TANTEKU PART 8

 

Di dalam kamar tidur Tante yang luas ini ada kamar mandi yang luas pula. Ada dua wastafel cermin lebar, bath-tube, dan tempat untuk mengguyur (douce) yang berpintu kaca agak buram.




Di bath-tube kami saling membersihkan, Tante menyabun tubuhku sementara aku mengguyur tubuhnya, lalu gantian. Ah, mesra sekali.




Lalu berdua kami tidur berpelukan dibawah selimut yang hangat, tanpa pakaian. Tante yang punya ide begini. Enak juga. Jam dinding menunjuk waktu 11.32. Dua ronde permainan makan waktu hampir 3 jam. Pantas saja aku lelah.




Dengan tergagap aku terbangun. Dimana aku in? Tante masih ada di pelukanku. Kulihat sekeliling, ah aku tidur di kamar pribadi Oom Ton dan Tante Yani!




Ada rasa enak di bawah sana. Ooh, Tante sedang asyik mengelus-elus penisku yang tegang. Setiap bangun pagi, tanpa dieluspun penisku memang tegang. Elusan ini yang membuat aku terbangun. Kulihat jam dinding, pukul 05.17. Ah, sudah pagi, aku harus siap-siap. Tapi Tante ini..




Tante memandangku, tersenyum, seperti biasa: manis.




“Punyamu udah keras, To” Buah dada itu menyembul karena terpepet dadaku. Aku terangsang.




Langsung saja aku raih buah indah itu. Putingnya sudah keras. Kami berpagutan. Aku ingin tahu kesiapan Tante pagi ini, tanganku ke bawah sana. Sudah basah rupanya. Mengingat waktu, aku ingin segera mulai. Tantepun paham.




Kembali aku melakukan ‘pertempuran’ panjang melawan Tante.




Rasanya jalan ke puncak masih lama.


Aku mempercepat “pompaan” ku


Belum juga.




Aku terus melumat bibir Tante, mencegah “kicauan” nya yang makin keras, khawatir terdengar Mar yang sangat mungkin sudah bangun.




Ganti posisi


Percepat lagi.


Hampir


Ubah posisi




Akhirnya, aku makin yakin seperti yang Tante katakan, bahwa aku lelaki tulen, jantan, hebat…




Pagi yang melelahkan sekaligus menyegarkan…!




Tante memberikan bukti, bukan hanya janji. Kami bersetubuh hampir tiap hari, kecuali kalau Tante senam. Waktu yang dipilihnya adalah siang hari, waktu saya baru pulang sekolah, di kamarku. Ini demi keamanan. Siang hari adalah saat yang paling aman. Saat Si Mar sedang sibuk bekerja di belakang, Si Luki bermain dengan pengasuhnya di rumah sebelah, dan saat Oom Ton belum pulang kantor.




Aku jauh dari bosan, seperti yang dikhawatirkan Tante. Karena aku memang sangat menikmati hubungan ini. Faktor lain yang membuat aku tak bosan adalah kreativitas Tante. Seperti yang kukemukakan di awal tulisan ini, ada saja ide Tante untuk membuat kejutan untukku setiap berhubungan kelamin. Entah itu posisi berhubungan, atau acara “pembukaan,” tambahan ronde, dan lain-lain yang membuat aku merasa “lain”.




Pernah sekali waktu ketika aku pulang sekolah, ia sudah siap di dipanku memakai selimutku sebatas dada dan tak memakai apa-apa lagi di balik selimut itu. Kejutan yang membuatku “terbakar”.




Lain kali lagi ia memintaku “masuk” dari belakang. Bertumpu pada lututnya ia ‘nungging’, aku bermain sambil memegangi pantatnya yang bahenol itu.




Saat yang lain lagi, kami ‘bertempur’ di atas meja belajarku. Ia duduk di pinggiran meja membuka kaki, aku ‘masuk’ sambil tetap berdiri.




Pernah juga di kursi belajarku. Aku duduk di kursi yang dirapatkan ke dinding, ia duduk di atas pahaku berhadapan. Dengan posisi begini ia bebas “memilih” posisi tusukan kelaminku di vaginanya. Posisi atau gaya apapun, yang jelas membuat kami berdua menuju puncak bersamaan atau hampir berbarengan.




Kejutan yang susah kulupakan serta merupakan pengalaman baru bagiku adalah seperti yang akan kuceritakan di bawah ini.




Seperti yang sudah-sudah, pulang sekolah setelah ganti baju, aku langsung menemui Tante meminta “jatah” bersetubuh. Aku sebut jatah karena kalau malam hari Tante bukan milikku lagi, tapi jatah suaminya.




Siang itu ruang tengah sepi, Tante mungkin ada di kamarnya, kulihat pintunya sedikit terbuka. Aku ingin masuk ke kamarnya, kali ini aku ingin main di kamarnya, karena sejak “semalam 3 ronde” itu aku tak pernah lagi making love di kamar itu, selalu di kamarku. Kuperiksa keadaan sekeliling dulu. Aman.




Aku masuk kamarnya. Tante mengenakan kimono sedang mengikat rambutnya. Kukunci pintu, kupeluk Tante dari belakang, menggerayangi. Tak ada apa-apa lagi di balik kimono itu.




“Hhmmmmm.. sebentar ya ‘yang, Tante mau mandi dulu”


“Engga usah mandi juga Tante tetap wangi” kataku terus menjelajahi tubuhnya.


“Entar biar segar. Sabar dulu ya..” Aku menghentikan aksiku.


“Saya ikut mandi Tante” kataku bercanda.


“Ayolah, kita mandi bareng” Tak kusangka Tante menganggapnya serius. Ayo, kalau begitu.




Aku langsung bertelanjang, menuntun Tante memasuku kamar mandi. Tante membuka kimononya, bertelanjang bulat juga, masuk ke ruang douce. Tak bosan-bosannya aku memandangi tubuh indah ini, padahal hampir tiap siang aku menggumulinya.




“Ayo, To” ajaknya.


“Kita main di sini Tante?” nakalku timbul.


“Hush, sekarang kita mandi dulu, kapan-kapan bolehlah”




Tanganku yang bersabun menggosoki dadanya. Di bagian putting sengaja kutekan-tekan. Tante juga menggosok dadaku dengan sabun. Lalu perutnya, dan ke bawah lagi. Tangan Tante juga ke bawah. Diusapnya dengan sabun ‘rambut’ bawahku, kemudian dipegangnya batang kelaminku, digosok juga. Karuan saja batang itu membesar.




“Hiiiiii, bangunnya cepet bener” Aku menikmati gosokannya. Tante benar-benar teliti, semua bagian dari alat vitalku itu dibersihkan dengan sabun lalu diguyur. Enak.




Aku ikut-ikutan. Seluruh bagian kelaminnya aku bersihkan. Kalau aku lagi menggosok “pintu” kelaminnya, kulihat mata Tante merem-melek keenakan.




Selesai mengeringkan badan aku langsung menubruk Tante.




“Heee, jangan disini To, ingat dong” Oh ya. Siang begini terkadang si Luki suka masuk ke kamar, tentu diikuti si Tinah. Berbahaya.




Aku berpakaian, hanya pakaian luar saja, pakaian dalam aku bawa, menyingkat waktu.




“Hiiiii, lucu.” kata Tante mengomentari tonjolan di celanaku. Tantepun hanya memakai daster, tanpa pakaian dalam.




Aku masuk kamarku duluan, langsung berbugil. Sejurus kemudian Tante menyusul, juga langsung bertelanjang bulat. Kami langsung bersatu, saling raba dan saling pagut. Kali ini mungkin tak ada kejutan yang dibuat Tante. Atau ya itu tadi, mandi dulu sebelum main. Betul juga kata Tante, lebih segar.




Aku meringkik kegelian ketika Tante menciumi pusarku. Ini mungkin kejutannya, tak biasanya Tante begitu.




Tapi, Tante terus ke bawah menciumi ‘rambut’ku. Lebih kaget lagi, tangannya menggenggam kelaminku dan mulai menciumi barang yang sudah mengeras itu! Bukan main! Geli-geli nikmat. Bahkan..




“Aaaaaaaahhhh” aku mengerang ketika kepala penisku dimasukkan ke mulutnya!




Luar biasa nikmatnya. Ini rupanya mengapa Tante begitu teliti membersihkan kelaminku waktu mandi tadi.




“Tante…”




Tante seolah tak mendengar panggilanku, terus saja asyik melahap barangku. Tante sanggup memasukkan barang itu hingga separohnya. Sewaktu di dalam, jelas kurasakan lidah Tante ikut bermain menggelitiki penisku. Woooow sedapnya tak terkira .!




Sungguh ini pengalaman baru bagiku. Nikmatnya terasa lain. Entah apa yang dirasakan oleh Tante. Kok mau-maunya ia melakukan ini. Aku sih keenakan. Aku perhatikan bagaimana ia sibuk mengeluarkan-memasukkan penisku, kepalanya naik-turun berirama.




“Aaaahhhhhhh… hhmmmmmmmm… ssssshhhhhhhh.. sed ap… Tante… Tante.. pintar. sekali…” celotehku menahan nikmat. Bagaimana nanti kalau aku tak mampu menahan diri? Masa aku menyemprotkan spermaku ke mulut Tante? Ah, bagaimana nanti saja, yang penting sekarang… sedaaaap.




Tiba-tiba Tante melepas “makanan” nya, disapunya barangku dengan kain dasternya yang tergeletak di dipan. Aku merasa kehilangan sesuatu. Dikeringkan. Lalu… dikulum lagi…! Nikmaaaaat..




Dilepaskannya lagi, barangkali mau dilap lagi. Ternyata tidak, badannya digeser sehingga kaki Tante berpindah ke arah kepalaku.




“To… ayo cium, To..” katanya terengah. Sejenak aku bengong tak mengerti permintaannya.


“Kamu cium ini…” katanya kemudian sambil menunjuk ke selangkangannya. Okey, Tante, toh aku sudah sering mencium ‘rambut-rambut’ halusmu itu. Aku mulai mencium.


“Ke bawah lagi, dong To..” Ke bawah? berarti disitunya? Hal baru, kenapa tidak?




Kucium tonjolan kecil yang sudah keras itu. Asin rasanya.




“Aaaaaaaahhhhhhhh, sedap To, terus…”




Kini lidahku yang menyapu-nyapu pintu dan tonjolan tadi




“Yaaaahhh. yaaaaaa… begitu enak…” katanya sambil mulutnya menyergap lagi batang kelaminku.




Ada cairan yang asin rasanya.




Di kemudian hari aku baru tahu bahwa yang sedang aku dan Tante lakukan sekarang ini namanya “posisi 69″




Dalam mengulum ini Tante pintar sekali, banyak variasinya. Keluar-masuk, kadang menyedot-nyedot, bermain lidah, sesekali menggigit (aku langsung teriak).




Akupun diajarinya bermain. Menggelitik ‘lubang’ dengan lidahku, menggigit kelentitnya (pelan, tentu saja), menyapu bibirku ke “bibir” nya.




Asyik juga bermain seperti ini. Masing-masing sibuk, masing-masing merasakan nikmatnya.




Entah sudah berapa lama kami bermain begini. Untung saja aku berhasil menahan diri untuk tidak keluar. Aku sekarang memiliki ketrampilan baru untuk mengontrol diri, mengatur diri kapan saatnya ‘keluar’. Kalau tidak, masa aku menyiram mulut Tante dengan maniku.




Sampai akhirnya…




“Ayo, To… sekarang. To…”




Aku memutar tubuhku, sementara Tante rebah terlentang membuka kakinya, siap menerima tusukanku.




Aku masuk dengan gemas.


Tante menerima dengan antusias.


Untuk kesekian kalinya kami saling menggenjot.


Bersama menuju puncak.


Berbarengan menggelepar.


Sudah itu


Sama-sama lemas


Sama-sama puas.


Oh, betapa bahagianya aku.


Kebutuhan lahir dan batin terpenuhi.


Kurang apa lagi?




***




Tak ada yang kurang pada diri Tante. Cantik, putih, tubuh bagus, permainan di tempat tidur luar biasa, dan kreatif. Kreativitas Tante tercermin dari cara bersetubuh. Ada saja yang dilakukannya yang membuatku merasa bersetubuh dengan orang baru. Selalu ada hal baru dalam setiap permainannya. Sejak Tante memperkenalkan “posisi 69″, aku selalu minta dikulum penisku sebagai acara pembukaan.




Seperti biasa sepulang sekolah aku mendekati Tante untuk melaksanakan ‘tugas’ rutin, bersetubuh.




Aku sudah membuka resleting celanaku, mengeluarkan penisku yang tegang di dekat Tante yang sedang duduk di tepi ranjang, masih berpakaian lengkap, di kamar Tante yang sudah kukunci. Yah, semacam pemberitahuan bahwa aku sudah siap. Tapi tante menyambut dengan dingin, tak seperti biasanya. Ia hanya mengelus-elus.




“Tante engga bisa sekarang, To”


“Kenapa Tante?”


“Tante lagi… itu..”


“Lagi apa, Tante?”


“Lagi mens.”


“mens? Apa itu Tante?”


“Kamu engga tahu?”


“Bener, Tante. Saya sungguh engga tahu” Memang aku tidak tahu.


“Begini, setiap bulan wanita yang sudah dewasa mengalami masa menstruasi. Wanita yang normal pasti mengalami”




Lalu Tante memberiku kuliah tentang menstruasi itu. Bahkan ditunjukkannya kepadaku celana dalamnya yang berbalut itu.




“Kalau begitu, besok saja ya, Tante” pertanyaan bodoh memang.


“Engga bisa To. Masa mens biasanya sekitar seminggu. Tapi kalau Tante sekitar 4 - 5 hari.”




Wah, menunggu 4 - 5 hari, mana tahan?




“Tapi Tante, saya ingin …”


“Engga, To. Sabar aja ya, yang…”




Aduh, pusing juga aku, keinginan sudah sampai ke kepala.




“Bagaimana kalau begini saja Tante..” Kataku sambil menempelkan penisku ke bibir Tante, minta dikulum.


“Engga bisa juga, To. Itu namanya kamu egois. Kamu bisa puas, tapi kalau Tante terangsang, gimana?” Benar juga kata Tante.


“Maafkan saya, Tante. Saya sungguh-sungguh belum tahu” kataku sambil memeluknya dengan mesra.


“Engga apa-apa, To. Tante maklum”




Dimasukkannya penisku, celana dalamku dibetulkan letaknya, lalu ditutupnya resleting celanaku. Mesra sekali.




“Awas, ya. Jangan cari sasaran lain” katanya.




Kucium kedua belah pipi Tante, dengan mesra juga.




“Engga dong, Tante. Emangnya apaan.”




Ternyata ada yang belum aku ketahui tentang wanita




Sekarang masalahku, mana bisa aku menunggu 4 - 5 hari tanpa bersetubuh, setelah hampir tiap hari menikmati.




Pulang sekolah agak kaget aku mendapati Tante duduk di sofa, membaca. Kucium pipinya.




“Engga senam, ‘yang?”


“Engga, lagi banyak-banyaknya”


“Apanya yang banyak?”


“Ah, kamu. Ya mens-nya” Aku mengerti. Tapi berarti hilang juga kesempatanku siang ini menyatroni mBak Mar. Paling tidak aku harus menunggu 2 hari lagi, jadwal senam Tante berikutnya, atau menunggu sampai Tante “bersih”.




Malamnya, terkantuk-kantuk aku menunggu Oom Ton dan Tante masuk kamar. Pukul 10.15 mereka masih asyik menonton TV. Aku masuk kamar duluan, gelisah. Setengah jam berikutnya kudengar TV dimatikan, lampu tengah juga, lalu kudengar suara pintu ditutup dan dikunci.



Posting Komentar

0 Komentar