TEH EUIS PART 11

 

Kejutan

Dalam gelegak nafas yang memburu, amarah Asep bergolak membuncah-buncah. Otot-otot dan urat pada lengan, leher serta dada remajanya menegang bertonjolan. Panas dari pusarnya menghangatkan seluruh otot-otot di badan hingga tubuhnya mengepulkan uap ketika tersaput hawa dingin halimun yang menyakitkan. Giginya berdecit dan gemeletuk menahan nafsu amarah yang tak menemui musuh untuk diluapkan. Didalam dadanya amarah itu mengental membentuk dendam yang keras bagai batu menyesakkan.

Didalam kepalanya teringat bagaimana nasib Teh Euis yang selalu lemah lembut memanjakannya dengan tulus hati ? Apa nasib Adang sang keponakan yang belum dapat melawan jika terjadi apa-apa pada dirinya ?

Sakit.

Sakit sekali hatinya.

Mengingat mereka berdua, Asep tak mampu lagi menahan perih dalam dada. Di kampung ini hanya ada mereka bertiga, tak ada sanak saudara atau orang tua. Hatinya menjerit memanggil sang abah, dia merasa gagal menjaga keluarga. Air mata mulai mengambang pada pelupuk mata.

Samar-samar didalam udara tercium sesuatu yang wangi, entah wangi apa, bunga-kah itu ? Asep menajamkan penciumannya. Wangi itu masuk kedalam hidung dan mengalir ke paru-paru menyebar di seluruh pembuluh saraf, sebuah wangi yang menenangkan memberi rasa nyaman. Tak mampu dicernanya wangi itu berasal dari apa, belum pernah wangi seperti itu dikenal dalam hidupnya. Dirinya berkonsentrasi memusatkan perhatian pada aroma itu, dan perlahan aroma itu semakin terasa kuat bahkan dirinya dapat menentukan arah sumber aroma tersebut.
Kakinya mulai bergerak perlahan menuju sumber wangi itu. Hidungnya mengendus-endus bak serigala mengendus musuh. Asep melangkahkan kaki menapaki rumput dan masuk kedalam gelapnya hutan. Wangi yang nyaman itu menuntunnya.

Sebentar-sebentar diangkatnya kepala lalu tengadah menghirup udara di sekelilingnya yang pekat oleh kabut. Setelah berhasil menentukan arah, kakinya melangkah lagi masuk lebih jauh kedalam hutan. Asep tak tahu bagian dari hutan yang dimasukinya, nampaknya adalah hutan tutupan yang belum pernah dijelajahnya.

Dari kejauhan nampak berkelebat sesuatu yang besar berkaki empat berekor panjang tebal. Sesaat dirinya kaget melihat kelebatan hewan berwarna hitam dengan mata hijau menyala itu. Tapi Asep menguatkan diri, jika dirinya harus menjadi santapan hewan itu biarlah dia mati demi mencari teteh dan keponakannya.

Kakinya kembali melangkah.
Macan hitam itu mengikuti dari balik bayang pepohonan dan rimbun dedaunan.

Bibir Asep menggumamkan sesuatu untuk menenangkan hati.

... lain ngusik ula mandi-na,

... lain ngahudang macan turu-na.

(tiada niat mengusik mandi-nya,
tiada maksud membangunkan tidur-nya sang macan)

Tetapi macan hitam itu terus mengikuti di sampingnya, di balik pepohonan.

Ketika Asep kehilangan arah atas aroma wangi yang diikutinya, macan hitam itu loncat ke satu arah seakan-akan menunjukkan jalan.


Ahh.... kamu menunjukkan jalan untukku rupanya.

Menyadari itu, Asep mulai berlari mengikuti sang macan hitam.

Masuk jauh sekali kedalam hutan di puncak Gunung Halimun yang terlarang.

Dia meloncati semak, melangkahi akar pepohonan yang saling berjalin di tanah, merangkak pada sela-sela pohon yang tumbang. Macan hitam terus berada di depannya.

Nafasnya terengah ketika macan itu diam merangkak perlahan seakan sedang mendekati buruan didepannya, memandang ke depan, ke sebuah gubuk di tengah hutan. Tak lama kemudian sang macan hitam menggeram lalu melompat hilang kedalam hutan yang kelam. Aroma wangi yang tadi menuntunnya pun sekarang tak tercium lagi.
Gubuk yang berdiri tepat di samping sebuah mata air bening yang membentuk solokan, untuk kemudian mengalir berkilometer menuruni lembah, membesar menjadi sungai yang jatuh ke jurang sebagai dua buah air terjun yang bersisian.

Ini adalah sumber mata air Curug Panganten.

Lelaki tua itu menghentikan ritualnya yang baru saja tamat lalu wajahnya berpaling kearah sesosok tubuh yang tergeletak tak jauh darinya dalam kondisi kering bagai telah tersedot seluruh cairan tubuhnya. Tubuh lelaki berbaju hitam itu gemetar kedinginan, pada ujung-ujung kumisnya terdapat bulir-bulir air yang telah menjadi es.
Sang lelaki berbaju hitam bangkit dari sila, berjalan menuju gubuk melewati tubuh yang tergeletak mati dalam keadaan kering kerontang.


"Betapa beraninya kamu datang ke tempat ini, Ajum."

Lelaki itu puas melihat Hansip Ajum telah tewas akibat bertempur dengan dirinya.

"Tanpa seijinku, kamu berniat menambah kekuatan ilmu yang kau curi dariku." Desisnya dengan geram.


Lelaki berbaju hitam itu yakin bahwa Hansip Ajum yang telah mati tergeletak di tanah tak akan sanggup melawan dirinya lagi. Apalagi barusan dirinya telah melakukan ritual untuk menyerap tenaga lebih besar dari mata air Curug Panganten. Dia sadar bahwa ritual itu akan menimbulkan efek samping yang sepadan dengan yang telah diberikan. Tubuhnya telah mulai gemetaran dingin tak tertahankan. Tapi dia telah siap menerima efek sampingnya.

Dia ingat sesuatu yang akan dapat menjadi pengobat dari efek samping itu, dan itu membuatnya terkekeh. Segera saja dia melangkah masuk kedalam gubuk.


"Untung kamu membawa bekal pengobat efek samping ini, Ajum." Dan lelaki berbaju hitam itu terkekeh berkepanjangan.

Didalam gubuk, ada dua tubuh tergeletak. Yang satu adalah seorang perempuan berkulit putih dengan wajah cantik khas perempuan Sunda. Yang satu lagi seorang anak kecil berusia sekitar dua tahun. Dua-duanya tergeletak tak sadarkan diri pada bale-bale bambu.

Lelaki itu terkekeh lagi. Dia lalu mendekati perempuan cantik yang tergolek didepannya.

Rasa dingin yang dideritanya seketika mulai terhangatkan pancaran hawa hangat yang menguar dari tubuh perempuan cantik berhijab itu.

Euis... terpaksa kureguk kehangatan darimu.

Dengan gigi gemeletuk menahan dingin yang luar biasa akibat ritual tadi, lelaki tua itu rebah di samping tubuh Euis yang tak sadarkan diri. Tangan lelaki tua itu meraba wajah cantik Euis lalu menarik hijab crinkle warna putih yang tengah ia kenakan.

Euis... ngapain kamu sekarang pakai hijab segala, buka aja ya.

Dia tercekat melihat wajah cantik berkulit putih bening terpampang di hadapannya. Kulit tangan keriputnya yang hitam terlihat kontras di kulit putih bening dan kencang di wajah Euis. Dari wajah, tangan keriput itu turun ke bibir Euis yang memerah dadu dengan bentuk yang indah dan penuh daya tarik sensual.

Tangan itu terus turun ke leher jenjang yang menawan, lalu semakin turun merayapi dua bukit di dada Euis yang turun naik seiring dengan irama nafasnya yang teratur. Ditekannya sedikit bukit itu, terasa kenyal dan hangat. Akhirnya tangannya terus turun ke perut Euis yang rata, dan berhenti sesaat pada gundukan bukit dibawah perut. Kehangatan terasa amat kuat terpancar dari sana. Tetapi tangan sang lelaki tua itu terus turun ke paha hingga betis.

Dengan jarinya, dia menjawil ujung gamis yang tengah dikenakan Euis. diangkatnya perlahan keatas.

Glek

Ditelannya ludah, karena tak tahan ingin segera menggumuli perempuan cantik bertubuh langsing namun padat itu. Gamis Euis semakin terangkat memamerkan dua paha yang sangat sangat sangat indah.
Glek

Tubuh sang lelaki tua gemetaran, selain karena rasa dingin dari dalam tubuhnya sendiri, juga karena nafsu yang mulai terbit menagih kehangatan perempuan. Tangannya terus menarik ujung gamis itu hingga bagian terlarang Euis yang membukit terpampang. Akhirnya dengan cepat diloloskannya gamis yang dikenakan Euis melalui kepalanya. Tubuh itu setengah telanjang, menguarkan kehangatan, mengundang nafsu setan.

Dan sang lelaki tua segera membuka seluruh baju pangsi hitamnya hingga tak bersisa satu helai benangpun di tubuhnya yang hitam keriput. Satu bagian tubuhnya terlihat tegang, bergoyang-goyang. Dia pun akhirnya naik ke tubuh Euis, menindihnya dengan rapat.

Aaaaaaahhhhhh
Mulutnya mendesiskan kenikmatan yang dirasakan dari mengalirnya kehangatan dari tubuh perempuan muda beranak satu itu. Kulitnya yang kedinginan bersentuhan langsung dengan kulit di sekujur tubuh Euis yang begitu halus dan mulus memabukkan menularkan kehangatan.

Kedua tangan yang berada di balik punggung Euis mencari kaitan, dan berakrobat membukanya. Beha putih Euis terlempar ke lantai tanah. Mulutnya sekarang bersarang pada payudara Euis yang besarnya tidak berlebihan, pendek kata besarnya pas dalam genggaman tangan lelaki dewasa. Kekenyalan buah dada Euis membuatnya tak henti henti menyucup puting payudaranya yang sebesar ujung kelingking.

Lama-lama puting payudara Euis yang berwarna coklat muda kemerahan menjadi keras memucuk tegang walaupun yang punya puting sedang tak sadarkan diri. Lelaki tua itu dengan gemas menggigitinya bergantian kiri dan kanan.

Secara berangsur-angsur perlahan, rasa dingin yang menggigitnya kini mengendur berkat kehangatan tubuh kencang Euis yang digumulinya dengan penuh nafsu. Dia makin tak kuasa menahan birahi yang memuncak dengan cepat.

Kecupan mulut lelaki tua itu turun ke perut Euis dan akhirnya tertegun pada selangkangan indah yang terbalut celana dalam putih polos berbahan poliester dengan satu bunga kecil di tengah karet pada bagian perut.

Mulutnya turun menempel ketat bagai lintah pada gundukan bukit selangkangan Euis yang memancarkan kehangatan paling kuat. Bahkan udara di sekitar selangkangan itu menjadi hangat dan masuk kedalam setiap hirupan lelaki tua keriput yang telanjang itu. Lelaki tua lintah darat itu menyedot habis seluruh sari-sari beraroma memabukkan pada sebuah celah yang merekah.
Birahinya tak tertahankan.

Dia merobek celana dalam Euis dengan satu hentakan yang kuat.

Oh Dewa...... mahlukmu ini begitu indah tak terduakan.

Matanya nyalang melihat paha Euis terkangkang, membuat gundukan lunak hangat itu terpampang sempurna.

Aaaaaaaaahhhhh......

Saking tak tahan lagi, tubuhnya yang baru saja mulai menghangat akhirnya merangsek memeluk tubuh telanjang Euis yang tergolek tak berdaya. Dengan berguling-guling seraya memeluk tubuh perempuan muda nan cantik dan mulus itu sang lelaki tua mendengus-dengus menyeruputi pucuk payudara Euis yang tegang. Tak ada seorangpun yang dapat mengganggunya dalam menikmati tubuh perempuan muda itu, pikirnya. Dia menggunakan waktunya secara tak terburu-buru.

Satu cupangan bersarang.
Dua cupangan dibuatnya.

Dipandanginya buah dada kenyal yang telah berhias dua cupang itu, dan dengan terkekeh dia membuat dua cupang tambahan pada payudara Euis yang satu lagi. Sang lelaki tua memuaskan diri bermain-main dengan tubuh padat kenyal perempuan tercantik di kampungya.
Setelah merasa cukup bermain-main memuaskan diri dengan tubuh perempuan itu, sebagian besar rasa dingin telah tergantikan oleh rasa yang segar dan hangat. Tinggal sedikit menggigil saja.

Sang lelaki tua terkekeh lagi lalu dibantingnya lagi tubuh Euis hingga telentang. Kedua kakinya menyelinap diantara paha Euis yang terkangkang. Dia mulai mencari-cari.

Ah...... heunceut si Euis empuk banget, batinnya ketika kepala kejantanannya yang tengah menegang menempel disana.

Lelaki tua itu bergoyang, pantatnya ke kiri dan kekanan berusaha mengepaskan kepala kejantanannya yang sudah teramat sensitif pada bibir kemaluan euis yang terbuka. Setelah ditemukan posisi yang pas, dia mulai sedikit menekan.

Aduuuuuh..... baru di permukaan heunceutnya saja perempuan ini begitu nikmat.

Aaaaaaaaah.....



Tangan kirinya menahan serangan sebuah tendangan dengan membuangnya kearah kiri. Tendangan itu terbuang tetapi dilanjutkan dengan serangan kaki satunya lagi yang mengarah pada selangkangannya yang terbuka. Penyerangnya mengikuti hempasan tenaga dari tangan kiri lelaki tua itu dengan menjatuhkan diri sambil memasukkan kakinya yang satu lagi.
Lelaki tua itu berhasil melindungi dirinya dengan menggunakan tangan kanannya. Penyerangnya bergulung ke belakang lalu dengan anggun berdiri memasang kuda-kuda dengan dua tangan melindungi dada.


"Pak Tua Kampung !!!!"

Asep kaget melihat siapa yang tengah menggumuli tetehnya yang tak sadarkan diri dalam keadaan bugil.

Tua Kampung tak menjawab, karena dia juga kaget melihat Asep berhasil sampai ke tempat ini tanpa bantuan siapapun.

"Apa yang sudah bapak perbuat sama Teh Euis ???" Asep meluapkan amarahnya.
"Belum sampai apa-apa... keburu kamu datang." Tua Kampung menjawab dengan kesal.
Sekilas Asep melirih pada Teh Euis yang telentang dengan kaki mengangkang.

"Kamu mau... Sep ? kita bisa hentikan gelut ini dan sama-sama menikmati tetehmu." Tua Kampung berusaha negosiasi.
"Setan !" Seru Asep.
"Jangan pura-pura, Sep. Aku tahu kamu butuh perempuan akibat ilmu yang kuberikan." Pak Tua terkekeh membayangkan berdua Asep berbagi daging segar yang hangat.

Tapi Asep tak sudi.

"Bejat !" Teriaknya sambil loncat penuh amarah melayangkan satu pukulan 'Banteran' yang luar biasa cepat ke arah muka Tua Kampung. Tetapi Tua Kampung bukanlah orang sembarangan, dirinya telah malang melintang makan asam garam di dunia pergelutan. Dengan satu tangan diterimanya serangan Asep sambil terkekeh kekeh.
"Kamu belum coba nikmatnya heunceut tetehmu... Sep." Katanya sambil beradu tenaga dengan Asep di tangan.

Bluk.


Anak ini luar biasa, desisnya dalam hati.

Asep mengalami hal yang lebih parah. Tubuhnya mencelat jauh ke belakang menabrak dinding bambu dan membuat dinding bambu berpatahan. Gubuk tua berkreotan dibuatnya.


"Hekkkkkk....." Nafas Asep tertahan di dada. Seluruh tubuhnya sakit. Dengan lengan kanan diusapnya mulutnya yang hangat. Merah darah.


Tak ingin menyerah, dia bangkit lagi dan tanpa banyak bicara tubuhnya loncat kembali melayang dengan kaki terarah ke leher Tua Kampung yang juga telah memasang kuda-kuda.

BLUG !

Tua Kampung kembali terdorong ke belakang, dirinya belum sepenuhnya siap memasang kuda-kuda.
Blek. Tubuhnya terduduk pada bale-bale, menimpa tubuh Euis dengan cukup kuat.


"Hekkkk...." Teh Euis terhenyak karena hentakan tubuh Tua Kampung pada dadanya. Badan Teh Euis menggeliat.

Tua kampung langsung berdiri lagi, dia sudah merasa cukup melawan Asep secara fisik. Walau bagaimanapun tenaga fisiknya yang sudah aki-aki tak akan mampu bertahan cukup melawan tenaga remaja Asep yang luar biasa.

"Bedebah." Gumam Asep, merasa puas telah mendaratkan serangan kaki dengan telak.

Tua Kampung berdiri dalam posisi kuda-kuda mendatar, lutut ditekuk dua-duanya sejajar, tubuh agak turun, kedua kepalan tangan berada di pinggangnya menekan bagian pusar. Dari mulutnya dia membacakan sebuah mantra.

Seketika ruangan didalam gubuk itu menjadi dingin menusuk tulang.

Teh Euis menggeliat lagi lalu matanya terbuka. Demi menyadari dirinya telah tak berbusana sedikitpun maka dia langsung duduk meringkuk sambil matanya memandang ke arah dua lelaki yang sedang saling serang. Matanya terbuka lebar penuh rasa takut. Dilihatnya Pak Tua Kampung tak berbusana sedikitpun seperti dirinya, dan secara naluri Euis langsung memeriksa tubuhnya terutama pada bagian selangkangan. Tak dirasa ada sesuatu cairan kental disana. Dirinya agak merasa lega. Dia kembali duduk meringkuk menutupi tubuh telanjangnya dengan kedua tangan.

Di ujung sana dia melihat adiknya tengah memasang kuda-kuda, dari bibirnya terlihat darah segar mengalir.

"Asep !!!!!" Teriaknya khawatir akan keadaan adiknya yang tersayang.

Yang dipanggil tak menjawab.

"Huaaaaahhhhhh !" Dengan satu teriakan nyaring, Tua Kampung mendorong kedua tangannya dari pinggang ke arah depan. Dua telapak tangannya terarah ke dada Asep.

Asep berusaha melakukan gerakan suliwa untuk membanting dua tangan Tua Kampung yang sedang meluncur deras ke arah dadanya.

Tangan Asep bagaikan beradu dengan tembok beton yang tak mungkin dihancurkan. Gerakan suliwa yang dilakukannya berantakan, sementara dua telapak tangan Tua Kampung terus meluncur dengan deras.
"Aaaaaaaaahhhhh....." Tubuh Asep tak mampu bergerak terkena pukulan dingin. Dadanya serasa beku sampai bernafaspun sulit dilakukan. Rasa dingin yang luar biasa menyebar dari dadanya ke seluruh tubuh. Tubuh Asep mulai membiru beku. Tak mampu bergerak.
"Hahahaha.... cicak mau ngelawan buaya." Ledek Tua Kampung.
"Uwooook......" Asep terbungkuk lalu memuntahkan darah segar yang langsung membeku di lantai tanah.


Tua Kampung tak memberi ampun, dia merangsek dengan serangan lututnya yang juga dingin.

BUGGGGG ! Tendangannya bersarang di perut Asep yang sedang terbungkuk.
Tendangan itu membuat tubuhnya tambah membiru. Asep terjengkang ke belakang lalu terjatuh dengan posisi telentang. Tak sadarkan diri.

Tua Kampung akhirnya tertawa terkekeh sambil menghampiri Euis yang meringkuk.
"Jangan Pak... ampun...." Euis memohon, tapi permohonannya tak didengar Tua Kampung.

Dengan satu hentakan, tubuh Teh Euis yang telanjang didorongnya hingga terkangkang. Tua Kampung sendiri langsung menerkam, menindih Teh Euis yang tak mampu melawan.

*********************

Asep membuka mata.


Dirinya ada di sebuah pinggiran hutan di tepi pantai. Beberapa orang dalam pakaian celana hitam sebatas lutut dengan kain batik tersampir di pinggang sedang duduk dengan kepala tunduk di hadapan seseorang yang bertelanjang dada. Orang itu mungkin berusia belum terlalu tua, berkumis tebal dan berjanggut rapi memancarkan wibawa. Orang itu begitu gagah walaupun dia sedang duduk pada sebuah tunggul pohon yang tumbang, satu tangannya di pinggang. Namun raut wajah orang itu memancarkan kesedihan yang begitu dalam.



ka para karuhun,
kula neda pangampura,deuk nginjeum ngaran,
Pun !
Lelaki gagah itu berbicara dengan suara yang serak dan berat, penuh kesedihan :



tanpa rupa tanpa suara
tapi memberi tanda dengan keharuman yang wangi

Asep tak sanggup beradu pandang sorot mata yang penuh wibawa.


Dan Asep membuka mata. Dia telentang di dalam gubuk.
Samar-samar didengarnya suara Teh Euis memohon ampun.

Persis seperti keharuman yang menuntunnya ke tempat ini.

Dengan satu tarikan nafas, Asep berkonsentrasi lalu bangkit berdiri. Dua tangannya menekan kedua pinggang membangkitkan tenaga yang terpendam jauh didalam. Sambil berjalan perlahan, Asep menghampiri dua tubuh yang sedang bergumul di bale-bale.

Tapi tenaga Asep hilang sudah ketika itu. Tubuhnya juga rubuh di lantai tanah tanpa daya. Dua serangan yang tadi diterimanya dari Tua Kampung masih menyisakan dingin yang menyiksa. Asep terluka dalam, yang kalau menurut istilah dari Kho Ping Ho adalah Amsiong.

Posting Komentar

0 Komentar