Aku duduk terpaku melamun di wilayah cukup tinggi dikota ini, ditemani kopi dan sebatang rokok dijari ku. Catur menemani ku yang sedang menikmati Mandi Angin menjelang sore ditempat itu.
Sedangkan Yudi berpamitan terlebih dahulu karna ia akan memantau keberadaan bibi ku serta teman teman yang lain diwarung Fandi.
Setelah ku minta jangan beritau keberadaan ku, Yudi pamit pulang lalu mengabarkan saat ini bibi ku sudah pulang. Sedangkan Rico dan Fahri lukanya dirawat Anya dan Shendy di rumah Anya karna ada ruangan seperti klinik kecil yang sewaktu waktu digunakan andai keadaan Urgent.
Entah kebetulan atau bagaimana, saat itu Catur memutar musik KU KATAKAN DENGAN INDAH saat ku menikmati pemandangan dan hembusan angin saat itu.
"Gue yakin elu ga akan down bro, gue yakin elu bakal bangkit setelah lu ancurinn tu rumah siRoy hehehehe..... " Kata Catur menghibur ku.
Ia sama sekali tak tau apa yang kulihat, Catur dan Yudi hanya tau aku memecahkan kaca salah satu rumah mewah Roy saat itu.
"Anter gue kerumah Anya bro, kayaknya disana bisa gue lebih baik dari pada gue harus balik kerumah." Ajak ku padanya.
Tanpa ku ulang dua kali, Catur mengantarku kerumah Anya dengan motor Sportnya.
"Elu yakin nih??? Bener ampe sini aja??" Setelah tiba depan gerbang rumah Anya.
"Iya bener.... Makasi Banget ya... Gue hutang budi ma kalian bro... " Kata ku kepada Catur.
"Kayak sama siapa aja lu ah... Pokoknya perjuangan kita sia sia kalau elu ga Bangkit dan Tegar hadapin masalah ini. " Aku pun mengiyakan dan berjanji akan bangkit dari serentetan kejadian yang disebabkan Ibu dan Bibi ku sendiri.
Ku masuki rumah cukup mewah dan Asri dengan tanaman hijau di halaman rumah Anya, tapi kok sepi yaa??? Ku putuskan untuk menelusuri berjalan ke lorong samping rumah, tepatnya ruangan seperti Klinik di samping garasi sepertinya Anya dan Shendy merawat luka Rico dan Fahri disana.
Langkah ku terhenti setelah mendengar desahan demi desahan tertahan dua insan manusia terdengar ditempat ku berdiri.
Apalagi badan ku bergetar saat melihat sepasang sepatu Rico ada tepat didepan pintu ruangan itu. Saat hendak ku akan melangkahkan kaki ku lebih jauh kembali terdengar suara Anya yang membuat sekujur badan ku lemas seketika.
"Aaahh aawwhhh... Aaahh pelan coo... Aaahh aawwhh.... Aaaah..... Sakiiitt!!!!"
"Tahann sayaangg aaahh... Dikit lagi... Aaahh aawwh.... Aaaaaaahhhhhh!!!!!" Suara Rico terdengar jelas sekali terdengar.
Badan ku lemas terasa saat ku berdiri di pintu ruangan itu, pandangan terasa gelap, kedua lutut ku terasa amat sangat lemah.
Didepan pintu ku arah kan mata ku kearah desahan demi desahan Rico dan Anya kekasih ku, sungguh aku tak mengerti saat itu mengapa aku dihadapkan kenyataan pait keTiga kalinya......
Terlihat disana Pinggul Putih Mulus Anya bagai mana tidak rupanya Anya sudah tak mengenakan celananya lagi saat itu, ia duduk mengakang sejajar dengan Rico yang sudah menurunkan celananya hingga ke lantai.
Keringat dari tubuh Anya mengucur deras hingga menbasahi bajunya matanya terpejam memegang bahu Rico, mulutnya menganga sambil mengeluarkan desahan demi desahan erotis.
Sedangkan Rico tengah berusaha menancapkan makin dalam Kontol hitam berUratnya diVagina Anya....
Yang rupanya saat itu, Rico akan mengambil keperawanan Anya!!!!!!
Mata Anya melotot kearah ku yang sadar aku melihat semuanya, dengan suara serak Berteriak sekuat tenaga ia berteriak.
"Cepiiiii toolooonggg akuuuuuhhhhh!!!!! aaaaahhh!!! " Teriakann Anya tertahan karna Rico sedikit mencoba menekan Penisnya lebih dalam lagi. Karna saat itu Kepala penis Rico terselip diVagina Anya yang masih berwarna merah muda.
Secepat kilat ku tarik kerah seragam Rico kebelakang, setelah ku pastikan Anya yang berkeringat memungut celana dan baju kaosnya segera ku layang kan beberapa pukulan ke kepala Rico. Karna ia melindungi wajah nya dari kepalan tangan ku.
Kedua tangan kekar hitam Rico mendorong ku sambil memandang pergelangan Kaki ku yang sempat cedera. Hingga ku terjungkal kebelakang. Anya segera menahan ku sambil menangis tersedu sedu....
Rico manfaat kan moment itu untuk melarikan diri tanpa mengenakan sepatunya, aku pun mengejarnya hingga dapat menangkapnya di halaman rumah Anya.
Namun Rico tak menyerah, ia tetap melawan agar bisa melarikan diri. Anya merangkul ku dari belakang, untuk menghentikan pergulatan ku menangkap Rico sore itu.
"Udah sayaaang udaah ku mohon udaah...!!! " Histeris Anya saat itu merangkul perut ku.
"Ada apaa ini!!!! Hentikaaan!!!! " Teriak Tante Sonya Ibu Anya yang saat itu turun dari Mobil dan melihat aku bergulat di halaman rumahnya.
Ku kendurkan kuncian ku dikedua pergelangan tangan Rico, dengan cepat ia lepas lalu melarikan diri entah kemana.
"Udah sayang..... Please stooop!!!! Aku baik baik aja.....!!!!!" Anya memeluk ku erat, agar aku tak mengejar Rico saat itu.
Sedangkan Tante Sonya kebingungan dengan apa yang terjadi sore itu dirumahnya. Aku pun sadar dengan kejanggalan dengan keringat Anya yang mengalir sangat deras.
"Tante!!! Kita periksa Anya.... Dia kok bisa keringetan gini....??? " Sebagai Seorang Dokter tentu Tante Sonya paham dengan tanda tanda di alami Anya Putrinya.
Meskipun awalnya Anya menolak mendapatkan dari penanganan Ibunya sendiri, setelah sedikit ku marahi dan ancam akan beberkan semuanya akhirnya Anya menurut dan Ibunya pun memberikan penanganan kepada Putrinya.
Aku pun terduduk diluar, entah apa yang harus ku lakukan saat ini. Keempat wanita yang ada didekat ku selalu saja terlibat masalah birahi. Andai aku ingin Mengeluh, mengapa semua ini terjadi pada ku??
Setelah Anya istirahat dan tenang di kamarnya, Tante Sonia menanyakan beberapa pertanyaan kepada ku. Ku ceritakan saat aku datang Rico sedang melakukan Proses Seksual bersama Anya.
Awalnya aku tak percaya semua itu terjadi, namun setelah Anya meminta pertolongan kepada ku segera ku cegah dan hendak menangkap Rico hingga tante Sonia pulang dan melihat pergulatan ku dengan Rico sore itu diHalaman rumahnya.
Tante Sonia mendengarkan baik baik penjelasan ku, setelah itu ia menelfon seseorang sepertinya itu kolega Tante Sonia yang tante Sonia mintai Bantuan.
"Maaf tante kalau pertanyaan ku ga sopan. Kalau boleh tau Anya kenapa bisa..... " Kata ku tertahan saat sorot mata cantik menatap ku tajam.
Ia mengeluarkan rokok dari tas kecilnya, lalu ia menyalakan sebatang rokok. Setelah mengeluarkan asap Rokok baru ia menjelaskan apa yang sebenrnya terjadi.
"Anya anak tante dalam pengaruh obat perangsang, Tante sungguh tak menyangka masalah Tante dengan keluarga berbuntut balas dendam Rico kepada Anak Tante Anya." Lalu ia menghisap dalam rokoknya lalu mengeluarkan banyak asap dari bibir sexynya.
"Apa sekarang Anya baik baik saja Tante?? " Tanpa mempedulikan status, aku pun ikut merokok.
"Anak tante baik baik saja, tante istirahatkan badannya agar pengaruh obat itu tak berkepanjangan." Kata tante Sonia menjelaskan keadaan Anya saat ini.
"Kalau gitu saya mohon pamit dulu Tante.." Kata ku yang mendadak lemas mengingat beberapa percakapan dan desahan Rico dan Anya.
"Cepiii.... " Panggil Tante Sonia lembut padaku. Lalu Ku balikkan badan ku.
"Tante dan lebih tepatnya anak Tante Anya sangat berhutang kepada mu. Jangan sungkan hubungi Tante atau Anya kalau dia berani macam macam kepada mu." Kata Tante Sonia tegas sambil menahan Emosi kepada Rico.
Busyeett dah.... Kirain gue si tante bakal nawarin makan atau minum dulu gitu haaahh udah dah jalan aja.....
"Pasti tante, kalau gitu saya pamit dulu.... Maaf udah buat keributan dirumah Tante." Aku pun berjalan sore itu kearah pagar rumah Anya.
********* TANPA CEPI SADARI SAAT ITU SEPASANG MATA DIBALIK JENDELA KAMAR ANYA MENAGIS MERATAPI KEPERGIAN CEPI DARI RUMAHNYA BERULANG KALI IA MENGUCAPKAN MAAF KEPADA CEPI *********
Ditengah ramainya kota Bandung menjelang Matahari membenamkan diri disebelah barat, cepi berada disalah satu tempat makan Favorite nya.
Rasa Lapar dan nyeri terasa diperut dan pergelangan kakinya saat itu. Seragam yang lusuh, wajah yang kusam, serta sorot mata yang sayu menggambarkan betapa menderitanya ia saat itu.
Malu malu ia melangkan kakinya kedalam rumah makan cukup berkelas dengan Menu Khas Andalannya Bebek Goreng dan Sambal Pedas, Raut wajahnya menjadi sangat sedih melihat beberapa keluarga berkumpul lengkap dan sangat menikmati Hidangan mereka saat itu.
Hingga ia hendak berjalan ke konter Pemesanan, sepasang Mata yang sedari tadi berjalan menghampirinya dengan Cepat.
Langkah Kakinya cepat dan penuh percaya diri, beberapa pengunjung disana pun cukup terkesima dengan kehadirannya.
Hingga akhirnya ia berdiri tepat di belakang Cepi dan memegang Bahu Cepi dari belakang.
***********************
POV CEPI
"Tolong siap kan Bebek goreng setengah Ekor serta dua porsi nasi. Minumnya es teh Manis. Jadiin dua porsi ya mbak, saya dan anak saya sudah Laper banget ini HEHEHEHE.... " Suara ayah mendahului ku. Nampaknya ayah Hafal betul dengan menu Fav ku ditempat ini.
"Kita makan dulu, ayah tau kamu pasti laper banget sekarang kan. Jangan pikirkan masalah mu hari ini Nak... " Kata Ayah meyakinkan ku.
Meskipun awalnya nafsu makan ku hilang, namun setelah menikmati betapa lezatnya satu suap makanan ditempat ini aku pun menjadi bernafsu makan.
Benar kata ayah, saat ini aku harus makan dulu sebelum memikirkan menyelesaikan masalah yang datang bertubi tubi kepada ku.
Setelah menikmati makan sore menjelang malam saat itu, aku dan Ayah ku menikmati Indahnya pemandangan lampu kendaraan dijembatan layang Tol Pasupati.
Ia sangat tenang, bahkan sangat terlihat sangat tenang. Sampai aku sendiri semakin merasa muak andai teringat betapa Bodoh dan Cueknya ayah ku ini.
"Ayah tak menyangka kamu bisa bertahan sejauh ini naaak." Kata Ayah membuka pembicaraan dengan ku.
"MmMm.... Maksud Ayah gimana ya??" Tanya ku bingung dengan Makna bertahan. Ayah rapatkan kedua lengannya di meja, lalu mendekatkan kedua Wajahnya kepada ku. Matanya menyorot tajam, hingga benar benar membuat ku Ciut tak Berkutik menanti kalimat apa yang akan keluar dari mulutnya.
"Kamu kira ayah mu ini enggak Tau kenakalan Ibu, Bibi Dan Kamu Haaah????HAHAHAHAHAHA......" Saat itu juga aku naik pitam.
"BRAKKK!!!! " ku pukul meja makan tempat kami menikmati makan Sore ini. Dengan keras terang saja aku benar benar merasa marah saat itu.
"Kalau ayah tau kenapa ayah diam saja!!!!!" Pertama kalinya di usia remaja ku membentak ayah.
"Diam??? Kalau ayah bertindak kamu tau kan hal buruk apa yang akan terjadi???? " Wajah ku pucat seketika, mendengar ucapan ayah ku tadi.
Mengingat bahwa beliau adalah Ahli bela diri, pernah terjadi saat aksi begal sangat meresahkan di wilayah ku. Namun saat ayah ikut siskamling bersama keamanan Komplek, dia mampu melumpuhkan belasan anggota begal yang masih anak pelajar seorang diri tanpa terluka.
"Kakek mu dan aki Astagina sekarang sedang ada di rumah nak, ayah akui kesalahan ayah menikahi rekan kerja ayah yang sudah sekarat. Kemarin ayah bawa mama mu ke makam istri kedua ayah dan menjelaskan semuanya."
"Ayah sudah serahkan kepada Ibu mu bagaimana rumah tangga Ayah dan Ibu mu selanjutnya. Tapi ayah tak menyangka, Roy putra pemilik perusahaan ayah bekerja malah bermain api dengan ibu mu." Aaaahhh rupanya ayah cuma tau sampai situ saja, lega rasanya hati ku.
"Sekarang ayah tak bisa berbuat apa apa, karna hanya Rudilah harapan mengapa bertahan dengan mama. Ayah Terima mama mu sekarang mengalami masa Poeber kedua, tapi ayah tak Terima kalau bibi dan mama mu berulang kali menyakiti Anak Ayah yang berbakat dan Cerdas ini..... " Air mata ku menetes tak tertahankan kepada ku saat itu.
Sungguh tak ku duga, ayah ku yang cuek dan terlihat santai rupanya sudah menaruh perhatian sangat besar. Tapi dibalik itu semua sungguh tak sanggup ku bayangkan andai keluarga ku terpecah belah.
Inilah titik terlemah ku sebagai anak, dan titik kejenuhan sebagai Lelaki disaat wanitanya benar benar tak bisa mengendalikan diri.
"Mau ngrokok??? Ngrokok lah.... Pikirkan baik baik Hukuman apa yang pantas, hukuman yang sesuai, yang akan kamu berikan kepada Ibu dan Bibi mu nanti." Aku pun merokok bersama ayah ku malam itu, banyak sekali pesan maupun telp masuk ke ponsel ku.
Namun sama sekali tak ku buka dan ku Gubris sekali pun. Hingga akhirnya, ku Silent ponsel ku dan kembali merenung memikirkan matang matang.
Waktu menunjukkan Pukul setengah sepuluh malam, sama sekali tak ada keluhan Ayah ku menunggu ku berfikir saat itu. Hingga akhrinya ku mantap kan hati ku, dengan Senyum mengembang ku katakan kepada ayah.
"Yuk kita pulang yah...... Kasian kalau mereka menunggu lama aku pulang kerumah." Ayah ku tersenyum, lalu bangkit berjalan penuh semangat ke rumah.
Setibanya di rumah, terlihat mama dan bibi ku berdampingan duduk menghadap Kakek ku yang terkenal galak. Raut wajah mereka bertiga mendadak ceria saat aku berjalan ala pulang sekolah seperti biasa tak terjadi apa apa.
"Kek pa kabar??? Mana aki uyut??? " Tanya ku kepada Kakek .
"Iya sudah pulang setelah bertemu beberapa tamu perwakilan pimpinan Ayah mu tadi Hehehehe..... " Kata kakek ku dengan tenang sepertinya masalah dengan Roy sudah langsung melibatkan Keluarga Roy secara langsung.
"Bi.... " Aku menyalami bibi ku, wajahnya ternyum kepada ku. Sepertinya banyak hal yang ia ingin katakan, namun tertahan seolah takut akan keberadaan kakek yang duduk di hadapannya. Matanya sembab karna sudah terlalu lama menangis. Dan yang terakhir adalah.....
"Ma.... " Mama pun langsung memeluk ku dengan erat bagai lama tak bertemu dengan ku. Ia menangis tersedu sedu hingga.....
"Ya udah ya maaf ma... sabar, aku mau mandi dulu." Kata ku berusaha melepaskan pelukannya, karna bahaya juga kalau ketauan mulai konak dipeluk mama. Apalagi masih kebayang bagaimana hebatnya dia menunnggangi Penis Roy.
"Kamu udah makan sayang?? Mama siapin dulu yaa... Mama juga bakal siapin nak pakaian kamu tidur." Mama bangkit dari kursi tempat duduknya, namun....
"Anak mu yang Sabar dan Cerdas sudah makan sama Ayah, lebih baik kamu dan bibi Karina siapin makan malam dengan Ayah. Pasti Ayah belum makan kan." Wajah mama dan Bibi ku kaget melihat Ayah pulang bersama ku. Lalu
"Iya Aa....."kata mama dan penuh semangat jalan kekamar mempersiapkan handuk mandi serta salin untuk ayah.
"Dek Karin, tolong siapin kamar ayah lalu bantuin kakak mu siapin makan malam ya..." Bibi ku menatap Kakek, lalu kakek pun menganggukkan kepalanya.
Dengan cepat bibi ku pun pergi ke kamar tamu yang berada disisi kanan kamar bibi ku, ayah dan kakek memandang ku. Duh Belegug!!! Dalam hatiku, aku baru paham ayah dan kakek mau bicara berdua.
"Sayaaang.....!!!" Mama memeluk ku lagi saat aku selesai mandi..... Aroma wangi tubuh mama sangat menggoda ku saat itu.
Lekat lekat ia memandang wajah ku, lalu lagi lagi ia memeluk ku dengan erat. Walau tanpa bicara dan kata kata sepertinya itu ungkapan maafnya padaku. Seketika nafsu birahi ku hilang dalam pelukan mama.
Di meja makan malam itu kami semua menjadi Akrab, aku yang awalnya merasa kenyang akhirnya menikmati hidangan makan malam yang enak malam itu.
Sesekali mama kekamar, ia melihat Rudi yang saat itu Tidur terlebih dahulu karna malam saat itu sudah cukup larut.
Setelah makan malam, kakek membuka pembicaraan serius membahas masalah keluarga ini diMeja makan.
"Kania, suami mu sudah bilang sama ayah, masalah kamu bersama Roy akan diselesaikan secara kekeluargaan. Andai keluarga Roy tak Terima, ayah merestui suami mu melayangkan Gugatan disertai bukti dan Saksi yaitu Anak mu sendiri. Apa kamu Terima???" Tanya Kakek ku kepada mama.
"Iya yaah Kania Terima.... Kania akui Kania Khilaf.... " Kata mama lalu menundukkan kepalanya tak berani meatap Wajah Ayah dan Kakek saat itu.
"Hendra anak ku, sekarang sebagai pemimpin keluarga kamu silahkan kamu Perjuangkan Hak Anak mu. Supaya semua jelas, semua yang Tinggal di rumah ini menerima keputusan Kepala Keluarga dirumah ini." Pinta Kakek kepada ayah.
"Istri ku Kania... Masih ingatkan pesan dan keinginan ku saat berada di makam Istri muda ku?? " Tanya ayah lembut kepada mama. Mama menganggukkan kepala sambil tetap menundukkan kepalanya.
"Keputusan ku tetap sama, karna aku tak mau melukai perasaan anak kita Rudi yang masih kecil.... " Kata ayah ku kepada mama.
"16 belas tahun kita hidup bersama, sungguh tak mungkin aku memukul mu apalagi memberikan hukuman kepada mu sayang." Tangis mama pun makin jadi tersedu sedu.
"Aku Terima, aku maafkan semua kesalahan mu Istri ku. Namun sebagai Kepala Rumah Tangga, aku Ingin memperjuangkan Hak Anak ku anak kita...yang sudah kamu sakiti hatinya. Biar lah Anak kita yang menentukan Hukuman yang Pantas untuk mu dan Adik mu. Karna Sekarang Anak Kita sudah Dewasa dan berulang kali kamu sakiti Hatinya." Setelah Ayah memberikan Pidato singkatnya, kali ini bukan hanya mama yang menangis tersedu sedih namun bibi ku ikut menangis.
Karna ia memiliki dosa yang indah, eh dosa yang indah tapi ga dibagi bagi bersama ku beberapa hari ini Hehehehe.....
"Naak..... Mama siap mendengar dan akan menerima hukuman dari kamu sayang. "
"Bibi juga sayang, bibi siap menerima apapun hukuman dari kamu naak."
Sungguh iba aku melihat mama dan bibi ku yang cantik ini menangis, namun aku tak ada pilihan lain. Semoga saja Hukuman dari ku ini bisa membuat mereka Jera......

0 Komentar