vaginanya agar tepat berada di atas kepala penisku yang berdiri tegak.
Tangan kanannya meraih penisku agar tepat berada di depan liang vaginanya dan, Blesskkhhhh..!! “AUUWW.!!. Auww..! Ahhhh.!!.”
Secara perlahan dia menurunkan pantatnya, sehingga kembali batang penisku, menyusuri dinding vagina yang sangat nikmat dan memabukkan, ”Aaahhh..!!” erangan nikmat kembali keluar dari mulutnya.
Lalu dia mulai menaik-turunkan pantatnya agar batang penisku mengaduk-ngaduk vaginanya dari bawah, Semakin lama gerakannya semakin melonjak- lonjak sambil tiada henti mengerang penuh kenikmatan.
Kdua tanganku memegang kedua buahdadanya dari belakang, sambil meremas dan mempermainkan putting susu yang semakin keras dan menonjol.
Kepalanya mulai terdongak dan menoleh ke belakang, mencari bibirku, atau bagian leherku yang bisa diciumnya, Hingga
kami pun berciuman dalam posisi yang sangat menggairahkan, Lonjakan tubuhnya semakin keras dan kaku, dan beberapa saat kemudian kembali batang penisku, Mmerasakan pijatan dan remasan yang khas dari seorang wanita, yang mengalami orgasme sambil menjerit nikmat. “Aaauuuuuwwwww, Aaakkhhhh..!!”
Namun saat ini, aku tidak memberi waktu padanya untuk beristirahat, Sebab aku merasa ada dorongan dalam tubuhku untuk segera mencapai puncak,
karena napasku sudah tersengal- sengal tidak teratur.
Maka kuminta ia untuk posisi nungging, dengan kaki kanan di lantai, sedang kaki kiri di tempat duduk kursi, sedangkan kedua tangannya bertahan pada kursi.
Lalu kaki kananku menjejak lantai, sedang kaki kiriku kuletakkan di belakang kaki kirinya, sehingga selangkanganku tepat berada di belahan pantatnya yang putih, montok dan mengkilat oleh basahnya keringat.
Tangan kananku mengarahkan kepala penisku, tepat pada depan liang vaginanya yang basah dan semakin menggairahkan.
Slepp, Kuselipkan kepala penisku di lepitan vaginanya.
Lalu aku mendorong pantatku. Blessepp..!! “Auw, Auw, Ouhhhh..”
Kembali ia mengeluh nikmat ketika merasakan batang penisku kembali memasuki dirinya dari belakang.
Kugerakkan pantatku agar batang penisku kembali mengocok dinding vaginanya.
Fatma memaju-mundurkan pantatnya, menyambut setiap sodokan batang penisku, sambil tak henti-henti mengerang nikmat, “Ouh, ohhh, ayoo, Pak, ayo, ohh, ouhh..”
Rupanya dia merasakan batang penisku yang semakin kaku dan bengkak, yang menandakan bahwa beberapa saat lagi aku mencapai orgasme.
Dia semakin bergairah menyambut setiap sodokan batang penisku,..h
ingga akhirnya gerakan tubuhku semakin tak terkendali dan kejang-kejang, Hingga pada suatu titik, aku menancapkan batang penisku sedalam- dalamnya pada liang vaginanya, yang disambut dengan remasan dan pijitan nikmat oleh dinding vaginanya sambil berteriak nikmat.
“Auuuuwwwhhhhhhh, Aakkhhh..!!” Dan dia pun berteriak nikmat bersamaan denganku.
Crettt, Crettt, crettt, crett.!! Spermaku terpancar deras menyemprot, Membasahi seluruh rongga di liang vaginanya yang nikmat, Tubuh Fatma ambruk telungkup di kursi. Tubuhku pun terhempas di kursi, sambil memeluk tubuhnya dari belakang, dengan helaan napas yang tersengal-sengal kecapean, Punggungku tersandar lemas pada sandaran kursi, sambil berusaha menarik nafas panjang menghirup udara sebanyak- banyaknya.
Sesaat kuperhatikan Fatma pun tersungkur kelelahan sambil tertelungkup di atas kursi.
... ... ...
Sambil beristirahat mengumpulkan napas dan tenaga yang hilang, akibat pergumulan yang penuh nikmat, mataku menatap tubuh bugil Fatma yang juga basah oleh keringat.
Terbayang olehku betapa liarnya Fatma barusan, pada saat dia mengekspresikan kenikmatan seksual yang menghampirinya.
Semua itu di luar dugaanku. Aku tak menyangka, Fatma yang demikian anggun dan lemah lembut bisa demikian liar dalam bercinta, Mataku menyusuri seluruh tubuh Fatma yang bugil dan basah oleh keringat, Uhhh, Tubuh itu benar-benar sempurna, Putih, halus dan mulus, Beruntung sekali malam ini aku bisa menikmati tubuh indah ini.
Aku terus menikmati pemandangan indah ini,
sementara Fatma nampaknya benar-benar kelelahan, sehingga tak sadar bahwa aku sedang menikmati keindahan tubuhnya, Semakin aku memandangi tubuh indah itu, perlahan-lahan gairahku muncul kembali, seiring dengan secara bertahap tubuhku pulih dari kelelahan yang menimpaku.
Dalam hati aku berbisik, agar malam ini aku bisa menikmati tubuh Fatma sepuas-puasnya sampai pagi.
Membayangkan hal itu, gairahku dengan cepat terpompa, dan perlahan-lahan penisku mulai
mengeras kembali, Perlahan tanganku membelai pinggulnya yang indah dan bibirku menciumi pundaknya, yang basah oleh keringat, namun nampaknya Fatma terlalu lelah untuk merespon cumbuanku.
dia masih terlena dengan kelelahannya, mungkin dia tertidur kelelahan.
Posisi kami yang berada di atas kursi panjang ini membuatku kurang nyaman, Maka kuhentikan cumbuanku, kedua tanganku merengkuh tubuh indah Fatma, Kemudian dengan sisa-sisa tenaga yang mulai pulih
kubopong tubuh indah itu ke kamar.
Dengan penuh semangat aku membopong tubuh bugil Fatma ke arah kamar.
Kuletakkan tubuhnya dengan hati-hati dalam posisi terlentang.
Fatma hanya melenguh lemah dengan mata yang masih terpejam.
Aku lalu duduk di atas kasur sambil memperhatikan tubuh indah ini lebih seksama.
Semakin keperhatikan, semakin terpesona aku akan kesempurnaan tubuh Fatma yang sedang telanjang bugil.
Kulit yang demikian putih, halus dan mulus, dengan bagian selangkangan yang benar-benar sangat indah dan merangsang.
Di sela-sela liang vaginanya terlihat lelehan spermaku yang keluar dari dalam liang vaginanya, mengalir keluar ke sela-sela kedua pahanya, Aku mengambil tissue yang ada di pinggir tempat tidur, lalu mengeringkan lelehan sperma itu dengan penuh perasaan.
Fatma menggeliat lemah, lalu matanya terbuka sedikit sambil mendesah, ”Uuhhh..”
Bibir dan lidahku tergoda, untuk menciumi dan menjilati batang paha Fatma yang demikian putih dan mulus.
Dengan penuh nafsu bibir dan lidahku mulai mencumbu pahanya.
Seluruh permukaan kulit paha Fatma kuciumi dan jilati, tak da satu mili pun yang terlewat.
Lambat laun gairah Fatma kembali terbangkitkan,

0 Komentar