Langkah langkah binal part 9

 

Bab 9






Kemudian kulanjutkan kegiatan yang sangat asyik ini...kuenjot penis tegangku makin lama makin mantap di dalam liang kemaluan Bi Yeyen.




Ini benar-benar persetubuhanku yang pertama dalam hidupku. Rasanya luar biasa buatku. Saking nikmatnya, aku merasa seperti ada yang berdesir-desir dari ujung kaki melesat sampai ke ubun-ubun. Terkadang membuat nafasku tertahan dan tak beraturan. Belakangan aku tahu bahwa bagi pria, energi yang digunakan waktu bersetubuh itu sama dengan energi waktu jalan kaki sejauh tujuh setengah kilometer ! Mungkin karena itulah keringatku mulai bercucuran. Tapi luar biasa nikmatnya. Terlebih setelah Bi Yeyen menyuruhku meremas-remas payudaranya, aku semakin dimanjakan oleh nikmatnya arus birahi cowok abege.




Ternyata Bi Yeyen pun menikmati semuanya ini. Bahwa ketika batang kemaluanku makin lancar mengenjot liang memeknya, mata Bi Yeyen seperti terbalik-balik dibuatnya. Desahan nafasnya pun makin nyata terdengar, seperti nafas orang asma, berbunyi,


 "Aaaaak....aaaaah....aaaak....aaaah...aaaah enak banget Yad....aaaah...enak Yad....iyaaa....entot terus Yaaad...."






Tapi saat itu aku belum mengerti bagaimana cara mengontrol diriku sendiri. Aku cuma tahu bahwa pergesekan batang kemaluanku dengan liang memek Bi Yeyen yang hangat dan licin itu membuatku serasa melayang-layang...makin lama makin tinggi.....dan akhirnya akumenahan nafasku dengan tubuh bergetar....dan ingin membenamkan penisku sekuat mungkin....lalu kurtasakan ada yang mengalir ke luar dari dalam penisku, tanpa bisa dikendalikan lagi...creetttt...crretttt...creeeeeeeeet....ya.. ada yang membersit-bersit dari dalam penisku....setelah reda, barulah aku bisa bernafas lagi....bisa berdengus sambil memeluk leher Bi Yeyen erat-erat.




Dan setelah tenang kembali, terasa batang kemaluanku pun melemas. Tapi Bi Yeyen melarangku mencabutnya. Bi Yeyen menahan pantatku agar penisku tetap berada di dalam jepitan liang kemaluannya.






"Gak nyangka, keponakanku bisa membuatku senang," kata Bi Yeyen sambil mengelus-elus rambutku. Lalu menciumi pipiku.


"Bibi juga merasa enak?" tanyaku sambil menatap matanya yang sangat dekat dengan mataku.


"Enak sekali sayang," sahutnya sambil menciumi dahi dan pipiku, "Nah....udah mulai ngaceng lagi tuh....diem ya...jangan sampai terlepas...."






Entah apa yang dilakukan Bi Yeyen saat itu. Yang jelas, penisku seperti dipilin-pilin oleh liang kemaluan Bi Yeyen...geli-geli enak rasanya...membuat penisku benar-benar ngaceng lagi.






"Nah...sekarang entotin lagi kayak tadi," bisik Bi Yeyen sambil memeluk leherku.






Kuikuti perintah bibiku itu. Kugerak-gerakkan kembali penisku yang sudah ngaceng kembali ini. Dan alam pun terasa penuh sensasi lagi. Geli-geli enak yang kurasakan, membuat nafasku tak beraturan kembali.




O, Bi Yeyen yang "baik hati", kini aku mulai tahu enaknya tubuh perempuan !




Terawangan masa remajaku buyar ketika istriku muncul dengan senyum manis di bibirnya. Mudah-mudahan senyumnya itu bukan sindiran atas perbuatanku selama ini.




Tapi istriku malah memelukku dari belakang sambil berkata, "Bang...aku sudah sepakat dengan Uni."




"Sepakat soal apa?" aku agak terhenyak...lagi-lagi satu wanita yang hampir kulupakan, kini muncul di dalam ingatanku.


"Aku dan Uni sudah bertanya ke para ahli. Ternyata Abang boleh menikahi Uni. Tidak ada larangan."


"Lho...emangnya kamu udah ngomong terus terang pada Uni bahwa kamu sudah tau hubunganku dengannya?"


"Iya. Aku sudah gak tahan menyimpan rahasia ini. Mending terbuka saja. Karena Uni itu kakak kandungku."


"Terus?"


"Pokoknya Abang harus menikahi Uni. Malah bagus Bang. Kan Abang ingin punya anak lagi? Nanti dari Uni bisa punya anak. Aku sih masih belum mau hamil lagi. Nanti usahaku gak leluasa lagi."






Jujur, aku merasa percakapan ini suatu percakapan aneh. Percakapan yang lain dari biasanya.






"Kamu juga sudah bilang pada Uni tentang pola hidup kita...maksudku dalam soal seks?"


"Nggak," istriku menggeleng, "Menurutku sih Uni gak usah tau soal itu. Tapi kalau dia sudah jadi istri Abang, terserah Abang lah. Mau diceritakan silakan, mau tetap dirahasiakan silakan, kalau Abang sudah menjadi suaminya."






Aku mau menjawab. Tapi istriku keburu menepuk lututku, "Sekarang temui gih Uni di sana," katanya sambil menunjuk ke kamar yang tadinya dipakai kamar Leo.




Aku terkejut, "Hah?! Uni ada di sini?"


"Iya, tadi siang datangnya," sahut istriku sambil tersenyum. Apakah senyum itu sindiran atau pertanda sudah mengikhlaskanku untuk dimiliki oleh kakaknya juga? Entahlah.


"Ayo Bang...temui dulu Uninya. Kasihan kalau dicuekkin sama Abang. Aku berani disumpah dengan cara apa pun, bahwa aku sudah ikhlas seratus persen kalau Abang menikah dengannya. Asal Abang jangan sia-siakan aku nantinya. Itu aja."






Aku tak menjawab lagi. Lalu bangkit dari kursi kerjaku. Melangkah ke arah kamar yang dulunya dijadikan kamar Leo itu.




Kulihat Erna (aku tak memanggil Uni lagi padanya) tengah berbaring dengan posisi membelakangi pintu. Maka untuk mengejutkannya, aku berjalan mengendap-endap, menutupkan kembali pintu perlahan-lahan, lalu menghampirinya.




Tampaknya Erna tak menyadari kehadiranku di kamar itu. Mungkin ia sedang tertidur. Dan baru membuka mata setelah aku naik ke atas tempat tidur, lalu memeluknya dari belakang sambil membisikinya, "Erna cantik...bangun dong sayang..."




Begitu menyadari aku hadir di dekatnya, Erna bangun dan tersenyum sambil menggosek-gosok matanya, "Yad...katanya di Jakarta ? Kapan datang?"




"Mmm...kira-kira dua jam yang lalu," sahutku sambil memperhatikan keayuannya kakak iparku dalam keadaan baru bangun tidur begitu. Lalu kukecup bibirnya.




Ia membiarkanku mencium bibirnya, tapi lalu berkata, "Jangan terlalu demonstratif Yad. Kalau kelihatan Erni gak enak."


"Dia kan malah sudah mengijinkanku untuk menikahimu, sayang," kataku sambil membelai rambutnya.






Erna menghela napas dan berkata lirih, "Aku malu sama Erni. Dia itu bijaksana dan bisa berbesar hati menghadapi masalah kita. Sedangkan aku...kakaknya ini...malah melukai hati adik kandungku sendiri."




Kulihat ada tetesan air mata dari kelopak mata Erna yang indah itu. "Semuanya ini salahku, sayang," kataku sambil memeluknya lagi, "kalau aku tidak memulainya, tidak akan ada masalah ini. Tapi sekarang aku sudah telanjur mencintaimu..."




"Yad," Erna memelukku juga, "aku juga merasa dirimu sudah menjadi bagian dari diriku. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau kamu meninggalkan aku..."




"Aku takkan meninggalkanmu, sayang."


"Iya, aku percaya, karena pada dasarnya kamu itu orang baik. Tapi...rasanya kita ego banget, sampai melupakan perasaan Erni."


"Erni malah senang kalau kita menikah. Jadi aku bakal dikawal dua wanita kakak beradik."


"Tapi...aku tak mau ditempatkan di rumah ini. Soalnya kita juga harus merahasiakannya kepada orang tua dan saudara-saudaraku. Kalau mereka sampai tau, entah apa jadinya."


"Santai aja," kataku sambil membelai rambut Erna lagi, "Sudah ada rencana buatmu, sayang. Dan duitnya sudah dipegang oleh Erni."






Memang aku sudah tahu bahwa uang penjualan ruko-ruko itu sudah disiapkan oleh istriku, untuk membeli rumah kos yang mau dijual oleh pemiliknya.




Rumah kos itu lumayan besar, tapi terletak di dalam gang kecil. Becak pun tak bisa masuk ke dalamnya. Di rumah kos yang direncanakan untuk diberikan kepada Erna itu hanya ada sepuluh kamar. Tapi tanah ke belakangnya masih luas. Kurasa bisa dibangun duapuluh kamar lagi. Di bagian terdepan, ada bagian khusus untuk pemiliknya. Ada dua kamar tidur yang punya fasilitas kamar mandi dan toilet, ruang tamu, ruang keluarga, dapur dan sebagainya. Para penghuni kos masuk lewat samping rumah pemilik itu.






"Uni," kata istriku kepada kakaknya ketika kami bertiga berada di lokasi rumah dan kos-kosan yang sudah resmi kami beli itu, "Mulai sekarang rumah dan kamar-kamar kos-kosan itu menjadi milik Uni."


"Haaa? Apaan ini?" Erna tampak kaget menerima jabatan tangan adiknya.


"Semua ini hitung-hitung maskawin Bang Yadi buat Uni," kata istriku sambil mencium pipi kakaknya.




Erna terlongong. Seperti tak percaya pada pendengarannya sendiri.




"Pokoknya kita bertiga harus tetap kompak ya Uni," kata istriku sambil memegang tangan kakaknya dan tanganku.




Seperti tak kuasa menahan haru, Erna memeluk istriku dan terdengar suaranya, "Kamu terlalu baik padaku, adikku..."




"Aku malah seneng banget," kata istriku sambil memeluk kakaknya, "Sekarang aku jadi punya teman yang akan menambah kekuatan kita. Bang Yadi juga kalau macem-macem bisa kita keroyok aja kan? Hihihihi...."




Aku cuma tersenyum mendengar percakapan itu. Lalu kataku, "Ayo kita ke villa aja, jangan di sini ngeroyoknya !"


"Oke, siapa takut?" istriku bertolak pinggang sambil tersenyum padaku.






Erna tampak belum mengerti apa yang dimaksud dengan "mengeroyok" itu.




Beberapa saat kemudian Erni berada di belakang setir sedannya. Erna duduk di sampingnya. Sementara aku rebahan di jok belakang, sambil tersenyum-senyum mendengar percakapan mereka.




Meski tidak diucapkan langsung, aku mengerti bahwa istriku akan mengajakku main threesome FFM.




Tapi di jalan menuju ke luar kota istriku malah lebih fokus mengarahkan obrolannya pada rumah kos di dalam gang kecil itu.






"Nanti kita tambahin kamar-kamarnya, sampai tanahnya habis dengan bangunan kos-kosan," kata istriku, "iya kan Bang?"


"Iya," sahutku, "kalau pengelolaannya bagus, bisa aja nyari tanah kosong yang letaknya di pinggir jalan besar, untuk dibangun rumah kos-kosan lain."


"Betul," sahut istriku, "Sekarang Uni terima aja apa adanya dulu. Rumahnya kan bisa dijadikan tempat tinggal Uni. Kalau penerimaan dari kos-kosan masih terasa kurang untuk memenuhi kebutuhan Uni, biar nanti ditambahin dulu sama Bang Yadi. Pokoknya selama penghasilan dari kos-kosan itu masih terasa kurang, kami akan mensubsidi Uni dulu."




Erna cuma terdiam. Meski akhirnya ia berkata, "Aku masih merasa seperti bermimpi."




Aku yang menyahut, "Sebenarnya itu wujud tanggung jawabku."


"Iyalah," tukas istriku, "Berani berbuat harus berani bertanggungjawab."






Dan sedan yang dikemudikan oleh istriku meluncur terus ke arah villa yang biasa kami pakai....








BERSAMBUNG 









Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar