan kiri dan kananku ketika aku tak menjawab pertanyaan Callista.
“Sudah-sudah.. gak usah sedih, Wa. Kalau libur kan kamu masih bisa pulang untuk berjumpa ibumu. Doakan saja supaya ibumu tetap sehat dan baik-baik saja di sana. Ayo kita lanjutkan makan.” ujar Bu Alya.
“Iya, bu.” jawabku.
Kami pun melanjutkan makan, sementara Maya beranjak meninggalkan ruangan. Entah mau kemana, karena tanpa pamitan.
“Ngomong-ngomong, kok usiamu sudah dua puluh tahun, sih Wa? Bukannya kamu baru lulus SMA dan masuk kuliah?” tanya Pak Pras.
“Papah gimana sih? Sirna kan lulus SMA-nya barengan ama Maya.” potong Bu Alya.
“Loh.. kok baru kuliah sekarang?”
“Hehehe.. lulus SMA saya nganggur dulu setahun di kampung, Pak. Jadi tidak langsung kuliah.” aku menjelaskan. Lalu lanjutku, “Lagian dulu saya masuk SDnya terlambat, saya baru masuk sekolah ketika berumur tujuh tahun lebih.”
“Oke.. oke.. sekarang saya mengerti.” ujar Pak Pras.
Obrolan sedikit beralih kepada Mbok Lasmi yang masih haru. Sementara aku fokus pada Callista yang hanya diam saja tanpa melanjutkan makan.
“Ayo lanjutin makannya.” ucapku pada Callista yang malah menumpangkan kepalanya pada bahuku.
“Suapiiin!!”
“Ehh…”
Aku salah tingkah mendengar permintaannya. Bukan aku tidak mau, tapi aku tidak enak pada Pak Pras dan Bu Alya, juga kepada para pegawai mereka.
“Sudah sayang.. kasian Sirnanya.. biar ia makan dulu.” Bu Alya mengerti akan apa yang kurasakan.
“Pengen disuapin mamaaah.”
“Hadeuuuh.. sini mamah aja yang suapin.”
Callista pun menegakkan duduknya dan menerima suapan Bu Alya. Baru juga satu suapan, tiba-tiba ada suara yang menyapa kami.
“Selamat malam semua. Maaf om, tante, kami terlambat. Tadi kami harus nungguin Rayxy nganterin orderan dulu.”
“Lia? Kok bisa??” kagetku.
Aku pun berdiri menyambutnya, dan yang mengagetkan adalah orang-orang yang datang bersamanya. Nur, Rad, dan Rayxy ikut serta. Tadi rupanya Maya membukakan gerbang untuk mereka.
Kehadiran mereka disambut ramah oleh Pak Pras, Bu Alya dan yang lainnya.
“Makasih ya.” ucapku pada Lia yang menyalamiku dan saling cipika-cipiki.
“Nur..!!” kulakukan hal yang sama. Bukan hanya menempelkan pipi, gadis ini malah menciumku dengan bibirnya, membuat Bu Callista sedikit terbelalak.
“Rad..!!” kami berpelukan.
“Ray..!!” sambil menerima pelukannya.
“Nyet.. ngapain kamu ke sini?? Kang Narto dibantu siapa?” bisikku.
“Jualan bisa setiap hari, Wa. Tapi ulang tahun mah cuma setahun sekali, jadi aku milih yang setahun sekali.”
“Kupret!!!”
“Sirna!!” Maya yang paling dekat dengan kami mendengar bisikan-bisikan yang aku dan Rayxy ucapkan.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar