BIBI DAN MAMA PART 15



POV Cepi


Suasana menjelang tengah malam dimeja makan hening, raut wajah ditiap anggota keluarga ku mulai terlihat tegang menunggu Kalimat yang akan ku ucapkan Malam itu.




Alunan nyanyian Jangkrik, suara Kendaraan, hingga lalat dan nyamuk pun berhenti saat aku sadar semua anggota keluarga menunggu Hukuman apa yang akan ku berikan kepada Ibu Kandung ku dan Bibi malam itu.






"Sampai mati Cepi akui cepi ga akan pernah bisa balas budi baik mama yang udah melahirkan, mengurus cepi, bahkan hingga sampai sekarang Mama masih memberikan Kasih Sayang kepada Cepi yang tulus dan Tanpa Pamrih sedikit pun." Ku sampaikan sambil menatap mata mama ku.


"Mohon maaf andai Hukuman dari ku ini seandainya akan menyakiti mama dimasa depan. Tidak lain tujuan cepi adalah agar mama tidak tergoda lagi dengan Pria lain selain Ayah." Ayah dan Kakek pun menganggukkan kepala mendengarkan Alasan ku memberi Hukuman ini Ibu Kandung ku ini.


"Mulai besok Cepi akan Hukum mama dan Bibi agar Tidak keluar rumah untuk bersenang senang, maupun berniaga, hingga kegiatan bersama warga. Tanpa ada Ayah atau Aku dan Kakek berada disisi Mama dan Bibi. Apalagi dengan Lelaki di luar anggota keluarga kita." Kata ku sambil sesekali menatap mama dan Bibi ku.


"Apa mama dan Bibi sanggup menerima Hukuman ini?? " 




Terlihat Mama menghela nafas Panjang, sedangkan Bibi menganggukan kepalanya.




Reaksi Mama dan Bibi itu jelas dilihat dan diamati Ayah serta Kakek ku yang mendengarkan dengan seksama, apa yang ku sampaikan kepada Mama dan Bibi tentunya.






"Kalau itu hukuman yang kamu berikan mama sanggup nak.... " Kata mama sambil menatap dalam kearah mata ku.


"Bibi juga, Bibi akan akan batasi kegiatan diluar rumah ini. Lebih Fokus menjalankan bisnis Online sesuai rencana bibi kemarin." Tambah bibi ku sambil menatap ku, serta menatap meyakinkan ayah dan kakek ku.






Aku pun merasa lega mendengar sikap mama dan bibi ku langsung apalagi didengarkan Ayah dan Kakek ku secara langsung. Namun suasana kembali tegang saat Ayah mulai angkat bicara.






"Andai Mama dan Bibi mu melanggar!!! Atau mengabaikan Hukuman mu!!! Hukuman apa yang akan kamu berikan kepada mereka Nak?? " Serempak Kakek, Mama, dan Bibi ku menatap Ayah setelah Ayah menanyakan Konsekuensi andai mama dan Bibi melanggar.






Aku sudah mempergitungkan seluruhnya secara matang, namun kali ini ujian ku sebagai Anak Lelaki tengah benar benar diuji oleh keluarga ku sendiri.






"Saya rasa ini adalah sesuatu yang tak akan pernah Cepi harapkan yaah, sesuatu yang tak ingin Cepi alami di masa depan." Kata ku kembali sambil menatap wajah Anggota keluarga ku satu persatu.


"Namun andai Ayah, Mama, dan Bibi memang Melanggar atau ingin benar benar keluarga berpisah. Saat itu tiba, Cepi lah yang pertama akan 'keluar' dari anggota keluarga ini." Sebisa mungkin bersuara lantang dan tegas dihadapan mereka. Namun semua tertahan karna benar benar aku bayangkan andai mimpi buruk itu terjadi.






Tanpa lebih lama berada disana, aku pun lebih pamit dan undur diri sebelum Ayah maupun Kakek curiga dengan Hukuman yang ku berikan kepada Mama dan Bibi ku. Selama aku berjalan menuju kamar terdengar kakek angkat bicara.




Sepertinya Kakek ku paham betul dan tau kemana aku akan pergi andai benar benar dikemudian hari pergi meninggalkan Rumah ini saat Ayah dan Ibu ku benar benar berpisah.






*******








"A.... Aa.... Ini kenapa sii aa kok ga nyala?? Rudi mau mainan ini sama temen temen Rudi..... " Tanya adik kecil ku berlari ke kamar ku di suatu sore hari setelah beberapa hari sejak Malam aku berbicara dan memberi keputusan sebagai Anak sulung keluarga pak Hendrawan.






Ku pasangkan Baterai di Remote dan Pesawat Terbang Remot Control adik kecil ku ini, setelah posisi on menyala ia terlihat riang.






"Iiihhh bisaa..... Aa hebaaat!!!!! " Katanya dengan wajah penuh rasa Takjub kearah mainannnya yang bisa dibilang hampir sama dengan ukuran tubuhnya saat ini.


"Mainnya diatas ya, awas kena kabel...... " Belum selsai ku berbicara ia berlari ke arah tangga atap jemuran.


"Dede Rudiii......!!!! Hati hati dong nak!!! Nabrak mama gimana????? " Kata mama yang hampir ditabrak adik ku, saat berlari kearah Tangga. Aku pun hanya tersenyum melihat adik ku yang lincah dan gesit.


"Sayaang.... Cemilan ni buat nemenin kamu ngerjain tugas sekolah kamu." Mama asuk kamar menyimpan dimeja belajar. Lalu ia memegang ponsel ku.


"Makasi ya ma" kata ku kepadanya. Yang fokus melihat Ponsel ku, lalu menatap ku dan bertanya.


"Eummmppptt sayang, mama boleh tanya sesuatu engga....?" Tanya nya ragu dan sangat hati hati.


"Ada apa ma?? " Tanya ku sambil tempat duduk kuarah kan menghadap mama.


"Kamu udahan ya sama Anya...??? Kok banyak banget sii ini pesan sama telp teman teman kamu ga dijawab." Tanya mama sambil tetap memegang ponsel ku yang tak pernah ku kunci. Beda lagi kalau Android butut Ponsel andalan ku.


"Aku udah punya mama yang cantik, belum lagi Bibi yang sexy..... Jadi aku rasa, tugas aku sekarang Fokus belajar dan menjaga mama serta Bibi yang masih Jomblo hihihi.." Sambil ku peluk mama dan merasakan aroma parfumnya.


"Iiii.... Gomball!!! Sejak kapan sii kamu jadi pinter rayu mamanya sendiri?? " Kata mama merapatkan kedua tangan ku yang memeluk tubuhnya, karna saat itu aku memeluk nya dari belakang.


"Sejak aku sadar mama jadi makin cantik lalu direbutkan temen temen aku sendiri.... Muach" Ku cium pipinya dan ku daratkan wajah ku dibahunya. Menghirup aroma tubuhnya walaupun masih mengenakan Hijab.


"Jadi kamu cemburu nii...??? Makanya punya mama cantik dijaga jangan di Anggurin." Mama pun membalik kan badan berhadapan dengan ku, setelah meletakkan ponsel ku mama merangkul pinggang ku. Ia tempelkan dengan tubuhnya.






Lalu.....




Kami pun bercumbu, berciuman setelah pas mama merapatkan selangkangan ku dengan selangkangannya sambil berdiri. Namun........






"Kaaaakk..... kakaaaakk!!!!! Ada Orderan niiih dari bu Rita....!!!! Kaaakk???" Suara Bibi terdengar dari arah meja makan lantai satu.


"Iyaa de bentar aku kebawah...." Kata mama yang dengan sigap melepas cumbuan dan berjalan meninggalkan ku kearah panggilan dari adiknya Karina.






Setelah beberapa hari dari saat aku memberikan Hukuman kepada Ibu dan Bibi ku, hubungan keluarga ku lebih Harmonis. Mama, terlihat sibuk dengan Orderan Cake dan kue yang ia pasarkan secara Online.




Ayah mendukung mama dengan Aktifitas barunya, bahkan dengan Jumlah modal cukup besar mama membeli rumah sebelah untuk jadi Dapur Khusus Bakery dan Pastry. Sisa ruangan rumah sebelah, bibi ku gunakan untuk menyimpan barang barang jualan Online.




Tidak hanya Busana dan Sepatu, beberapa barang dagangan Bibi ku karina juga menyediakan beberapa Alat Elektronik seputar Ponsel. Berkembang sangat pesat, walaupun hanya desas desus semua berkat dukungan "Fans" mama dan bibi ditambah lagi Om Siswono yang tergila gila padanya.




Ayah ku sekarang juga memiliki Karir lebih cemerlang, isu perselingkuhan Mama dan Roy tempo hari menjadi sorotan sahabat sahabat dekat ayah.




Tau sendiri lah dikita hehehe........demi isu skandal ini tak blow up sampai media online, Keluarga besar Roy rela memberikan Konspensasi kepada ayah dan para pemburu berita. Walaupun ayah sebetulnya tak mengharapkan dan sama sekali tak ada niatan melapor ke pihak berwajib. Semua demi Rudi Adik ku, jiwa besar ayah mendapat perhatian langsung dari Sahabatnya disalah satu Farmasi Ternama skala Nasional.




Hingga mengajaknya bergabung menjadi Staff Excecutive Perusahaan Farmasi Bi* Fa***. Karna salah satu sahabatnya juga cenderung sibuk dengan beberapa Proyek era pemerintahan sekarang.




Hari berjalan waktu berlalu, hingga hampir satu bulan lebih semua berjalan normal keluarga kami terlihat utuh. Walaupun Ayah dan Mama masing masing sudah memiliki sikap bertahan dalam Rumah Tangga demi Rudi dan Aku.






*****






"Ehh bro, liburan akhir pekan nih!!! Masa iya mau terrruuuussss ngerem di rumah??? " Celoteh Adipati, diantara sahabat ku Adipati adalah salah satu sahabat paling baik setelah Catur dan Yudi.






Sikap ku pun menjadi pemilih dengan teman, meskipun derajat serta status sosial keluarga semakin baik tapi aku rasa aku harus tetap hati hati agar Rahasia Hukuman mama dan Bibi ku karina tidak bocor.




Apalagi mereka telah terlibat beberapa skandal dalam satu hari tempo hari.






"Bukan ga mau bro gue gabung, tapi gimana lagi.... Tau sendiri nilai gue gimana. Bisa buyarr cita cita gue kalau masih belum ngembangin kapasitas otak gue.... " Jelas ku padanya. Yang sesungguhnya ingin sekali berlibur ke pantai bersama mereka.


"Ya udah udaaah, ga usah dipaksa... Lagian si Cepi ikut, bisa kelaperan kita disana ga ada yang siapin Konsumsi. Hahahahaha!!! " Kata Yudi.


"Iya Diip, mending lu dari sekarang lirik aja sekarang, mau nembak siapa lu sebelum kita liburan akhir pekan nanti." Tambah Catur.


"Aah!!! Jauh jauh dah mikirin cewek. Gue lebih pengen kita Happy Bareng disana bareng kalian bro.... Kapan lagi....??? " Sambil berlalu Adipati pergi sambil membuang sisa rokok diJarinya.


"Iya juga si, kapan lagi kita ngumpul bareng. Tapi ntar ntar aja lagi aja dah kita buat acara sendiri." Tambah Catur lalu kami pun masuk gerbang sekolah dan memulai kegiatan belajar mengajar.






Dilantai Tiga gedung sekolah ini, ku pandangi sesosok Bidadari sekolah. Disana ia tampak berseri menyapa beberapa temannya dijam istirahat sekolah. Meskipun sudah tak ada komunikasi apalagi tegur sapa antara aku dan dia, semua mimpi aku dengan dia emang harus pupus.




Suami Tante Sonia, om Bowo sebetulnya sudah lama ingin menjodohkan Rico dengan Putri mereka Anya. Meskipun Anya awalnya menolak perjodohan tersebut, nyatanya sekarang Rico terlihat menjadi dekat dan seperti pasangan bersama Anya.




Apalagi, sikap tante Sonia terlihat seperti berusaha menutupi aib Rico yang mencoba memerawani Anya Tempo hari.




Jadian ga nembak, putus ga ada kata udahan. Apes amat idup elu Cep, tapi ga rugi.... Toh gimana pun juga gue pernah rasain perhatian dan kasih sayang dari Anya. Yang sekarang dibawah sana berdampingan berdiri dengan Rico, seperti sepasang kekasih.




Aku sangat terkejut saat Rico meninggalkannya sendiri, mata indah Anya diarahkan kearah ku. Ia tau dimana aku berada saat itu, menatapnya dan memperhatikannya dari jauh.






*******






"Akhir minggu ini kamu ga akan terlalu sibukkan cep? Ayah udah persiapan lho acara liburan keluarga kita bersama teman teman sekoah mu." Kata Ayah malam itu dimeja makan.


"Oohh... Sekeluarga kita ikut??? " Tanya ku.


"Iyaa sayaang, kamu ga tau kalau dewan guru kan mempercayakan mama buat Katring makanan disana.... Masa kamu ga tau sii?? "


"Waaah.... Pasti seru tuh kak, aku boleh ikut ga?? " Tanya bibi ku Karina.


"Semua ikut, lagi pula mobil yang buat makanan ada beda. Sekalian kamu nanti bantu kakak mu karina masak disana buat makan malam." Kata ayah sambil minum air setelah selsai memberi taukan rencananya.


"Siap Komandan, udah lama banget aku ga mantai hehehehe..... " Kata Karina bibi ku yang kalau dipikir pikir cukup lama ia tak keluar rumah. 

Posting Komentar

0 Komentar