Euis memandang punggung orang-orang yang baru saja pulang. Para tetangganya setiap malam datang untuk sekedar menengok kondisi Asep yang telah tiga hari tak sadarkan diri. Luka dalam yang diderita oleh Asep membuat tubuhnya tak berdaya. Untunglah malam itu Asep masih bisa memaksakan diri berjalan dengan dipapah oleh Euis yang menggendong Adang untuk keluar dari hutan tutupan. Mereka tersaruk-saruk sepanjang malam berusaha pulang.
Luka luar dan luka dalam serta sisa tenaga yang tinggal sedikit membuat Asep rubuh tak sadarkan diri tepat di pinggiran kampung. Para penduduk kampung membantu mereka untuk pulang ke rumah dengan cara menggotongnya bersama-sama. Penduduk seakan tak percaya bahwa Hansip Ajum dan Tua Kampung ternyata dua orang yang telah berbuat jahat demi kesempurnaan ilmu Halimun Bajra.
Teh Euis merawat Asep selama tiga hari itu nyaris tak lepas dari sampingnya. Tak disadari oleh Euis bahwa tangannya yang selalu memegang telapak tangan Asep yang terluka parah mampu mengalirkan hawa hangat yang teramat dibutuhkannya untuk mementahkan hawa dingin yang membekukan tubuh Asep.
Teh Euis menutup pintu rumah dan menggendong Adang masuk ke kamar.
"Adang... yuk bobo..." Katanya sambil menidurkan adang di ranjang, bersebelahan dengan Asep. Euis juga merebahkan diri di samping Asep.
"Asep.... cepatlah sembuh...." Katanya sambil memeluk tubuh adiknya yang belum juga sadarkan diri.
Mata Asep terbuka.
"Asep... !" seru Euis, dirinya gembira melihat Asep akhirnya sadar.
Euis begitu terharu pada perhatian adiknya yang dalam keadaan terluka parah masih menaruh perhatian begitu dalam pada Adang padahal dia baru saja tersadar setelah tiga hari pingsan. Euis juga merasa sangat berhutang budi pada Asep yang mau mengorbankan diri demi menyelamatkannya dari sepak terjang dua aki-aki cabul yang berilmu tinggi.
"Jangan khawatir Sep... kita semua selamat, berkat pertolongan kamu." Kata Teh Euis sambil memeluk Asep lebih erat.
"Teteh bikinin teh manis hangat ya." Euis langsung ke dapur dan membawa segelas teh hangat yang manis.
Asep nurut, dengan susah payah dia duduk lelu menyeruput teh hangatnya.
"Asep... kamu teh punya ilmu kaya gitu dari mana ?" Teh Euis tak sanggup menahan kepenasaran yang sudah dia tahan beberapa hari.
Dengan didahului tarikan nafas panjang, Asep menerawang ke langit-langit lalu dengan pelan-pelan menceritakan hal-hal yang dialaminya.
"Gustii... ngga nyangka ternyata Hansip Ajum yang selama ini kita sangka sebagai Sandikala yang meneror kampung kita teh. Ih pikasebeleun." Teh Euis bersungut-sungut menyatakan kekesalannya.
"Tapi alhamdulillah berkat kamu, mereka berdua sudah tewas." Teh Euis makin bangga pada adiknya.
"Jadi, ilmu itu harus kamu buang Sep. Ilmu jahat itu mah kalau menuntut pemiliknya untuk memuaskan diri dengan tubuh perempuan." Kata Teh Euis lagi.
Asep menganggukkan diri, bertekad untuk membuangnya saat telah sembuh nanti.
"Terus kamu waktu pertama baru diisi ilmu jahat itu kok bisa bertahan ?" Teh Euis penasaran.
"Asep nyaris ngga tahan Teh, Asep waktu itu hampir saja lupa diri melakukannya pada teteh. Untungnya Asep keburu sadar, dan Asep terlalu sayang sama teteh." Asep menumpahkan pengakuan dosa nya pada teh Euis.
"Ih Asep.... teteh jadi tambah sayang sama kamu." Teh Euis memeluk lagi Asep dengan tambah erat, tambah bangga pada adiknya, dan bersyukur punya adik yang sangat menyayanginya.
"Ya udah sekarang Asep istirahat lagi sambil dipeluk teteh biar lebih cepat sembuh atuh." Teh Euis menawarkan diri untuk memeluk Asep setelah mengerti bahwa Asep butuh kehangatan dari tubuh perempuan.
Tapi ternyata kesembuhan tak kunjung datang. Waktu telah berlalu beberapa minggu dan Asep masih tetap berbaring di tempat tidur. Luka dalam yang dideritanya tak kunjung membaik, padahal hampir setiap waktu dia memeluk tubuh adiknya itu untuk memberikan kehangatan. Batin Euis menangis memikirkan bagaimana kalau Asep seperti ini terus seumur hidupnya ? cacat karena serangan Halimun Bajra ?
Tepat jam 12 malam saat itu ketika Teh Euis masuk ke kamar. Telapak tangannya membawa sesuatu di nampan.
"Asep.... Selamat Ulang Tahun ke 17 ya." Teh Euis menghampiri Asep di ranjang.
"Eh si teteh mah.... jadi ngerepotin begini." Tak disangka oleh Asep bahwa di ulang tahunnya yang ke 17 tetehnya membuatkan kue ulang tahun. Dia sebagai laki-laki jadi malu dipperlakukan seperti ini.
"Tapi ngga pake lilin Sep, teteh lupa beli." Kue itu ditaruhnya di pangkuan Asep yang telah duduk bersandar pada dinding.
Teh Euis naik ke ranjang, duduk berhadapan dengan Asep. Dipotongnya kue lalu sambil bercanda-canda menyuapi kue itu ke mulut Asep dan sesekali ke mulutnya juga.
Setelah habis satu potong, Teh Euis bertanya.
"Asep masih mau kuenya ?"
Asep menggeleng.
"Cukup teh, terima kasih."
Teh Euis menyingkirkan kue ulang tahun ke bagian ranjang yang jauh dari mereka. Teh Euis kembali ke depan Asep lalu duduk sambil memeluk lututnya dengan kedua tangan. Mata Asep langsung menangkap pemandangan didepannya karena daster Teh Euis langsung tertarik sampai ke pangkal paha. Asep menelan ludah melihat paha Teh Euis yang mulus bening sampai celana dalamnya terlihat.
Teh Euis juga melihat arah tatapan Asep yang sesaat melihat ke selangkangannya yang terbuka, dan akhirnya dia bersila dan merapikan dasternya agar tak terbuka lagi. Mereka jadi rikuh serba salah. Asep malu karena tertangkap basah melihat selangkangan Teh Euis yang terbuka, sementara Teh Euis juga malu.
Tapi malu kenapa ? pikirnya. Asep sudah melihat dirinya bugil tanpa sehelai benangpun sewaktu di pondok hutan. Asep juga sudah melihat dirinya digumuli aki-aki cabul itu walaupun tak berhasil mempergasanya.
Aku bisa menyembuhkan Asep, katanya lagi dalam hati.
Dia merenung lagi mempertimbangkan.
Mereka berdiam diri lagi.
"Asep.... teteh janji ngasih hadiah buat kamu kan ?" Tatapnya pada adiknya.
"Ngga usah dipikirin teh, Asep mah ngga butuh hadiah." Jawab Asep.
Teh Euis tertawa kecil lalu "Kamu rebahan lagi Sep. Biar teteh peluk lagi sampai kamu sembuh." Katanya.
Asep rebah lagi.
"Adang dimana, Teh ?"
"Ada, tidur di kasur kamu di depan." Kata Teh Euis sambil bangkit dari ranjang dan berdiri di lantai papan.
"Oooh gitu, tidur sendirian atuh." Asep masih memikirkan Adang, matanya belum melihat Teh Euis yang sedang berkutat membuka kancing dasternya.
Perlahan daster itu ditariknya keatas hingga lolos dari kepala. Teh Euis berdiri mematung, Asep terbelalak dan tercekat tenggorokannya tak mampu berkata-kata.
Dalam temaram lampu pijar 5 watt berwarna kuning, tubuh Teh Euis berkilatan ditimpa sinar redup dari lampu di kamar. Mata Asep seakan ingin keluar mencelat dari lobang matanya.
Dalam usianya yang 27 tahun, Teh Euis sedang cantik-cantiknya. Cantiknya bukan cantik seperti artis ibukota, melainkan cantik yang matang khas wanita Sunda di kampung yang sederhana namun tak kalah menariknya dengan perempuan kota.
Teh Euis senyum sambil matanya mengerling pada Asep, ada rona merah yang tak terlalu kentara pada pipinya. Sederet giginya yang putih dan rapi membuat wajahnya menjadi tambah menarik. Beberapa waktu lalu Asep pernah mengambil foto Teh Euis yang sedang tersenyum seperti ini pada saat Teh Euis malu-malu menyumbangkan lagu pada acara adat syukuran panen. Suara Teh Euis merdu sekali kalau nyanyi. Asep masih menyimpan foto itu di handphone-nya.
Senyum dan tawa Teh Euis yang bersemu malu itu malah membuat Asep makin tercekat di tenggorokannya.
Glek
"Ih Asep meni gitu ngeliatnya." Teh Euis tertawa kecil sambil melempar daster yang baru saja dilepasnya ke wajah Asep. Daster berbahan satin halus itu nampol wajah Asep, lalu jatuh di pangkuannya. Asep masih melotot dengan mulut menganga.
Coba lihat itu dadanya yang cukup besar itu mumbul keatas tertekan oleh beha warna marun. Sembulan dadanya yang membukit mengkilap tertimpa cahaya lampu kamar, menggambarkan kepadatan yang membuat lelaki manapun ingin segera meremasnya. Asep hanya sanggup meremas seprai di kasur tanpa dapat berkata-kata, bahkan menutup mulutnyapun dia lupa.
Tangan lentik Teh Euis yang mengenakan gelang berwarna merah meraih ke balik punggungnya. Teh Euis kembali melemparkan beha warna marun ke muka Asep yang masih saja nganga seperti anak kurang gizi. Beha itupun jatuh di pangkuan Asep tepat diatas daster yang tadi.
Tubuh ramping Teh Euis dengan perut yang begitu rata walaupun sudah melahirkan, sangat serasi dengan dua buah dada indah yang menggelayut seiring gerakan tubuhnya yang baru saja melempar beha. Putingnya sebesar ujung kelingking, berwarna cokelat muda memerah jambu. Lingkaran areolanya berwarna cokelat lebih muda lagi cenderung pink, sangat berpadu manis dengan daging buah dadanya yang putih bersih tak bernoda.
Teh Euis melangkah mendekati ranjang dimana Asep sedang duduk bersandar di dinding sambil terbengong-bengong. Pinggulnya montok oleh sedikit lemak yang setiap lelaki manapun tua maupun muda tak keberatan dengan lemak itu karena pinggulnya jadi terlihat empuk lunak namun kenyal. Pinggul itu melenggok dengan hanya sepotong celana dalam yang juga berwarna marun.
"Hmmpppp...." Bibir Asep tertimpa bibir sensual Teh Euis yang lalu menyedot bibir bawahnya.
Nafas Teh Euis harum sekali dan begitu menghangatkan.
Dua gumpal daging lunak menempel lekat di dada Asep. Begitu juga buah pantat Teh Euis yang empuk terasa hangat pada kejantanan Asep yang tengah membuat sebuah tenda ukuran pleton di celana.
"Teh....." Desah Asep di sela-sela bibir ranum basah Teh Euis yang terus mengecupi bibir bawahnya.
Tubuh Teh Euis sekarang bergerak menggeliat meliuk turun naik membuat gumpalan dadanya menggeseki dada Asep. Jemari Teh Euis merayap membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan Asep. Dan gumpalan hangat itu melekat di dada telanjangnya. Kulit yang begitu halus menempel pada kulitnya. Asep bergetar.
Teh Euis menggeser pantatnya sampai ke paha Asep sehingga dua payudara lunaknya menekan kejantanan Asep di balik celana yang nyaris tak muat lagi karena kejantanannya begitu membengkak. Kecupan bibir hangat Teh Euis turun ke dada Asep yang terdengar berdetak dengan kencang.
Asep merasakan geli-geli yang nyaman atas elusan dari ujung-ujung rambut Teh Euis yang jatuh menimpa perutnya yang mengencang menahan rasa yang luar biasa. Tangan Asep bergerak dan hinggap di kepala Teh Euis lalu mengelus rambutnya dengan penuh perasaan.
Mimpi apa Asep semalam ?
Asep masih ingat betapa melototnya Atoy melihat dada dan pantat Teh Euis. Apa kabar kamu Atoy ? silahkan Anah untukmu saja karena di pelukanku sekarang ada seorang wanita dewasa yang matang dengan segala kelebihannya.
"Nggggghhhhhh....."
Asep melenguh keras karena ada sesuatu yang lunak dan hangat menyelimuti kejantanannya. Waktu dilihat ke bawah ternyata Teh Euis sudah berada disana, ritsluiting celana pendeknya telah terbuka dan bibir ranum Teh Euis sedang menyelomoti kepala kejantanannya.
"Teeeh... geliiii...." Desahnya.
Mendengar itu, Teh Euis bukannya berhenti tetapi langsung menelan kejantanan Asep hingga tembus ke tenggorokannya yang sempit. Tubuh Asep bergetar dibuatnya.
"Ahhhhhhh......" Desah Teh Euis seraya mencabut kejantanan Asep dari mulutnya.
"Ngga panjang tapi gede banget Sep...." Kata Teh Euis sambil memandang Asep dari bawah sana.
Asep hanya nganga.
"Kamu belum pernah ?" Tanya Teh Euis lagi.
Asep menggeleng lemah.
Teh Euis menyampirkan rambut yang jatuh ke wajahnya dan memegang rambut itu di bahunya. Sambil bertatapan dengannya, Teh Euis membuka bibir dan.... kejantanannya masuk perlahan memenuhi mulut Teh Euis, dan terus masuk kedalam hingga tenggorokannya lagi.
Asep kembali jatuh melayang di awang-awang. Pantatnya mengangkat-angkat sambil mengempot-ngempot tersiksa dalam kenikmatan. Tubuh Asep basah oleh keringat, padahal dia hanya duduk diam tak bertenaga.
Teh Euis menghentikan selomotannya lalu sambil tetap nungging tangannya beregerak melepaskan celana dalam marun. Sambil menatap matanya, Teh Euis tersenyum maniiiiiis sekali. Tubuhnya merayap mendekati Asep lalu memeluk lehernya.
Pantat kenyal Teh Euis turun. Ujung kejantanan Asep menyentuh sesuatu yang lunak, licin dan hangat.
Inikah rasanya kemaluan perempuan ? Pantas saja sampai banyak lelaki melupakan segala harta benda dan jabatan demi perempuan. Padahal, Asep baru menyentuh luarnya saja tapi rasanya sudah seperti didalam surga.
Tangan kanan Teh Euis turun kebawah, memegang batang kejantanan Asep yang keras. Kejantanannya dioles-oleskan pada sebuah celah yang licin hangat. Kaki Asep berkejat-kejat tak kuat menahan rasa nikmat.
Setelah dirasa pas, Teh Euis menekan pantatnya.
Perlahan kepala kejantanan Asep yang sudah sangat sensitif itu melesak kedalam celah yang lunak.
Teh Euis berhenti sesaat waktu kepala kejantanan itu sudah melesak. Pantatnya ditarik lagi sampai kejantanan Asep keluar dari celah nikmatnya. Kejantanan Asep meronta-ronta di tangan Teh Euis yang terus memegangi, karena ingin segera masuk lagi.
Pantat Teh Euis menekan lagi, dan kejantanan Asep melesak lebih dalam. Saluran vagina wanita itu konon katanya mencengkeram dengan erat batang lelaki sampai keenakan, tapi nyatanya sekarang Asep baru tahu kalau itu tidak tepat.
Yang lebih tepat adalah bahwa kemaluan Teh Euis diawali dengan dua daging empuk di kiri kanannya membentuk gundukan empuk. Begitu empuknya sampai Asep merasa kalau empuknya mirip dengan lidah yang tadi menyelomoti dirinya. Licinnya juga sama, karena ternyata cairan seorang wanita akan membuat seluruh bagian dalam vaginanya menjadi lembab bahkan kelembaban itu akhirnya turun menetes di kedua daging empuk tadi dalam bentuk lelehan lendir bening.
Kenikmatan yang mendera Asep bukan hanya pada saat kejantanannya masuk ke vagina Teh Euis. Bahkan pada saat didiamkan mengeram disanapun otot-otot vagina Teh Euis yang berimple-rimple terus bergerak menyelimuti.
Tak kalah nikmatnya waktu pantat Teh Euis naik keatas, dan kejantanan Asep tepatnya pada bagian bawah helm yang berbatasan dengan leher (itu bagian paling merasa enak) keluar bergesekan dengan lorong hangat lembut licin berlendir. Uahhhh pokoknya.
Rasanya sungguh luar biasa, tangan kalian yang sering masturbasi tak akan mampu menandingi betapa jauhnya perbedaan rasa nikmat yang dihasilkan oleh tangan kalian dan oleh kemaluan perempuan. Apalagi perempuan itu adalah Teh Euis yang cantik dengan tubuh mulus sempurna serta berkarakter lemah lembut anggun tetapi goyangannya sungguh binal menggoda bak pelacur seharga dua juta.
Para suhu sekalian, kalau masih ingin bisa bekerja keluar rumah dan mencari uang, jangan pernah menikah dengan perempuan di kampungku karena dijamin tak ingin keluar rumah untuk bekerja. Inginnya di rumah terus sambil sarungan dan membiarkan istri dasteran biar gampang eweyan. (wkwkwk)
"Memek Teteh ngga enak ya Sep ?"
"Uuuh adik teteh jahat... masa memek teteh ngga enak...." Tubuh atas teh euis bergoyang ke kiri ke kanan berikut juga kepalanya. Matanya terpejam merengek karena kecewa disebut ngga enak. Teh Euis yang terus merengek seperti itu malah membuat Asep makin terbang ke surga karena ketika merengek-rengek itu kewanitaannya menjadi berputar-putar.
"Bener teh...." Asep kembali meyakinkan.
"Beneran enak...." Aduuh drama sekali, kata Asep dalam batinnya.
"Kok diem aja ngga bersuara ?" Kata Teh Euis manja sambil pantatnya terangkat ke atas, lalu tiba-tiba menghunjam dan bergerak turun naik ke atas ke bawah dengan cepat sampai di bawah sana terdengar suara kocokan..
crok crok crok crok crok
Asep yang diprotes diam saja tak bersuara tanpa ampun lagi berteriak lepas menyatakan rasa sedap nikmat yang sedang dideritanya.
"AAAAAAAAHHH.... AAAAAHHH... ADUUUUUH.... OOOOH....ENGGGGHHH..."
Teh Euis tersenyum bahagia. Suara teriakan Asep tak berbohong. Miliknya dibawah sana memang rasanya pasti enak.
SLEP..
Helm kejantanan Asep serasa mau copot karena patah, tetapi kok rasanya luar biasa ?
Kedua tangan Asep lepas dari gerakan meremas di dada kenyal Teh Euis, lalu memegangi samping kiri kanan pinggul yang empuk. Asep memegang erat lalu menariknya seketika.
Slep.
"Mau keluar yah ?"
Aduuh teteh kenapa nanya..... Asep sudah mengejang-ngejang begini kakinya pasti ga bisa jawab.
"Teteh juga da mau keluar." Bisiknya.
Teh Euis langsung bergoyang seperti pantat penari jaipong. Memang Teh Euis ini selain pandai bernyanyi juga pinter nari jaipong.
Asep bertahan.
Asep bertahan lebih kuat.
Tiba-tiba
Teh Euis menekan kejantanan Asep dalam sekali.
Sambil kelojotan memuncratkan air mani di rahim Teh Euis, Asep melolong menikmati ejakulasi pertamanya bersama perempuan.
"Aaaaaaaaaaaaaaaakkkkhhhh....."
"Asep adik teteh..... selamat ulang tahun.... ini hadiah dari teteh." bisiknya sambil memeluk Asep dengan kuat.
Asep terus terlonjak-lonjak menikmati gelombang kenikmatan yang bergulung-gulung dan memuntahkan isi kantung spermanya terus dan terus.
Asep dan Teh Euis rubuh dalam rebahan.

0 Komentar