PETUALANGAN BIRAHI PART 3

 

MALAM PERTAMA

Akhirnya aku tiba dirumah dinas baruku. Tidak terlalu besar, tipe 36 dengan dua kamar , satu dapur mini, dan kamar mandi kecil, namun bersih lengkap dengan shower dan penampungan air. Bagian dalam rumah sudah dicat seperti rumah komersil sebelum perang. Tidak seperti rumah dinas kelas pekerja yang berlantai semen dan berdinding batako. Sebelumnya kami sudah membeli Pizza Home Pizz yang terkenal itu dan gadis-gadis terkejut kami akan makan malam semewah ini. Tania dan Shahira bahkan belum pernah makan pizza seumur hidupnya jadi aku sengaja membeli pizza Keju ukuran besar dua kotak. Tidak banyak yang bisa makan pizza jadi mereka patut bersyukur karena hanya Warga dengan kasta yang tinggi yang hanya dapat makan makanan seperti ini.

“ Sayang, aku siapin piring ya buat kita.” Sapa Ria dengan Sopan.

“Ah jangan sayang aku aja yang ambil, kamu pasti capek. Kamu duduk aja ... “ Sahutku dengan manja. Saat aku berdiri, Lola dan Tania juga ikut berdiri.

“aku temenin ya sayang, aku bantu ambil gelas buat kita minum” Ucap Lola genit

“ Sayang kamu udah duduk aja. Yang ambil piring, kamu duduk manis disini. Okay?” Bisik Tania malu-malu.Lola dan Tania lalu kedapur untuk mengambil gelas. Aku melirik Ria dan kerena tak sabar, kucium pipinya dengan gemas. Ia tersenyum malu lalu ikut mencium pipiku. Ya Tuhan, jadi seperti kah hidup dengan istri empat? Luar biasa! Sementara Shahira begitu mengagumi rumahku yang baginya seperti Istana. Maklum , rumah shahira terbuat dari kayu dan tidak ada satupun perabotan mewah kecuali TV dan Smartphone sebelum perang. dengan histeris. Aku dan Ria tertawa geli mendengarnya. Tak lama kemudian Lola dan Tania kembali ke ruang tengah dan kami makan pizza bersama-sama sambil menonton film Drama Percintaan.

“ sayang makasih ya Pizzanya. Enak banget. Itu bibirnya dibersihin dulu , celemotan” Sehabis berbisik manja, Tania lalu membersihkan bibirku yang penuh saus dengan tisu. Ia sepertinya tidak malu lagi. Para gadis-gadis sepertinya sengaja menarik perhatian agar aku betah tinggal bersama mereka. Hidup tersiksa tentu saja bukan piknik yang menyenangkan. Tentu saja wanita akan melakukan segalanya demi memperbaiki hidupnya.

“ Kamu juga bibirnya kotor, sini aku bersihin” Aku lalu membersihkan bibirnya dan ia tersenyum malu. Lola dan Shahira menggoda kami dengan teriakan “CIEEEE!” sementara Ria hanya tertawa cantik. Rasanya tak percaya aku bisa memiliki gadis secantik, semanis dan sesempurna mereka. Aku mulai merasa usahaku berperang demi negara mulai terbayarkan. TERIMA KASIH PAK PRESIDEN!!

Makan malam akhirnya usai. Walaupun pizzanya sangat lezat, ternyata gadis-gadis tidak makan banyak. Ria hanya makan setengah pizza, Lola makan seperempat, Shahira makan satu, dan Tania hanya makan sepertiga. Agenda selanjutnya adalah gila-gilaan. Lola dan Tania ke dapur untuk menyuci piring sementara aku mulai meraba paha Ria dan Shahira. Ria dengan beraninya meremas – remas batang penisku seraya berbisik.

“Sayang , aku mandiin dulu yuk, biar wangi . Dedeknya juga aku mandiin lho...... “ bisiknya nakal. Nafsu birahiku langsung naik ke ubun-ubun. Badanku memang mulai bau karena aku memang belum mandi. Ria akhirnya memandikanku karena aku tahu ia lebih “berpengalaman” .

Ria lalu mengambil handuk dari kamarku , lalu ia pun menanggalkan pakaianku didepan Lola , Tania dan Shahira. Ia ikut melepaskan pakaiannya , melilit tubuhnya dengan handuk , lalu kami berdua masuk ke kamar mandi. Kami berdua lalu melepas handuk kami , dan mengacungnya penisku di depan matanya. Ria melirik penisku gemas . Tubuhnya sendiri masih sangat menggoda. Payudara mungil namun masih kencang , Vagina yang masih lumayan rapat , dan kulitnya pun masih terbilang bersih meski ia bilang ia sudah tidak pernah perawatan. Karena nafsu , kupeluk dia erat-erat sehingga penisku bergesekan dan menempel erat di perut langsingnya. Mmhhhh rasanya nikmat sekali. Buah dada mungilnya menempel di dadaku dan ia pun mulai nafsu. Kulumat bibirnya dengan nafsu dan ia pun membalas dengan melumat gemas bibir atasku. Nafasku terengah-engah. Kami bercumbu mesra , saling melumat-lumat satu sama lain, dan Ria sengaja menggoyang-goyang perutnya yang sedang menghimpit perutku. Kami bercumbu cukup lama sampai ia melepas ciumannya dan berbisik “ Ayuk kita mandi dulu...”




Ria lalu menghidupkan Shower dan menyalakan air panas. Ia menyiramkan air ke tangannya terlebih dahulu dan ketika panas , barulah ia membasuh tubuhku dengan air. Ia sengaja sedikit mendesah nakal demi memancing birahiku. Ia mengaku senang melihat wajahku yang kelihatan betul sedang birahi berat. Ia mulai menyabuni tubuhku lalu menyiramkan dengan air. Jemarinya akhirnya tiba di penisku yang sudah merah menegang , dan ia tersenyum nakal ketika aku mendesah saat jemarinya mengusap-usap penisku.




Sambil tertawa nakal, jemarinya mulai mengocok-ngocok penisku dengan sabun. Dengan tempo yang teratur , jemarinya mengusap-usap dan melintir-litir kepala penisku terlebih dahulu, lalu kemudian turun dan mengocok batang penisku. Desahannya membuat sensasi kocokannya makin luar biasa. Wajahku memerah , dengkulku mulai bergetar-getar dan aku tak kuasa menahan desahanku.




Jemari Ria terus mengocok-ngocok batang penisku dan sesekali melintir-lintir di kepala penisku. Kami kembali bercumbu dan kali ini cumbuannya makin nakal , liar dan bergairah. Kocokannya makin kencang dan kencang , seiring kecupan bibirku yang makin nafsu. Suaranya bahkan terdengar keras. Lola dan Tania yang penasaran bahkan mengintip perbuatan nakal kami dengan wajah memerah. Aku makin tak kuat menahan guncangan lur biasa nikmat yang ia berikan , dan akhirnya penisku memuncrat di tangannya selagi aku masih mengecup bibirnya. Ia terus mengocok penisku sampai tidak ada lagi air mani yang memuncrat keluar. Kocokannya membuat penisku terasa agak ngilu , namun nikmat dan aku ingin ia melakukannya lagi dan lagi.




“ gak nyesel kan sayang udah bawa pulang aku “ bisiknya nakal. Ria lalu kembali memandikanku dan kami pun keluar hanya dengan mengenakan handuk. Shahiri lalu ikut masuk ke kamarku , sedangkan Lola dan Tania dengan malu-malu melirik dari luar pintu kamar.


“ aku mandi dulu ya Sayang, biar ikutin wangi “ Ucap Shahira sambil mengambil handuk dari kamarku. Ria memijitiku yang masih mengenakan handuk sementara Lola dan Tania mengusap tubuh dengan handuk , mengeringkan tubuhku yang masih basah setelah mandi. Lola lalu membersihkan kakiku , sedangkan tania mengeringkan rambutku dengan handuk. Tania menyemprot tubuhku dengan wangi-wangian murah agar tubuhku agar aroma tubuhku tercium wangi. Di manjakan tiga gadis cantik , birahiku bangkit dan penisku pun mulai berdiri dari balik handuk.




Lola dan Tania memandang malu kepada penisku yang melendung dari balik handuk. Ria hanya tersenyum. Aku mulai membelai rambut Tania dan Lola , lalu mencium pipi mereka satu persatu. Pipi mereka memerah karena malu. Ria mengambil inisiatif untuk membuka handukku sehingga berkibarlah penisku di depan mata kedua gadis cantik dan masih lugu itu.




Tania terlihat sangat gugup dan deg-deg’an. Lola juga terlihat begitu. Mereka takut karena ini pertama kalinya mereka melihat Titit laki-laki dan mereka mungkin mengira kehilangan perawan itu sangatlah perih dan sakit. Sadar kedua gadis kesayanganku sedang ketakutan, kurangkul mereka berdua lalu kulumat bibir mereka secara bergantian. Kulumat bibir Tania lebih dahulu yang duduk di sebelah kanan, lalu aku melumat bibir Lola yang duduk di sebelah kiri. Kulumat pelan dan penuh kasih sayang karena itu adalah ciuman pertama mereka. Sementara di bawah sana , Ria mulai memainkan lidahnya di buah zakarku.




Aku mencumbu Tania dan Lola secara bergantian sampai mereka mulai bisa mengikuti irama permainanku. Wajah Tania menerah dan tubuhnya sangat gemetar. Kutuntun kedua lengannya agar ia memelukku dengan santai , sambil mencumbu bibirnya dan menikmati jilatan lidah Ria di kepala penisku. Aku melakukan hal yang pada Lola dan mereka pun mulai memelukku dengan santai. Sementara di bawah sana , Ria mulai mengulum penisku. Nikmat sekali , mencumbu dua perawan cantik sambil menikmati kuluman dahsyat dari bidadari sexy. Bibirku terus mencumbu dan melumat bibir Lola dan Tania , sampai Lola melepas ciumannya dan menyandarkan kepalanya di dadaku, Tania juga melakukan hal yang sama. Kupeluk mereka berdua lalu kuusap-usap Kepala mereka, sedangkan Ria mulai mempercepat tempo Kulumannya . Shahira lalu datang hanya dengan mengenakan handuk. Dan ketika ia melihat kami berempat sedang bercinta tanpa ragu-ragu, ia melepas handuknya sehingga terpampanglah buah dadanya yang padat besar dan menggoda , serta vaginanya yang masih perawan.




Shahira lalu ikut duduk disamping Ria yang masih asik mengulum penisku. Ria lalu menghentikan kulumannya dan melepas penisku dari mulutnya. Sambil mengocok-ngocok pelan tititku , ia lalu menyodorkan penis merahku kepada Shahira. Shahira lalu melumat kepala penisku pelan-pelan lalu mulai menelan dan mengulum penisku. Bibirnya naik turun memompa penisku dan sesekali melumat kepala penisku. Mulanya , penisku masih mengenai giginya namun lama kelamaan kulumannya sangat mulus dan nikmat. Aku berdesis keenakan dan masih memeluk Lola dan Tania. Shahira tiba-tiba menghentikan kulumannya dan menyodorkan penisku kepada Ria. Mereka berdua lalu bergantian mengulum dan mencumbu penisku , membuatku makin meriang keenakan.




Lola dan Tania tiba-tiba melihatku dengan tatapan yang berbeda. Mereka berdua tiba-tiba mendekatkan bibir mereka kepada bibirku , dan mencumbu bibirku secara bersamaan. Mereka berdua lalu mulai menghisap dan melumat bibirku secara bersamaan. Kami bertiga bercumbu liar sedangkan dibawah sana , Ria dan Shahira bergantian mengulum penisku. Mereka bergantian memompa penisku naik turun. Kadang mereka menghentikan kuluman mereka lalu mencumbu dan menjilati bibirku secara bersamaan. Kemudian mereka kembali mengulum batang kemaluanku secara bergantian. Tak kuat meladeni permainan liar ke empat gadis ini, penisku berkedut hebat , tubuhku gemetar dan akhirnya penisku meledak memuncratkan air mani sebanyak-banyak.




Air maniku menyemprot dan mendarat di wajah dan di buah dada Shahira. Ia berteriak histeris. Semenara Lola dan Tania masih mencumbu bibirku dengan nafas mereka yang terengah-engah. Ria segera melumat penisku dan menelan sisa-sia sperma yang masih memuncrat dari penisku. Ia menelan nyaris semua air mani yang memuncrat deras. Lidahnya membersihkan air mani yang menempel di penisku sehingga kemaluanku kembali bersih. Ia terus mengulum penisku sampai penisku mulai mengecil di bibirnya yang sexy . Shahira justru sibuk membersihkan air mani yang menempel ditubuhnya. Lola dan Tania lalu menghentikan ciumannya dan memelukku dengan manja. Tania berbisik jika ia sangat menikmati ciuman pertamanya dan tidak akan melupakannya.




Permainan kami tidak hanya sampai disana saja. Kini giliran Shahira dan Ria yang bergantian menciumku , sementara Lola dan Tania memelukku dari belakang. Jemariku malah asik meremas-meremas dan sesekali memelintir puting Shahira. Aku paling senang ketika ia mendesah. Tania lalu mengambil inisiatif nakal dengan melumat dan mencumbu leherku. Lola kemudian ikut berexperimen dengan mencoba melumat leherku dengan bibir manisnya. Mereka sengaja memancing birahiku agar segera bangkit. Dicumbu empat gadis cantik memang luar biasa . Penisku kembali ngaceng dan menggesek selengkangan Shahira yang sedang menghimpit penisku.




“ mmmmhhhh oohh “ Shahira melolong nikmat. Lola dan Tania mendorong tubuhku sehingga aku terbaring di atas kasurku. Keduanya lalu bergantian mencumbu bibirku sementara di bawah sana , Ria membimbing Shahira untuk duduk diatas penisku. Shahira lalu duduk diatas penis tegangku sehingga vagina beceknya mulai menggesek penisku. Kedua kemaluan kami lalu saling bergesekan. Sambil menikmati cumbuan Lola dan Tania , kupegang penisku dan dengan bantuan Ria , kutusukkan penisku ke dalam Vagina Shahira.


“ Ahhhhhhhhh “ wajahnya memerah dan ia melolong keras. Penisku seolah diperas karena vagina Shahira ternyata masih teramat sangat sempit. Darah segar mengucur ketika penisku mengoyak keperawanannya. Pinggulku mulai bergoyang menggenjot Shahira dari bawah.


“ plok plok plok plok” begitulah bunyi tepukan kedua selangkangan kami. Ria mendesah memancing birahiku. Kedua tanganku merangkul Lola dan Tania. Kedua gadis itu kemudian terbaring di kasur dan jatuh kedalam pelukanku. Mereka mencumbu leherku sementara pinggulku menggenjot vagina Shahira dengan kecepatan penuh.


“ Ohhhh kak Eko Sayang ahh ahh pelan... pelan.... “ Shahira makin tak kuat ketika aku menggenjotnya dengan kecepatan penuh. Suara tepukan selangkangan kami membuat Lola dan Tania terangsang . Keduanya masih mencumbu leherku, sedangkan jemariku sudah asik mengobok-ngobok Vagina Ria . Ria dan Shahira makin mendesah-desah keenakan. Wajah Shahira memerah dan buah dadanya bergoyang-goyang akibat guncangan penisku. Ia tiba-tiba lemas , lalu memohon ampun karena ia sudah tidak kuat.


“ hh mmhh ngghhh sayang.... aku gak kuat .... mmmhh mmhhh” begitulah bisiknya. Aku melepas penisku dari vaginanya dan Shahira segera terbaring lemas di sampingku. Aku kembali duduk dan Ria langsung duduk diatas selangkanganku. Lola dan Tania juga ikut duduk, dan mereka hanya pesrah ketika jemariku mulai menanggalkan pakaian mereka. Buah dada mereka sangat mungil bahkan milik Lola malah nyaris rata . Aku memeluk mereka berdua sementara pinggul Ria sudah mulai menggoyang penisku.




Ria mengalungkan kedua tangannya di leherku . Pinggulnya menggenjot-genjot penisku dengan kecepatan penuh. Bibirnya pun melumat bibirku dan ciumannya ternyata lebih liar dan lebih nikmat dari lumatan Lola dan Tania . Sementara jemariku asik membelai dan mengusap-usap vagina perawan Lola dan Tania.




“ Plok plok plok plok” “ Ahhh Ahhh Ahhh” suara tepukan selangakangan dan desaha ketiga gadis ini mewarnai indahnya malam pertama kami. Meskipun sudah tidak perawan lagi , goyangan pinggul Ria ternyata lebih nikmat dan lebih aduhai dari Shahira. Sementara Lola dan Tania makin mendesah menikmati belaian jemariku. Ditengah permainan dahsyat itu , Lola tiba-tiba melolong keras dan tiba-tiba orgasme deras. Ia mencapai puncak kenikmatanya dan jatuh kepelukanku. Tania makin menjepit jemariku dengan kedua pahanya. Genjotan vagina Ria lalu makin mengencang dan mengencang. Penisku menjadi merah tegang dan mulai berkedut . Ria pun sangat menikmati permainan kami. Digoyang model porno memang luar biasa nikmatnya. Penisku makin berkedut hebat dan akhirnya memuncrat di dalam vaginanya.




“ mmmhhh yahhh yaahh keluarin semua sayang yaaaahhh “ Ria sampai terpejam menikmati hangatnya siraman air maniku. Tania yang melihatnya bahkan sampai mengejang dan akhirnya mencapai puncak kenikmatannya. Kami bertiga lalu berpelukan dan berguling di atas kasur. Malam pertama yang luar biasa. Shahira yang melihatnya tertawa lemas. Penisku masih menancap di vagina Ria dan ia membiarkannya sampai penisku mengecil dan berhenti memuncrat dengan sendirinya. Kami bertiga terkulai lemas. Aku melirik Lola dan Tania , lalu aku sadar tibalah saat untuk memperawani mereka. Sambil menunggu birahiku bangkit untuk yang kesekian kalinya, Lola duduk lebih dulu di atas wajahku, dan pasrah menikmati jilatan lidahku.




“ Slllrpp slllrpp sllrrppp sllrpp” “ Ahhh ahhhhhh “ Lola mendesah saat bibirku menjilat-jilat vaginanya. Vaginanya sangat becek karena cairan pelumas sehingga aku begitu nafsu untuk menjilat-jilat vaginanya. Lola bahkan menggoyang pinggulnya diatas wajahku , seolah memberi isyarat jika ia menikmati jilatan lidahku. Pahanya bergetar-getar dan vaginanya mulai berkedut tanda ia sangat menikmati permainan liar ini. Lidahku terus bergerak makin kencang dan bibirku terus mencumbu bibir vaginanya dengan nafsu. Lola terus menggoyangkan pinggulnya dan memekik memanggil-manggil namaku. Ia melolong panjang dan akhirnya mencapai puncak kenikmatannya. Cairan orgasme menyemprot deras membasahi wajahku.




“ Ahhhhhhh sorry... sorry..... “ wajahnya memerah malu dan ia meminta maaf karena tidak kuat menahan birahinya. Lola kemudian turun lalu kemudian tibalah giliran Tania Aku mengulangi hal yang sama pada Tania dan ia ternyata lebih tidak bisa menahan desahannya. Ia sangat menikmati aksi gila ini dan bahkan wajahnya sangat memerah. Pinggulnya terus bergoyang-goyang diatas wajahku sementara dibawah sana penisku mulai berdiri tegak kembali. Ia sanggup bertahan lebih lama sehingga ia dapat menikmati permainan lidahku lebih lama.




Kuhentikan permainan lidahku saat penisku kembali menegang sempurna. Inilah saatnya . Aku berbisik dan meminta mereka berbaris menghadap dinding . Lola dan Tania menurut , dan mereka sangat gugup karena inilah saat dimana mereka harus mengorbankan keperawanan mereka. Ria dan Shahira hanya melihat dengan lemas. Lola dan Tania benar-benar menghadap dinding. Kuraba vagina mereka dengan kedua tanganku dan mereka berdisis terkejut. Kucumbu leher Lola dari belakang dan ia mendesis panjang . Kulumat lehernya dan ia sangat menikmatinya . Saking menikmatinya ia tak sadar penisku sudah masuk dan mengoyak keperawanannya. Ia mendesah-desah saat aku mulai menggenjot vaginanya. Rasanya nikmat , sekali. Ia hanya pasrah , sedangkan jemariku asik menjamah dan meremas buah dada mungilnya . Kupercepat genjotan penisku lalu kuerhentikan sejenak. Kucabut penisku dan Lola masih berdesis sambil memegangj vaginanya . Saat aku hendak memperawani Tania rupanya ia sedang menangis. Kupeluk dia dengan penuh kasih sayang , lalu kubalik tubuh mungilnya. Kuangkat paha kanannya , memeluk Tania dengan tangan kiriku , lalu aku lumat bibirnya pelan. Sambil menangis ia mulai membalas kecupan bibirku . Ia lalu memelukku erat dan akhirnya pasrah. Sambil terus mencumbunya , kutusuk vagina perawan Tania sehingga darah segar mengucur dan aku berhasil merenggut keperawanannya .




Bibirku masih terus mengecup bibirnya. Penisku mulai menggenjot di liang kewanitaannya. Wajahnya memerah dan Tania hanya pasrah. Ia memelukku erat , membiarkan aku terus menggenjot vaginanya. Lama kelamaan , ia makin terbiasa dan mulai menikmati genjotan penisku. Kami berganti gaya, ia menghadap dinding sedangkan aku menggenjotnya dari belakang. Aku sangat menikmati desahan dan jepitan vaginanya yang masih sangat sempit. Aku lalu bergantian menggenjot Vagina Lola dan Tania . Mereka hanya pasrah dan mencoba menikmati serudukan penisku. Aku menggoyang pinggulku dengan kecepatan penuh , hingga akhirnya penisku meletus di dalam vagina Tania. Aku benar-benar puas dan kami bertiga pun berpelukan. Berlima sekasur , kami terus ML berlima berkali-kali , mencoba bermacam-macam gaya , sampai dini hari tiba dan aku tertidur dengan sendirinya.




Aku terbangun sekitar pukul setengah tujuh. Tentu saja aku tidak melewatkan morning sex dengan mereka berempat. Shahira menjadi bulan-bulananku pagi itu. ML berlima di pagi hari ternyata sangatlah luar biasa sehingga aku menjadi semangat bekerja. Bahkan saat mandi , aku kembali ML dengan Ria dan kami berdua sangat menikmati ketika penis dan vagina kami saling beradu. Luar biasa , mungkin tidak banyak orang yang dapat merasakan kenikmatan seperti ini. Saat hendak pergi bekerja , mereka berempat berbaris melambaikan tangan dengan manisnya . Aku sengaja melakukan itu agar tetanggaku yang sombong makin kebakaran jenggot. Ia hanya kelas Pimpinan namun sangat sombong karena aku orang baru disana. Aku pergi kerja dengan semangat , dan tentunya dengan penis yang terpuaskan.








BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar