TANTEKU PART 7

 

Di kelas aku jadi sering melamun, membayangkan waktu aku menyelusuri seluruh permukaan dada Tante dengan mulut dan lidahku. Membayangkan bagaimana kelaminku secara perlahan memasukinya…




Bel tanda pulang berbunyi. Aku bersorak. Ingat ke rumah, ingat malam ini Tante menjadi milikku. Akan kureguk semua kenikmatan dari tubuh Tante. Pokoknya nanti akan kunikmati seluruhnya, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, sampai puas.




Memang aku bisa puas, tapi bagaimana dengan Tante? Dua kali aku berhubungan kelamin dengan Tante, dua-duanya aku bisa mengeluarkan spermaku ke dalam lubang kelamin Tante, sampai puncak, sampai puas. Tapi Tante tidak. Aku jadi cemas, jangan-jangan nanti aku juga begitu. Tapi aku ingat, yang kedua kemarin tante bilang aku ada kemajuan.




Di rumah sepi-sepi saja. Tak ada siapapun, juga Tante. Aku makan siang sendirian. Tante mungkin ada di kamar, pintu kamarnya tertutup. Kuselesaikan makan siangku dengan cepat, lalu duduk saja di meja makan, berharap Tante akan keluar dari kamarnya. Setengah jam berlalu, masih sendiri. Aku ke ruang keluarga nonton TV.




Duduk di sofa lalu ingat, kemarin di sini aku menikmati buah dada Tante dengan tuntas. Diam-diam punyaku mulai tegak, padahal hanya membayangkan yang kemarin. Ditambah lagi acara TV menyajikan fashion show di Sydney, Australia. Peragawati cantik-cantik yang berlenggok di catwalk itu umumnya tak memakai kutang.




Tiba-tiba pintu kamar Tante terbuka. Aku menoleh. Kepala Tante nongol memberi isyarat padaku dengan mengangguk-angguk. Nasibku memang beruntung. Jelas ini isyarat ajakan masuk. Tapi masak di kamar itu, kamar pribadi Oom dan Tante. Aku ragu, bengong saja belum bereaksi atas isyaratnya. Sekali lagi Tante mengangguk, kali ini sambil mengedipkan kedua matanya.




Di ranjang besar itu Tante terlentang. Mengenakan baju tidur tipis, sehingga samar-samar celana dalam dan kutangnya terlihat. Matanya sayu memandangku, berkaca-kaca. Kutang itu bergerak naik-turun menandakan nafas Tante sudah memburu.




Aku tak tahan melihat pemandangan yang menggairahkan ini, segera saja aku menghampirinya. Tapi…




“Tunggu dulu. Buka dulu dong, pakaianmu” perintahnya. Okey, tanpa dimintapun aku akan membuka. Sementara aku membuka pakaian sampai telanjang bulat, Tante memelorotkan celana dalamnya dengan posisi masih terlentang. Kini di balik baju tidur tipis itu nampak rambut-rambut halus yang menggemaskan itu.




Belum sempat aku bergerak, ada lagi ‘ulah’ Tante.




Ditariknya gaun tidur tipis itu perlahan, memperlihatkan paha bulat itu. Ditarik lagi keatas sampai pusarnya nongol. Kelamin berambut halus dan perutnya terbuka terhidang di depanku. Luar biasa. Tante menyajikan ‘strip tease show’ di depanku! Ada-ada saja Tante ini.




Dengan ‘senjata’ yang tegak keras aku menghampiri tubuh indah ini.




Kucium rambut-rambut halus itu sebentar. Gemasnya aku.




“Aaaaaaaahhhh” teriak Tante.




Aku berpindah ke atas, kulumat bibirnya sambil meremas sebelah dadanya. Kutang itu perlu disingkirkan dulu seharusnya, tapi aku tak sempat. Tanganku sebelah lagi bergerak ke bawah. Eh, Tante sudah basah! Benjolan dan pintu itu licin.




“Hhhhhhhhmmmmmmmm..” Tante tak mampu melenguh karena bibirnya aku kunci dengan bibirku.




Disingkirkannya tanganku yang sedang asyik di bawah, dipegangnya kelaminku, lalu diarahkannya ke ‘pintu’. Rupanya Tante ingin memulai sekarang. Mungkin sama dengan aku, sudah sama-sama terangsang lebih dulu sebelum bergumul. Aku terrangsang oleh bayanganku dan peragawati tadi, Tante terangsang entah oleh apa.




Aku mulai ‘masuk’




“Aduhh! Pelan-pelan, To!” Tante mengaduh, memang masukku tadi agak kasar.


“Maaf Tante, habis engga tahan sih..” kataku tersengal.




Kamipun saling menggenjot. Lucu kelihatannya kali ini. Tante masih mengenakan gaun tidur dan kutangnya, kelamin kami sudah saling pagut…




Hasilnya, seperti kemarin.




Aku ‘keluar’ lebih dulu, sementara Tante belum terpuaskan benar. Kentara dari pinggulnya yang masih mencoba menggoyang sambil kakinya menjepit pinggangku.




Kembali aku kecewa.




Kalau kelaminku sudah bergesekan dengan kelamin Tante, disamping rasa nikmat, juga rasa geli luar biasa. Jika sudah geli begitu, aku tak sanggup lagi menahan untuk jangan sampai ke puncak dulu.




Kembali aku gagal memuaskan Tante.




Kembali aku berusaha menetralkan suasana yang tak enak ini.




Kuelus buah dada yang putingnya masih tegang itu dengan penuh perasaan, lalu kucium perlahan. Tante mengusap kepalaku. Kucium pipinya dengan mesra.




“Tante..”


“Hmmm”


“Saya.. engga..”


“Udahlah.. Tante tahu. Kamu engga usah merasa apa-apa. Tante maklum kok. Kamu tadi lumayan, sudah ada kemajuan”


“Tapi Tante kan belum …”


“Engga usah kamu pikirin. Tante mengerti” katanya menentramkan sambil mengelus-elus dadaku.


“Saya engga bisa bertahan lama, Tante”


“Sudah lumayan, kok. Tante tadi juga merasa nikmat. Kamu udah mulai pintar mengocok tadi”


“Saya bisa merasakan Tante tadi belum puas”


“Iya, memang wanita membutuhkan waktu yang lebih lama dibanding laki-laki. Tapi kamu tadi ada kemajuan dibanding kemarin”


“Tak adil rasanya. Saya merasakan kenikmatan luar biasa, sedangkan Tante belum”


“Sudahlah, To. Tak perlu kamu pikirkan. Tante mengerti”


“Terima kasih Tante” Kupeluk tubuhnya erat. Erat sekali.




Diciumnya pipiku, lalu merebahkan kepalanya di dadaku. Aku mengelus rambutnya.




“Tubuhmu atletis sekali. Dadamu bidang” katanya sambil tangannya menelusuri dadaku.


“Iya, Tante. Dulu saya kerja di kebun. Saya juga sering olahraga”




Tiba-tiba tangan Tante ke bawah menggenggam punyaku.




“Kelaminmu besar sekali”


“Ah, masa Tante. Saya kira biasa-biasa saja”


“Apalagi kalau lagi tegang”. Kulirik punyaku, sudah agak surut.


“Tubuh Tante luar biasa” balasku.


“Kalau lagi tegang keras dan panas” komentarnya lagi masih tentang penisku, mengabaikan pujianku.


“Buah dada Tante indah sekali”


“Ah, masa. Dibanding punya siapa” pancingnya.


“Siapa saja” Aku pura-pura terpancing.


“Berarti kamu sering lihat buah dada, ya” Kubalikkan badannya.


“Besar, bulat, kenyal, putih, licin, halus lagi” kataku sambil melihat dekat-dekat buah itu.


“Buah dada siapa yang kamu lihat” tanyanya sambil menggoyang-goyang kelaminku yang masih berada digenggamannya.


“Cuma baru ini” jawabku sambil mulai merabai permukaan dadanya.


“Jujur aja, To. Dada siapa yang pernah kamu lihat” katanya lagi. Tante penasaran rupanya.


“Sungguh mati Tante. Cuma punya Tante yang pernah saya lihat”


“Yang bener, To” tangannya tidak menggenggam lagi, tapi mengelus kelaminku.


“Benar Tante”


“Kok tahu bagus?”


“Saya hanya lihat punya teman-teman sekolah. Itupun dari luar”


“Pernah kamu pegang?” Tangannya masih mengelus, aku mulai terangsang.


“Ih engga lah, Tante. Bisa gempar, dong”


“Jadi, tahunya punya Tante bagus, dari mana?”


“Pokoknya, dari luar, punya Tante paling besar” Ujung jariku mempermainkan putingnya. Putting itu mulai mengeras.


“Tante”


“Hmm?”


“Apa setiap buah dada ujungnya begini?’


“Begini gimana”


“Panjang, mungil, tapi keras”


“Mungkin. Punyamu mulai keras”




Aku seperti disadarkan. Memang aku sudah terangsang akibat percakapan tentang dada dan elusan Tante pada kelaminku. Aku mau lagi. Kenapa tidak? Mumpung masih ada kesempatan. Oom Ton paling cepat besok siang pulangnya. Segera saja kukulum putting yang sejak tadi kupermainkan.




“Eeeeehhhhhmmmmmmm..” Tante melenguh panjang.




Tanganku ke bawah mencari-cari di antara ‘rambut-rambut’. Basah di sana. Kugosok yang basah itu.




“Uuhmmmm… Aaahhhhhhh.. Uuhhmmmmm” desahnya agak keras, mengikuti irama gosokanku. Kelaminku diremas-remas. Enak.


“To… Hhheeeehhhggh.. sedap, To.. Hhheeeeeghh”




Tante makin ribut, aku khawatir kalau sampai terdengar dari luar kamar. Ah, tak ada orang ini. Aku makin giat menggosoki tonjolan kecil di bawah sana.


Tante makin ribut, menceracau tak karuan




Gosok lagi.


Teriak dia lagi. Akhirnya…




“Udah, To. ampun.. Ayo To, sekarang To, sekarang…!”




Aku bangkit. Kelaminku yang sudah keras kupegang pangkalnya, kuarahkan. Tante membuka kakinya lebar-lebar. Demikian lebarnya sampai kedua lututnya ke atas, menyuguhkan kelaminnya yang membasah, tepat di depan kelaminku.




Aku masuk.


Kudorong perlahan.




“Oooohhh, To.. sedapnya…”




Sudah tenggelam separoh. Kudorong lagi.




“Aduuuuhhhh, mamaaaa, nikmatnya…” teriaknya lagi.




Kudorong lagi.


Sudah masuk seluruhnya.




Kurebahkan tubuhku menindih tubuhnya. Tanganku ke belakang punggungnya. Kudekap erat tubuhnya, lalu aku mulai menggenjot. Sedaaaaaaaapp.




Bertumpu pada kedua lututku, aku menarik dan mendorong pinggulku.




Nikmaaaattt.




Entah kata apa saja yang keluar dari mulut Tante aku tak peduli. Terus saja menggenjot, naik-turun, keluar-masuk.




Aku nikmati benar gesekan kelaminku pada dinding vagina Tante.




Kadang selagi punyaku didalam, Tante “mengikat” pahaku dengan kakinya sambil memutar pantatnya. Kurasakan sentuhan seluruh relung kelaminnya pada kelaminku.




Luar biasa sedapnya.




“To… hhehh. kamu… hhehh.. kok.. hhehh..”Tante mencoba bicara disela-sela nafasnya yang memburu.


“Keenaapaa. hheehh.. Taanntee… hhehh”


“Kamu… kok… lama…”




Baru aku menyadari, sudah puluhan kali kelaminku kugenjot keluar- masuk-putar, tapi aku tak merasakan geli seperti biasanya. Yang kurasakan hanya nikmat. Rasa geli yang tak bisa kutahan yang kemudian membuat aku ke ‘puncak’, kali ini tak kurasakan! Heran!




“Engga… tahu.. Tante..”


“To, Oh my God.. heeeehhhhhh”


“Enak… Tante…?”


“Wooow… luar biasa…”




Genjot dan genjot lagi




“Kamu.. masih… lama.. To..?”


“Masih… Tante.”




Memang aku belum merasakan “geli menuju puncak”




“Diam. dulu… To”




Aku menghentikan genjotanku. Posisiku masih “di dalam”.




Tangan Tante memeluk erat punggungku, sementara kakinya mengikat pahaku. Lalu tubuhnya bergerak miring hendak merobohkan tubuhku. Aku bertahan, tak tahu maksudnya.




“Gantian, To… Tante di atas.”




Baru aku tahu maksud gerakan Tante ini. Kuikuti gerakannya, tapi..




“Jangan. sampai… lepasss”




Rupanya gerakan robohku terlalu cepat, sehingga kelaminku sedikit tercabut. Untung Tante cepat mengimbangi gerakanku, hingga punyaku “masuk lagi”.




Sekarang kami sudah sempurna berbalik posisi. Tante yang menindihku. Hanya sebentar. Tante lalu perlahan bangkit mendudukiku. Kelamin kami tak terlepas. Tante mulai bergerak. Aneh, gerakannya maju-mundur! Rasanya lain pula, tapi sama sedapnya! Dengan posisi begini gesekannya terasa lain. Kadang diputar, seperti diperas.




“Aaaahhhh.. kamu.. nakal” teriaknya ketika dia berjongkok membenamkan kelaminku, aku mengangkat pantatku.




Kedua tanganku diraih, dituntun ke dadanya. Kuremas dada yang tambah licin kena keringat.




Entah sudah berapa lama akhirnya Tante capek juga. Dia rebahkan tubuhnya. Kupeluk. Kumiringkan, aku ingin di atas lagi. Tante menurut. Dengan hati-hati kami mengubah posisi, agar jangan terlepas. Aku berhasil.




“Kamu… udah.. pintar..” pujinya.




Dengan posisi di atas aku jadi bebas menggenjot. Lagi-lagi Tante teriak.




“Terus.. To… Tante… hampir…”




Terus. Tusukanku makin menggila. Teriakannya makin keras.




Rasa geli datang, dimulai dari ujung penis, terus menjalar ke seluruh tubuh. Makin geli. Makin cepat aku menarik-tusuk. Kesemutan… mengambang.. melayang.. dan…




“Aaaaahhhhhhhh…”




Seeeerrr, denyut-denyut, seeerrr, bergetar, serrrrr, berguncang.. seer. Entah sudah berapa kali seerr, yang jelas setiap kali keluar aku merasakan kenikmatan yang tak bisa kugambarkan dengan kata-kata. Begitu nikmat. Aku sampai lupa memperhatikan tingkah Tante. Badannya telah bergeser ke atas karena ku “dorong” dengan tusukanku.




Lalu, hanya nafas kami berdua yang terdengar, seolah berebut mengisap oksigen untuk mengembalikan enerji yang keluar.




Lalu barangsur pelan, makin beraturan.




Tante masih “terkapar”




Aku lunglai di atas tubuhnya.




Ini keempat kalinya aku bersetubuh dengan Tante. Yang terakhir inilah kurasakan sangat berbeda dibanding tiga kali yang terdahulu. Lebih nikmat, lebih memuncak, lebih lama, lebih banyak aku mengeluarkan “air” ku, lebih bergetar, pokoknya… susah diceritakan. Pengalaman baru tentang rasa nikmat.




Dan lagi, mudah-mudahan pengamatanku tak salah, Tante begitu menggelepar, mengerang, teriak, berbeda dengan sebelumnya, Tante kali ini kelihatan “selesai”. Semoga begitu.




“Ooh.. To., kamu hebat” Diciumnya pipiku dengan gemasnya.


“Apanya yang hebat, Tante”


“Kamu betul-betul lelaki” tambahnya


“Memang dari dulu saya laki-laki. Ini buktinya” Kusodorkan kelaminku, menusuk perutnya.


“Laki-laki yang jantan” diremasnya penisku dengan gemas.


“Auu” teriakku


“To… luar biasa..” Tak putus-putusnya ia memujiku.


“Enak engga tadi, Tante?”


“Wow. bukan main. Sangat!”




Kupeluk tubuhnya. Aku merasa bahagia sekali.




“Tante sayang..” Aku berbisik semesra mungkin.




Agak kaget Tante memandangku, lalu tersenyum. Manis sekali!




“Ada apa ‘yang?” Wuih, mesra banget. Tante memanggilku ‘yang’.


“Saya sayang Tante” Kucium bibirnya.


“Hhmmmmmmm” lenguhnya.


“Kalau lama, enak sekali ya Tante”


“Kok kamu tadi bisa lama”


“Engga tahu, Tante. Mungkin karena tadi ronde kedua”


“Atau mungkin karena kamu udah mulai pandai”


“Yang pandai gurunya”


“Huuuu” cibirnya sambil mencubit kontolku. Aku senang.


“Guruku yang cantik”




Dicubitnya hidungku.




“Dan berpengalaman” godaku lagi.


“Aaah, udahlah, To”




Kami diam lagi.




“To.” panggilnya tiba-tiba.


“Ya. sayang”


“jangan tinggalin Tante, Ya”


“Oo, engga dong. Masa Tante yang jelita begini mau ditinggalin”


“Tante serius, To”


“Saya juga serius, Tante. Saya membutuhkan Tante. Saya ingin begini setiap hari, Tante”


“Saya butuh kamu” Nah ini baru pernyataan. Ini pernyataan baru. Tante membutuhkanku? Bukankan ia punya suami?


“Oom Ton gimana Tante”




Tiba-tiba wajah Tante berubah, agak sedih kulihat.




“Tante… ah engga. Pokoknya kita harus hati-hati, To. Ingat pesanku ‘kan? Tante juga senang kita bisa begini terus. Tapi hati-hati, ya?”


“Pasti, Tante. Saya akan hati-hati. Tapi Tante mau kan, tiap hari”


“Nanti kamu bosan”


“Saya sudah bilang, Tarto sayang Tante. Tarto butuh Tante. Tarto ingin menikmati setiap hari. Tadi Tante bilang membutuhkan Tarto. Maksudnya gimana Tante?”


“Iya. sama seperti kamu, Tante juga ingin setiap hari”




Klop ‘kan? Keinginan yang sama, saling membutuhkan, saling memuaskan, dan… saling menyayangi. Apakah ini yang dinamakan cinta? Ya, apakah kami saling mencintai? Aku memang tak ingin kehilangan Tante, tapi Tante sendiri bagaimana? Apakah ia membutuhkanku karena mencintai keponakannya ini? Atau karena aku baru saja memuaskannya?




Bagaimana dengan suaminya? Jangan-jangan ia tak mendapatkan kepuasan dari Oom Ton? Aku ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaan terakhir ini, tapi mana berani aku menanyakan langsung kepada Tante. Ah, itu tak penting. Yang penting, aku sekarang punya kekasih yang luar biasa, yang bisa membuatku melayang-layang di puncak kenikmatan.




Lelah benar aku malam ini. Bayangkan, malam ini dua kali aku “bertempur”. Terutama yang terakhir tadi, permainan lama yang betul-betul menguras tenagaku. Aku sekarang ingin istirahat.




Masih agak sempoyongan aku bangkit mengumpulkan pakaianku.




“Mau ke mana To?”


“Saya ingin tidur, Tante”


“Sudah tidur sini aja, temanin Tante”


“Saya senang sekali Tante, tapi besok Oom ‘kan pulang?”


“Paling cepat besok siang” Aku memperhatikan Tante yang dengan malas bangkit. Tubuh wanita ini memang luar biasa. Aku benar-benar beruntung mendapatkannya. Masih telanjang bulat Tante berjalan menuju kamar mandi. Tak lepas mataku menatapnya.


“Kenapa, To” Tante merasa aku tatap begitu.


“Tante memang indah” kataku sambil bergantian menatap dada dan ‘rambut’ bawahnya.


“Kamu memang nakal. Sudahlah, bersih-bersih dulu baru kita tidur”

Posting Komentar

0 Komentar