Bab 2 - Erni With Apuy .... Rise of Mbak Lies
Para peserta reuni selesai makan dan banyak yang beranjak dari kursinya masing-masing. Apuy (yang gak mau dipanggil Bang maupun Mas) juga mengajakku keluar dari meeting room, menuju kamarku. Kamar 24.
"Namanya kok Apuy sih?" kataku setelah berada di dalam kamar 24, "Kayak nama orang Tionghoa."
"Memang aku punya darah Tionghoa dari ibuku. Nama asliku Tommy Wiratama. Tapi teman-teman di SMA dulu suka manggil aku Apuy. Ya akhirnya julukan itu dipakai sampai sekarang. Gakpapa deh. Apalah arti sebuah nama," sahutnya.
Aku membenarkan di dalam hati. Memang, apalah arti sebuah nama. Yang jelas lelaki yang berada di depanku kini, adalah seorang lelaki muda yang tampan, berkulit kuning cemerlang dan bermata agak menyipit. Maklumlah karena ibunya orang Tionghoa.
Lalu Apuy meraih tanganku agar duduk di sampingnya, di sofa kamar 24 ini, "Erni itu nama aslinya?"
"Iya," aku mengangguk, "lengkapnya sih Erni Maharani."
"Nama yang bagus. Sesuai dengan orangnya," pujinya, "Sudah pernah swing?"
"Pernah," jawabku jujur.
"Wow, Yadi gak bilang-bilang. Padahal kalau tau gitu, dari dulu aku bisa sama Erni yang cantik dan sexy ini. Swing sama yang sealmamater dengan Yadi?"
"Iya, dengan Bang Jaka."
"Ohya?! Pantesan Jaka mendesak terus, agar reuni ini segera dilaksanakan sambil menyongsong tahun duaribudelapan. Eee...gak taunya dia sendiri malah gak bisa hadir sekarang."
"Kata Bang Yadi, istri Bang Jaka lagi datang bulan. Jadi mau ikut gelombang kedua. Emang banyak yang ikut di gelombang dua?"
"Mmm...kira-kira sama banyaknya dengan yang hadir sekarang. Mmm...kenapa natap aku seperti itu?"
"Apuy ini kalau diperhatiin, kayak artis-artis Korea."
"Hahahaaa...emang banyak yang ngomong seperti itu. Tapi sekarang yang penting aku sedang didampingi seorang wanita cantik bernama Erni..."
Aku menjawabnya dengan senyum. Padahal tangan Apuy mulai merayapi pahaku yang terbuka di bagian belahan gaunku.
"Ikut KB kan?" tanyanya setengah berbisik di saat darahku mulai berdesir-desir akibat rabaannya yang semakin intens ke arah pangkal pahaku.
"Iya," sahutku perlahan.
"Asyik," bisiknya, "berarti boleh dilepasin di dalam."
"Lepasin apa?" tanyaku pura-pura bego.
"Lepasin liur si dede..."
"Si dede suka terbit air liur kah?"
"Hahaha...kamu lucu Er. Mending buka dulu gaunnya gih. Biar jangan kusut."
"Takut ah," kataku sambil berdiri dengan sikap menggoda.
"Takut apa?"
"Takut diacak-acak sama Apuy."
"Hahaha...kalau gitu Erni aja yang acak-acak aku ya."
"Buka dulu dong bajunya. Biar jangan kusut," kataku semakin menggodanya.
Apuy ketawa lagi. Tapi tawanya pelan saja. Mungkin takut ditegur, karena tadi sudah diperingatkan agar jangan berteriak-teriak dan ketawa keras-keras.
Dan suasana di kamar hotel itu tetap tenang. Tiada yang berisik. Hanya terdengar musik instrumental yang mengalun perlahan dari speaker kecil di plafon kamar.
Di dalam kamar 24 pun semuanya berjalan dengan smooth. Terasa benar Apuy memperlakukanku dengan hati-hati. Padahal aku sudah penasaran, ingin secepatnya merasakan sesuatu yang sudah kubayang-bayangkan sejak berhari-hari yang lalu.
Dan setelah aku tinggal mengenakan bra dan cd saja, aku memperhatikan tubuh Apuy yang tinggal bercelana dalam doang. Hmmm...tak salah kalau kukatakan tadi bahwa Apuy sangat mirip dengan artis-artis Korea. Tampan dan mempesona, meski terlalu sopan sikap dan perilakunya. Padahal waktu berdekatan, kucium bau minuman dari mulutnya. Biasanya kalau lelaki sudah minum, perilakunya suka jadi vulgar. Tapi Apuy itu tetap terkontrol sikapnya. Dan gilanya...aku ingin ia sedikit brutal, untuk memenuhi hasratku yang kian membara ini. Tapi mungkin ia mengikuti saran panitia tadi, agar jangan terlalu habis-habisan, harus menyisakan tenaga untuk pasangan di keesokan harinya.
Kutanggalkan gaunku, lalu kugantungkan di kapstok. Kulihat Apuy pun melakukan hal yang sama. Melepaskan pakaiannya sehelai demi sehelai, sehingga tinggal celana dalam saja yang masih melekat di tubuhnya. Aku pun menanggalkan behaku, sehingga tinggal celana dalam yang masih melekat di tubuhku.
Lalu kuhampiri Apuy yang sudah duduk di pinggiran tempat tidur.
"Yadi pintar milih calon istri," kata Apuy sambil menyambutku dengan pelukan hangat, "Erni bukan cuma cantik, tapi juga seksi."
Aku merasa tersanjung. Dan aku mendorong dada Apuy agar ia terlentang. Lalu kutarik celana dalamnya sampai terlepas. Dan kulihat batang kemaluan teman Bang Yadi itu sudah benar-benar tegak, "Kata Bang Yadi, Apuy dulu juara dua waktu kontes penis ya?" kataku sambil mengganggam batang kemaluan Apuy yang terasa gede ini, meski tak sepanjang penis suamiku.
"Iya," sahutnya sambil tersenyum, "Juara pertamanya kan Yadi. Tapi...itu hanya kontes di antara teman-teman sekelasku aja. Yang kelas IPA sih gak tau. Kayak Albert, Faisal, Joseph dan Raymond itu kan dari kelas IPA. Nanti juga pasti tahu seperti apa punya mereka itu."
Tiba-tiba Apuy bangkit, duduk dan mendorong dadaku sampai aku terlentang. Kemudian ia menarik celana dalamku. Dan tanpa terduga-duga, tiba-tiba ia menyerudukkan mulutnya ke kemaluanku. Oooh...serangan seperti inilah yang kuharapkan sejak tadi.
Ketika kurasakan jilatan Apuy semakin intens, aku pun merenggangkan sepasang pahaku selebar-lebarnya. Biar ia puas menjelajahi lekuk-lekuk vaginaku, yang tentu akan membuatku nikmat sekali.
O ternyata mulut Apuy itu binal sekali. Mungkin pada waktu menjilati kemaluanku mulut Apuy tak ubahnya moncong belalai gajah, yang bisa menyapu dan menyedot-nyedot kemaluanku sepuasnya. Ini membuatku terkejang-kejang dalam arus nikmat yang luar biasa. Apalagi waktu ia menyedot kelentitku, rasanya bagian terpeka ini tersedot ke luar dan berada di dalam kepitan bibir Apuy.
Terkadang jari tangan Apuy pun ikut bermain, menggesek-gesek lubang kemaluanku, sehingga dalam tempo singkat aja pertahananku ambrol dibuatnya. Ya, saking nikmatnya jilatan Apuy itu, aku seolah melesat ke langit tinggi dan tiba di langit orgasmeku, yang membuatku merengek tertahan, "Ooo....ooooooooh.....".
"Heeee.....? Udah orga lagi?" tanya Apuy dengan tatapan menggoda.
"Iya," sahutku tersipu, "abisnya gila banget jilatinnya..."
Apuy seperti mau mengatakan sesuatu. Tapi tiba-tiba hpnya berdering. Cepat ia mengambil hpnya. Dan aku cuma melihatnya mengangguk-angguk. Yang terdengar cuma "oke...oke...oke..."
Setelah menutup hubungan teleponnya, Apuy meletakkan hpnya di meja kecil samping bed lebar ini. Lalu memegang lenganku dan berkata, "Acara kita akan semakin asyik. Sebentar lagi Faisal dan istri Marlon akan gabung dengan kita."
"Hah? Emangnya boleh gabung-gabung gitu?" tanyaku sambil bangkit dan cepat mengenakan kembali celana dalamku.
"Boleh," Apuy mengangguk, Asal kita gak keberatan bisa aja teman lain gabung di sini dengan pasangannya. Biar acara kita lebih meriah. Nanti malah bisa tukar-tukar posisi, aku main dengan Monik, Erni dengan Faisal....biar seru, Er."
Belum sempat aku bicara lagi, terdengar bunyi ketukan di pintu. Apuy bergegas menuju pintu dan membukanya. Aku jadi panik, karena keadaanku yang cuma bercelana dalam. Bergegas aku menuju kamar mandi, lalu melilitkan handuk untuk menutupi payudaraku.
Ketika keluar lagi dari kamar mandi, tampak seorang lelaki gagah berperawakan atletis bersama seorang wanita yang agak chuby. Aku tahu itulah Faisal dan Monik.
Monik langsung menghampiriku. Berkata setengah berbisik, "Kita ikuti aja apa yang mereka mau ya."
"Iya," aku mengangguk dengan senyum.
"Pokoknya kita harus kompak ya...." Monik mengacungkan telapak tangannya ke depanku. Kubalas dengan hal yang sama, sampai terjadi tepukan antara tanganku dengan tangan Monik.
"Lho...ini kalian udah mulai main tadi?" tanya Faisal kepada Apuy.
"Belum. Baru heating doang," sahut Apuy,"kalian udah main?"
"Belum...baru ngobrol doang. Ya ngerundingin mau gabung di sini," kata Faisal, "teman-teman lain juga pada gabung jadi dua pasang - dua pasang ."
"Ayo kita langsung ke acara utama...everyone must be naked please..." kata Apuy sambil menanggalkan celana dalamnya (satu-satunya yang masih melekat di tubuhnya).
Aku mengangguk sambil memberi isyarat kepada Monik agar melepaskan semua pakaiannya, lalu bersama-sama naik ke atas tempat tidur. Monik tak sulit melakukannya, karena ia cuma mengenakan kimono, sementara di balik kimono itu gak ada apa-apa lagi kecuali tubuh chubbynya yang putih bersih. Setelah sama-sama telanjang, aku danm Monik naik ke atas tempat tidur sambil ketawa-ketawa kecil.
"Kalau dipikir-pikir, acara reuni ini fantastis banget ya," kata Monik setengah berbisik padaku.
"Iya...," sahutku sambil memperhatikan Faisal yang sedang menelanjangi dirinya, "nanti setelah reuni ini selesai, pasti ada yang bikin acara swing secara pribadi."
"Faisal itu penisnya panjang banget lho," bisik Monik sambil memandang ke arah Faisal yang sedang menanggalkan celana dalamnya.
"Masa?!" cetusku dengan pandangan tetap tertuju ke arah bagian di bawah perut Faisal. Dan....aaaauuu....setelah Faisal telanjang, ternyata kata-kata Monik itu benar, penis Faisal itu panjang banget....! Kayak ular cobra yang sedang mengacung tegak lurus ke atas....!
Apuy melompat ke atas tubuhku sambil berkata, "Kita lanjutin yang tadi yooooo..."
Disusul dengan suara Faisal, "Aku juga mau lanjutin...." disusul dengan lompatannya ke atas tubuh Monika.
Kami berempat mulai bergumul dengan pasangan masing-masing. Tapi Apuy cuma sebentar menggumuliku, lalu berusaha memasukkan penisnya ke dalam liang kemaluanku. Lubang kemaluanku belum lama mencapai orgasme, sehingga tak sulit bagi Apuy untuk memasukkan batang kemaluannya.
Sesaat kemudian Apuy mulai mengenjotku, sementara Faisal pun kelihatan mulai berusaha memasukkan penis panjangnya ke dalam vagina Monik.Tak lama kemudian Faisal pun sudah mengenjot Monik dengan garangnya.
Monik yang menelentang di sisiku berkali-kali menyentuhku tanpa disengaja. Bahkan lama-lama aku merasa mulai merapat dengan Monik. Tapi manakala aku dan Monik saling pandang, kami jadi ketawa malu-malu. Karena sebenarnya kami sedang berkespresi aneh, kalau lihat bayangan di cermin pasti kami malu.
Apuy semakin gencar mengenjotku. Sementara kulihat Faisal pun mulai gencar-gencarnya mengenjot Monik.
Namun pada satu saat Faisal berkata, "Puy ! Tukaran pasangan yok..."
"Boleh," Apuy mengangguk sambil memandangku seolah minta izin. Aku tidak bereaksi. Padahal aku senang sekali mendengar Faisal mengajak tukar pasangan tadi. Karena diam-diam aku ingin merasakan seperti apa dienjot oleh penis sepanjang itu.
Apuy dan Faisal hampir barengan mencabut penisnya. Lalu Apuy bergerak ke atas perut Monik, sementara Faisal bergerak ke atas perutku.
Apuy langsung membenamkan penisnya ke liang kemaluan Monik, lalu mengenjotnya dengan sikap ceria. Tapi Faisal tidak seperti itu. Ia menerkamku, lalu meremas buah dadaku sambil berbisik, "Dari tadi aku udah gemas melihat payudaramu ini...bentuknya seperti menantangku terus..."
Dan aku menjawabnya dengan genggaman di batang kemaluannya yang benar-benar panjang ini. Aku pun gemas dari tadi, ingin merasakan gesekan penis sepanjang ini. Besarnya hampir sama dengan penis Apuy. Tapi panjangnya, wow, luar biasa !
Namun kubiarkan ia berpuas-puas meremas dan mengemut pentil payudaraku. Karena permainan tangan dan mulutnya kurasakan enak sekali.
Ia pun mencium bibirku disusul dengan lumatannya, lalu terdengar bisikannya, "Mau main di atas?"
"Gak ah...panjang begini tititnya...ntar aku keselek," sahutku, "Ayo masukin aja....aku udah horny berat neh..."
Faisal tersenyum, mencium bibirku sekali lagi, lalu mengarahkan penisnya ke mulut vaginaku...dan...oooh....ketika penis panjang gede itu menerobos lubang kemaluanku....belum masuk semua juga terasa sudah menendang ujung lorong kenikmatanku. Tapi jujur...ini enak sekali...!
Maka dengan sepenuh gairahku, kudekap pinggang Faisal dan ia mulai menggeser-geserkan batang kemaluannya secara berirama.
Dan setiap kali ia mendorong batang kemaluannya, terasa "topi bajanya" menonjok dasar liang kewanitaanku. Ini benar-benar nikmat, mungkin karena bagian yang disebut "cincin purana" di dasar liang kewanitaanku terus-terusan tersentuh oleh moncong penis Faisal. Membuatku terpejam-pejam saking enaknya.
======================================================================
Hanya sampai di situ tulisan istriku. Entah kenapa ia tidak menyelesaikannya. Padahal sudah kusuruh untuk menuliskan semua kejadian indah dalam reuni yang fantastis itu.
"Sayang," kataku sambil membawa buku tebal yang baru diisi beberapa lembar itu, "Kenapa tulisanmu cuma segini? Ini kan cuma hari pertama? Lalu yang kedua, ketiga dan selanjutnya mana?"
"Aku kan bukan penulis Bang," sahutnya, "Lagian terlalu banyak kejadian di dalam reuni itu. Susah nulisinnya satu persatu. Kapan-kapan akan kutuliskan lagi semua kejadian yang masih kuingat."
"Oke deh," aku tersenyum dan mencoba untuk mengerti istriku. Ia memang paling malas menulis-nulis seperti yang kuinginkan. Ia cuma senang bergelut dengan angka-angka rupiah, karena bakatnya memang kuat di bidang matematika.
"Tapi kan seperti kata Abang...setelah reuni itu kita bisa melanjutkan ke arah yang lebih serius dengan pasangan suami istri pilihan kita."
"Iya. Emang di antara teman-temanku itu mana ang paling berkesan bagimu?"
"Mmm...siapa ya? Semuanya juga berkesan. Tapi suasana di dalam reuni itu terlalu ramai, jadi aku gak bisa meresapinya."
"Tapi kita jadi punya banyak teman yang bisa kita ajak swing seperti dengan Edo dan Jaka. Makanya aku tanya, siapa yang paling mengesankan di antara teman-temanku itu?"
"Joseph..."
"Kenapa Joseph yang mengesankan?"
"Ah, pokoknya mengesankan aja."
"Oke. Nanti kalau mau swing kita ajak dia aja ya."
"Boleh," istriku mengangguk sambil tersenyum manis, "Sekarang kita bobo aja yok...udah malem neh."
Aku mengangguk sambil mencari piyama di lemari pakaianku. Tadinya aku mau mengenakan piyama, lalu tidur seperti ajakan istriku. Namun tiba-tiba hpku berdering.
Kulihat siapa yang nelepon. Ternyata dari Mbak Lies, istri Bang Yana.
"Hallo Mbak...."
"Yadi...bisa ke rumah sebentar?"
"Kapan Mbak?"
"Ya sekarang lah. Ada hal penting sekali."
"Baik Mbak. Aku merapat ke situ dalam setengah jam."
"Aku tunggu ya."
"Iya Mbak."
Kutengok jam dinding, sudah jam sembilan malam. Ada apa istri Bang Yana memanggilku malam-malam begini? Padahal aku baru saja pulang, habis transaksi café yang dibeli oleh orang Solo.
Aku bergegas ke kamar mandi. Meski sudah malam, aku maksain mandi. Karena badanku keringatan siang tadi.
"Mau ke mana Bang?" tanya istriku ketika aku sedang berdandan di kamar.
"Dipanggil sama istri Bang Yana. Jangan-jangan ada masalah dengan proyek di Samarinda itu."
"Nanti bawa kunci ya Bang. Biar bisa langsung masuk kalau Abang pulang, gak usah ngetok-ngetok dulu. Aku udah ngantuk, mau tidur."
"Iya," aku mengangguk, lalu mencium ibir istriku, "Aku pergi dulu ya sayang."
"Iya, ati-ati di jalan Bang."
Aku bergegas menuju garasi, mengeluarkan mobilku sendiri, karena Herman sudah pulang. Lagian rumah kakakku itu tak terlalu jauh. Setelah mobilku berada di depan garasi, kukunci pintu garasi dari luar. Dan kuncinya kumasukkan ke saku jaketku.
Tak lama kemudian aku sudah memacu mobilku di jalan raya. Untungnya gak macet, karena hariu sudah malam. Hanya butuh belasan menit, mobilku sudah memasuki pekarangan sebuah rumah megah. Rumah Bang Yana, kakak kandungku.
Tanpa harus memijat bel, pintu depan rumah megah itu dibuka dari dalam. Seorang wanita bertubuh tinggi montok, berusia 35 tahunan, berdiri di ambang pintu. Rupanya Mbak Lies sudah menantikan kedatanganku.
Mbak Lies mempersilakanku masuk ke dalam. Mengajakku masuk ke dalam kamarnya. Mungkin ada sesuatu yang sangat rahasia makanya aku diajak masuk ke dalam kamarnya.
"Sini Yad," Mbak Lies menepuk sofa panjang yang sudah didudukinya, "Aku mau ngomongin hal penting sekali."
Aku pun duduk di sampingnya, "Ada apa Mbak?" tanyaku.
"Kamu tau abangmu itu di mana sekarang?"
"Setau saya sedang di Papua, Mbak."
"Bukan," Mbak Lies geleng-geleng kepala, "Sebenarnya dia sekarang ada di Lombok."
"Ohya?! Ada bisnis baru di Lombok?"
"Bisnis apa? Dia kawin lagi dengan gadis Mataram."
"Ah masa sih?! Mbak tau dari mana?"
"Pacar cewek itu yang kasitau. Dia sakit hati karena pacarnya direbut oleh abangmu, lalu berusaha mendapatkan alamat rumah ini. Lihat nih isinya...." kata Mbak Lies sambil mengambil amplop besar berwarna coklat dari laci lemarinya. Kemudian ia mengeluarkan surat dan beberapa lembar foto dari dalam amplop itu.
Kubaca surat itu, yang ditujukan kepada Nyonya Suryana. Isinya merupakan curhat seorang cowok yang merasa pacarnya direbut lalu dinikahi oleh Bang Yana. Panjang lebar ia curhat di dalam surat itu. Namun kesimpulannya, ia mengadu kepada istri Bang Yana (Mbak Lies). Ia sakit hati karena merasa kebahagiaannya dibunuh oleh Bang Yana. Ia juga melampirkan foto-foto pernikahan Bang Yana dengan gadis Mataram itu. Kuamati foto-foto itu satu persatu. Memang itu foto Bang Yana yang sedang duduk di pelaminan, di samping seorang cewek yang kuakui memang cantik, masih sangat muda pula.
"Kok bisa ya Bang Yana kawin lagi?" cetusku sambil memasukkan kembali surat dan foto-foto itu ke dalam amplopnya.
"Itulah yang bikin sakit hati," kata Mbak Lies sambil berdiri, "Padahal aku ini kurang apa sih? Coba kamu nilai, aku ini kurang apa?"
Aku kaget ketika melihat Mbak Lies menanggalkan gaun tidurnya (yang aku yakin harganya cukup mahal). Lalu dalam keadaan cuma bercelana dalam, ia bertolak pinggang sambil memandangku. Aku agak jengah dibuatnya. Karena sepasang payudara yang montok itu sengaja dipertontonkan padaku.
"Aku ini kurang apa Yad? Coba jawab yang jujur," kata Mbak Lies sambil membusungkan dadanya, tetap bertolak pinggang.
Aku jadi salah tingkah. Lalu menjawab asal-asalan, "Mbak masih cantik dan sexy."
Gilanya Mbak Lies menarik tanganku. Lalu ditempelkan ke togenya sambil berkata, "Walaupun gede, tetekku masih kencang kan? Coba remaslah...remas jangan ragu-ragu...biar kamu bisa menilaiku secara jujur..."
Oh, baru sekali ini aku dibikin degdegan waktu menyentuh payudara perempuan. Masalahnya aku sadar betul siapa perempuan bertubuh tinggi montok dan berpayudara gede ini. Dan aku seperti kena hypnotis, kulakukan apa yang dimintanya. Kuremas perlahan payudara itu. Memang masih kencang. Mungkin karena ia selalu merawatnya dengan ramuan-ramuan khusus. Kalau tidak dirawat, mustahil wanita berusia 35 tahunan dan sudah punya dua orang anak bisa memiliki payudara sekencang itu.
"I...iya Mbak...masih kencang banget," kataku.
Mbak Lies duduk merapat padaku. Tanganku ditarik lagi. Diselipkan ke dalam lingkaran celana dalamnya. Membuatku semakin degdegan. Karena aku seperti dipaksa untuk menyentuh kemaluannya yang tak terasa ada bulunya, mungkin karena ia selalu mencukur jembutnya seperti yang biasa dilakukan oleh istriku. Gilanya, jemariku seperti dipaksa untuk mencolek-colek ke dalam liang kemaluannya yang terasa hangat dan licin.
"Gak kalah sama vegy gadis kan? Lubangnya masih rapet kan?" cetusnya ketika aku masih degdegan karena tak menyangka akan tiba-tiba mengalami semuanya ini.
"Iii...iya Mbak. Masih kecil banget lubangnya," sahutku dengan desir aneh yang mulai merajalela di batinku.
Dan ketika aku masih dipandu untuk mencolek-colek kemaluan Mbak Lies yang masih tertutup celana dalamnya itu, tiba-tiba ia menarik ritsleting celanaku. Entah apa yang mau dilakukannya. Dan...oooh...ia memegang penisku yang sudah menegang ini. Ia pasti kaget, karena aku tahu persis bahwa kalau dibandingkan dengan penis abangku, penisku jauh lebih gede dan jauh lebih panjang.
Dan yang membuatku agak malu, Mbak Lies jadi tahu bahwa diam-diam penisku sudah "siap tempur" alias ngaceng berat !
Dadaku didorongnya, sehingga aku jadi terlentang dibuatnya. Aku tak bergerak ketika celana panjang dan celana dalamku ditarik oleh Mbak Lies, sampai terlepas. Dan...oooh....Mbak Lies menunduk, lalu menjilati batang kemaluanku dengan lahapnya. Lalu mengulumnya...dan terasa menyedot-nyedot sambil menyapu-nyapukan lidahnya di puncak penisku.
Ketika aku semakin dilanda gelombang nafsu, dengan cepat Mbak Lies melepaskan celana dalamnya. sehingga tubuh istri abangku itu jadi telanjang bulat. Dan aku diam saja ketika ia menduduki batang kemaluanku...bukan cuma menduduki, karena ia sedang berusaha memasukkan batang kemaluanku ke dalam meqinya yang tanpa jembut itu. Masuk ! Ya...ia berhasil membuat penisku membenam ke dalam liang meqinya !
Memang kuakui, liang meqi Mbak Lies terasa sempit sekali, meski aku tahu bahwa ia sudah punya dua orang anak. Mungkin ada perawatan khusus yang membuat meqinya tetap rapet, atau mungkin juga ia sudah mengalami operasi untuk membuat liang meqinya jadi seperti perawan lagi. Entahlah. Yang jelas, ia sudah mulai menggerak-gerakkan pantatnya sedemikian rupa, sehingga penisku jadi seperti dikocok-kocok oleh liang meqinya.
"Oooh...Mbak....aaaaaah.....Mbak....." aku pun mulai mendesah-desah keenakan.
"Masih enak kan?" tanya Mbak Lies sambil menghentikan ayunan meqinya.
"I...iya Mbak...enak sekali...."
Mbak Lies mengangkat pantatnya, sehingga penisku terlepas dari jepitan liang kewanitaannya. Aku heran dan...kecewa...karena tadinya kupikir mau stop di situ. Ternyata tidak. Ia menarik lenganku dan mengajakku pindah ke atas tempat tidurnya, mungkin karena sofa itu dianggap kurang lebar dan membuatnya kurang leluasa bergerak.
Ia menelentang di atas tempat tidur sambil merentangkan kedua pahanya lebar-kebar, sambil berkata, " Bukan cuma abangmu saja yang bisa main gila. Aku juga bisa main gila. Ayo Yad....kebetulan punyamu jauh lebih gagah daripada punya abangmu....lanjutkan...."
Tanpa harus diberi petunjuk lagi, aku cukup mengerti apa yang diinginkannya. Dan memang sang nafsu sudah menguasaiku. Maka tanpabuang-buang waktu lagi kuarahkan batang kemaluanku ke mulut meqi Mbak Lies, lalu kudorong kuat-kuat. Dan...blessssssssss.....masuk lagi.
Kujatuhkan dadaku ke atas dada Mbak Lies, kemudian kuayun batang kemaluanku dengan gerakan perlahan...lalu kupercepat.....dan aku benar-benar sedang menyetubuhi istri abangku tanpa basa basi lagi.
Mbak Lies memeluk leherku. Menciumi bibirku. Meremas-remas bahuku sambil berdesah-desah.
"Aaaah....Yadi....malah lebih enak digauli sama kamu Yad....ayo Yad....kita buktikan bahwa kita juga bisa gila-gilaan seperti abangmu....iya...uuuuh....genjot terus Yad...aaah...enak Yad....."
Dalam keadaan yang sudah telanjur jauh ini, tiada pilihan bagiku selain menikmati enaknya kemaluan wanita setengah baya ini. Maka aku pun mengumpulkan segenap potensiku untuk menyetubuhi Mbak Lies habis-habisan.
"Oooh...Yadi...oooh...aaah....aaaah.....hhhh....iya...genjot terus sayang...genjot terus.....hhhhh" tiada hentinya Mbak Lies berceloteh meski dengan suara setengah berbisik.
Aku pun mulai memanfaatkan kedua tanganku, untuk meremas-remas sepasang payudara Mbak Lies, bahkan terkadang kukulum pentil togenya, kucelucupi, kujilati dan kuremas.
Rasanya persetubuhanku dengan wanita tinggi montok ini seru jua. Namun setelah sekian lamanya aklu mengenjot Mbak Lies, tiba-tiba ioa berbisik terengah, "Ayo Yad....aku sudah mau keluar...kita keluarin bareng-bareng yuk....ooooh....."
Sebenarnya aku masih bisa bertahan lama. Tapi aku ingin mengikuti ajakan Mbak Lies. Ingin mencapai titik orrgasme berbarengan, karena aku tahu hal itu paling sempurna dalam suatu persetubuhan.
Maka dengan gerakan garang kugenjot batang kemaluanku maju-mundur...dag-dug-dag-dug-dag-dug.....sampai akhirnya kami sama-sama menahan napas, sama-sama mengejang....lalu saling remas dan melenguh nikmat....aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhh...
Dekapan Mbak Lies masih terasa erat sekali ketika kurasakan liang kemaluannya mengedut-ngedut, disusul dengan membanjirnya lendir di dalamnya, disusul lagi dengan tembakan-tembakan air maniku yang semakin membanjiri liang kewanitaan istri abangku itu.
"Uuuuh...luar biasa," kata Mbak Lies setelah kucabut batang kemaluanku dari jepitan liang vaginanya. Dan tampak cairan kental putih mengalir dari liang vagina wanita setengah baya itu.
Setelah mengelap vaginanya dengan handuk kecil, Mbak Lies memelukku, "Terimakasih Yad. Besok juga aku akan menyerahkan salah satu assetku padamu."
Aku tak menjawab. Cuma memandang Mbak Lies sambil mengenakan pakaianku kembali.
"Kamu tau kan, aku yang modalin abangmu itu. Kalau tidak ada hartaku, apa yang bisa dia perbuat? Tapi setelah kumodali, dia malah mengambil kesempatan untuk perempuan lain. Tapi gakpapa. Harta warisan dari orangtuaku takkan habis tujuh turunan. Masih banyak hartaku yang abangmu gak tau. Karena itu aku akan memberimu salah satu asset yang akan menaikkan taraf hidupmu. Syaratnya cuma dua. Pertama, jangan sampai abangmu tau bahwa aku memberikan asset itu."
Aku cuma terlongong. Mbak Lies memelukku dengan hangat dan berkata, "Syarat yang kedua, kalau abangmu tidak ada...kamu harus memuasiku seperti barusan ya sayang."
"I...iya Mbak," sahutku tergagap.
"Kalau aku mau sembarangan main gila, gampang sekali. Tapi aku tak mau sembarangan. Karena itu aku ngajak kamu selingkuh. Dan ternyata aku tidak salah pilih...." Mbak Lies menciumi pipiku dan membisiki telingaku, "ternyata kamu jauh lebih hebat dari perkiraanku...jauh lebih hebat daripada abangmu sendiri. Tapi tutup rahasia ini ya sayang."
"Iya Mbak. Tapi dengan sendirinya istriku juga jangan sampai tau."
"Ya iyalah. Kalau istrimu nanya dari mana kamu dapat asset segitu mahalnya, bilang aja bisnismu ada yang meledak."
"Sekarang pulanglah. Jangan sampai istrimu curiga nanti. Besok pagi ke sini lagi, untuk melihat asset yang akan kuhibahkan padamu itu ya."
"Iii...iya Mbak."
Pulang dari rumah Bang Yana, ada tanda tanya besar di benakku. Asset apa sebenarnya yang akan diberikan padaku itu? Tanah atau sawah atau apa ya?
Tanda tanya itu tak mendapat jawaban sama sekali. Tapi sejak lama aku tahu bahwa Mbak Lies itu anak orang super kaya. Anak tunggal pula. Waktu resepsi pernikahannya dengan abangku juga diselenggarakan di convention hall hotel bintang lima di Jakarta.
Setibanya di rumah, kulihat istriku sudah nyenyak tidur. Dan aku sulit memicingkan mata, karena tanda tanya itu tak terjawabkan juga. Untuk menindas keresahanku, kusetelkan HBO di TVku. tapi pikiranku tidak tertuju ke film yang sedang ditayangkan. Jujur....semua yang kualami tadi merupakan kejutan besar bagiku. Kejutan yang sedikit pun tak pernah kupikirkan sebelumnya.
Dan akhirnya aku tertidur di sofa, tanpa mematikan TV yang masih menayangkan film barat.
Paginya aku terbangunkan oleh suara istriku, "Abang tidur di sini lagi...pindah ke kamar Bang..."
Aku bangkit dan menggeliat, "Aku lihat kamu tidur nyenyak sekali," kataku, "aku takut bikin kamu terbangun, makanya tidur di sini."
"Nggak lah. Abang sih nyari alesan aja. Bilang aja pengen nonton sepakbola gitu."
Aku tidak membantahnya. biar gak jadi panjang.
"Tadi malam ada apa istri Bang Yana manggil Bang?" tanya istriku yang membuatku bingung menjawabnya.
Tapi, sebagai "pakar ngeles" cepat saja aku menemukan jawabannya. Kataku, "Cuma nanyain Bang Yana itu benar lagi di Papua atau di mana. Yaaa, aku gak bisa jawab. Terbang ke Papuanya juga aku gak tau. Setelah ada proyek di Samarinda itu, baru aku tau bahwa dia di Papua."
"Oh, sukurlah kalau gak ada apa-apa sih. Takutnya kerjaan Abang di Samarinda i ada yang gak beres."
"Ufff...lupa ! Pagi ini aku mau meeting sama team dari Bogor," kataku sambil bergegas menuju kamar mandi.
Di kamar mandi aku mandi sebersih-bersihnya. Rambutku juga dikeramas....hihihi.
Tak lama kemudian aku sudah berada di belakang setir mobilku. Saat itu membekal jas dan dasi, untuk jaga-jaga, siapa tahu Mbak Lies membawaku ke dalam suasana yang formal. Tapi jas dan dasiku cuma digantungkan dengan hangernya di samping pintu kanan belakang mobilku. Dan tidak seperti biasanya, saat itu aku mengenakan kemeja putih tangan panjang, celana dan sepatuku juga bukan casual lagi. Herman sudah ditelepon tadi, agar dia libur saja hari ini. Soalnya aku ingin Mbak Lies merasa benar-benar aman waktu penyerahan asset itu. Asset yang aku belum tahu dalam bentuk apa.
Setibanya di rumah megah itu, Mbak Lies menyambutku, dalam gaun hitamnya yang mengkilap, sehingga kulitnya yang putih mulus itu tampak kontras dengan warna gaunnya.
"Mobil Yadi tinggalin di sini. Nanti pakai mobilku aja."
Aku menurut saja. Lalu Mbak Lies mengeluarkan salah satu mobilnya dari dalam garasi. Tadinya kupikir mau mengeluarkan Hammernya. Ternyata ia mengeluarkan Jaguar hitamnya.
"Kamu aja yang nyetir, Yad," kata Mbak Lies sambil keluar dari Jaguarnya, yang mesinnya masih hidup.
"Langsung berangkat sekarang Mbak?" tanyaku.
"Iya, mumpung jalanan belum macet," sahutnya. Harum parfum mahal tersiar ke hidungku. Tentu parfum yang Mbak Lies kenakan.
Tak lama kemudian aku sudah melajukan Jaguar hitam itu di jalan aspal. Mbak Lies memberi petunjuk jalan apa yang harus kutuju.
"Yad...jujur...tadi malam mengesankan sekali. Aku gak nyangka kamu perkasa begitu."
"Hehehe...sama Mbak. Aku juga terkesan," sahutku. Di dalam hati aku berkata: Itu belum apa-apa. Sebenarnya tadi malam aku bisa bertahan empat-lima kali lipat lebih lama dari itu.
"Apa yang membuat kamu terkesan?"
"Semuanya serba mengesankan."
"Nanti kita main lagi, bisa?"
"Boleh," aku mengangguk.
"Nah Yad...di situ belok ke kiri....iya...iya...ini halaman depan asset yang kujanjikan tadi malam. Mulai hari ini jadi milikmu."
"Ho...hotel ini buatku Mbak?" tanyaku dalam kaget. Sebuah hotel tiga lantai berdiri megah di depanku. (maaf, nama hotel itu takkan kusebutkan di sini, untuk menjaga kerahasiaan true story ini)
"Iya. Ini hotel bintang tiga. Kuhibahkan padamu. Tapi nanti di notaris bikin perjanjian seolah-olah dijual padamu. Hotel ini atas nama temanku, sengaja dibuat begitu, supaya abangmu jangan tau...jangan semua hartaku dihabiskan olehnya."
"Kalau bunyinya jual beli, kan ada pajaknya Mbak."
"Iya," Mbak Lies menepuk bahuku, "Pajaknya, biaya notarisnya dan sebagainya akan kubayar semuanya. Kamu cukup duduk manis aja Yadi sayang....emwuaaah," Mbak Lies mengecup pipiku, lalu turun dari mobil. Dua orang satpam mengangguk sopan sambil mengucapkan selamat pagi kepada Mbak Lies, kemudian mereka mengawal Mbak Lies masuk ke lobby hotel. Aku pun mengikutinya dari belakang.
Wow...mimpi apa aku sebelum dipanggil Mbak Lies tadi malam? Tiba-tiba saja aku kejatuhan bintang yang...aaah...sejujurnya bermimpi pun tidak kalau aku akan mendapatkan sesuatu yang terlalu berharga untukku ini.
Di ruang kerja owner, Mbak Lies berkata padaku, "Jadi nanti saham hotel ini seolah-olah dijual padamu sebanyak sembilan puluh sembilan persen. Yang satu persen adalah milik para karyawan di sini. Jadi setiap akhir tahun mereka berhak mendapatkan bagian keuntungan satu persen."
"Iya Mbak."
"Sebagai owner baru, kamu berhak mengganti GM dan para manager. Terserah kamulah Yad. Yang jelas luas tanah di belakang itu, masih ada satu hektar lagi, kalau-kalau kamu bermaksud mengembangkannya nanti. "
"Iya Mbak."
"Aku percaya, kamu bisa mengembangkan hotel ini. Tapi jangan buru-buru menaikkannya ke bintang empat, apalagi ke bintang lima. Mmm...nantilah aku kasih tau managemennya yang baik. Hotel-hotel bintang lima bahkan tak ragu-ragu menggaji orang asing untuk menjadi GM. Tapi kamu jangan ikut-ikutan seperti itu. Bangsa kita juga banyak yang sudah pandai kok."
Tak lama kemudian datang seorang wanita yang sebaya dengan Mbak Lies. "Nah ini Bu Nancy datang....kenalkan dulu....ini Pak Yadi pembeli hotel ini....dan ini Bu Nancy, yang selama ini berperan seolah-olah owner hotel ini. Dia teman seangkatan waktu masih kuliah dulu. "
Aku pun berdiri dan menjabat tangan wanita yang dipanggil Bu Nancy itu. Mbak Lies merahasiakan hubunganku dengannya, jadi dia tidak menyebutkan bahwa aku ini adik suami Mbak Lies. Pokoknya di mata Bu Nancy pun aku disebut sebagai pembeli hotel bintang tiga ini.
Tak lama kemudian notaris pun datang. O, enaknya jadi orang super kaya. Mau transaksi juga notarisnya datang sendiri, tak usah mendatangi kantornya.
Singkatnya semua prosedur untuk "pembelian" hotel itu bisa diselesaikan pada hari itu juga.
Setelah proses transaksi selesai, kusangka Mbak Lies mau ngajak langsung pulang ke rumahnya. Ternyata tidak. Ia mengajakku ke luar kota. Di jalan ke arah yang diminta oleh Mbak Lies, aku berkata, "Mbak Lies...aku sangat-sangat berterimakasih atas kebaikan Mbak. Terus terang, bermimpi pun tidak kalau aku akan mendapat hadiah yang tak ternilai harganya itu."
"Sudahlah...jangan banyak basa-basi," sahut Mbak Lies, "Sekarang kalau hatiku bertanya, siapa lelaki yang paling kamu sayangi di dunia ini, aku akan menjawabnya sendiri. Lelaki itu bernama Yadi. So hadiahku itu boleh dianggap sebagai tanda sayangku padamu, Yad."
"Iya Mbak. Perasaanku juga sejak tadi malam sudah mulai menyayangi Mbak." Mbak Lies tersenyum. kemudian menyuruhku membelokkan mobilnya ke halaman sebuah villa.
"Kita istirahat dulu di villaku itu, nanti malam atau besok pagi aja pulangnya," kata Mbak Lies sambil membuka pintu mobilnya.
"Ini villa punya Mbak?" tanyaku dengan perasaan kagum.
"Iya," Mbak Lies mengangguk. Lalu turun dari mobil. Aku pun turun dari mobil, kemudian mengikuti langkah Mbak Lies.
"Sebenarnya mubadzir juga punya villa seperti ini. Dipakainya paling juga setahun sekali," kata Mbak Lies, sementara dari kejauhan seorang lelaki berlari-lari menghampiri Mbak Lies.
"Selamat sore, Nyonya," kata lelaki itu sambil membungkuk sopan.
"Sore," Mbak Lies mengangguk tanpa senyum, "villanya hari ini dibersihkan?"
"Sudah Nyonya. Tiap pagi juga dibersihkan," sahut lelaki itu sambil melangkah duluan menuju pintu depan. Ia mengeluarkan serangkaian kunci dari saku celananya, lalu memilih-milih kunci itu dan dibukanya pintu itu.
Setelah masuk ke dalam villa itu, aku menilai bahwa villa itu jauh lebih besar daripada villa yang pernah kupakai bersama istriku, Edo dan istrinya. Tapi kelihatannya kamar-kamar di dalam villa ini tidak sebesar villa punya orang asing itu. Namun kamarnya cukup banyak. Kuhitung-hitung, ternyata kamarnya ada sembilan.
"Villa ini besar sekali Mbak. Kenapa gak dikomersilkan?" tanyaku setelah lelaki itu berlalu dan pintu depan sudah Mbak Lies tutupkan dari dalam.
"Dikomersilkan gimana?"
"Disewakan seperti hotel."
"Ooo...nggak ah. Dulu juga pernah disewa, gak taunya dipakai judi....digerebek polisi, eeee....aku terbawa-bawa juga dipanggil ke kantor polisi."
"Ohya?"
"Iya. Biar aja villa ini hitung-hitung nginvest aja. Sekalian bisa dipakai...hmmm...dipakai kencan denganmu, sayang...." kata Mbak Lies sambil mengepit sepasang pipiku. Lalu mencium bibirku.
"Bang Yana tahu bahwa Mbak punya villa ini?"
"Nggak," Mbak Lies menggeleng, lalu duduk di sofa panjang dan lebar tapi tanpa sandaran, "Jadi villa ini juga termasuk rahasia kita ya."
"Iya Mbak. Kujamin semua rahasia Mbak yang aku tahu, akan tetap kurahasiakan," kataku sambil duduk di samping Mbak Lies.
Rasanya kurang enak juga kalau aku menunggu diserang terus. Sebagai seorang lelaki, sepatutnya aku yang menyerang duluan. Karena aku tau tujuan Mbak Lies mengajakku ke villa ini, maka langsung aja kupeluk pinggangnya erat-erat. Tadinya aku bermaksud mencium dan melumat bibirnya. Tapi Mbak Lies menepiskan pelukanku. Katanya, "Nanti dulu...gaunku ini harus dilepaskan dulu. Ohya...kunciin pintu depan, sekalian tutupkan gordijnnya."
"Sip Mbak Lies sayang..." sahutku sambil bergegas menuju pintu depan yang memang belum dikuncikan. Setelah menguncikan pintu depan, kutarik kain gordijnnya. Sehingga di dalam villa jadi agak gelap. Namun tampak jelas Mbak Lies sedang menanggalkan gaun hitamnya. Lalu membuka pintu kamar yang paling utara. Dan menggantungkan gaunnya di kapstok. Kemudian ia merebahkan diri di atas tempat tidur, dalam keadaan tinggal berbeha dan bercelana dalam saja.
Aku pun menanggalkan celana panjang dan kemeja putihku, lalu kugantungkan di dekat gaun Mbak Lies.
Mbak Lies yang sedang terlentang menungguku, menyunggingkan senyum manisnya untukku. Aku pun menjawabnya dengan senyuman. Dengan terkaman hangat. Dengan pagutan di bibir sensualnya. Dan terasa ia sangat menikmatinya. Ia membalas lumatanku sambil memeluk leherku erat-erat.
Kami bergumul hangat, namun kujaga agar tetap mesra. Karena ia seorang wanita yang telah meningkatkan derajat hidupku. Aku tak boleh sekadar melampiaskan nafsuku. Aku harus menjaga perasaannya, agar sakit hatinya terhadap abangku bertambah dengan sakit hati terhadapku.
Lagian sebenarnya Mbak Lies ini tidak jelek. Bahkan sebaliknya, manis dan sexy. Kalau dibanding-bandingkan, Mbak Lies ini mirip-mirip Cornelia Agatha waktu masih agak mudaan.
Ketika bra Mbak Lies sudah tertanggal, aku melanjutkannya ke tahap yang lebih hangat. Kuremas payudaranya dengan lembut, lalu kucelucupi dengan hangat, sementara tanganku mulai menyelusuri perutnya, menyelinap ke dalam celana dalamnya, lalu menggerayangi kemaluannya yang terasa hangat dan agak membasah.
Desahan dan rengekan histerisnya mulai terdengar. Sementara mata bundarnya kadang terpejam kadang menatapku dengan bola mata bergoyang....ah...kenapa Bang Yana menyia-nyiakan mahluk semenarik ini? Apakah karena rumput di pekarangan tetangga selalu tampak lebih hijau daripada di pekarangan sendiri?
Entahlah. Yang jelas aku sudah menurunkan bibirku, dari payudara montok itu ke pusar perutnya. Dan celana dalam Mbak Lies mulai kuturunkan sedikit demi sedikit, sampai terlepas sepenuhnya dari kakinya. Lalu daratkan bibirku di kemaluan yang tercukur habis itu...kuciumi dengan penuh semangat, kujilati labia mayoranya dengan nafsu yang semakin bergejolak...kujilati clitorisnya yang terasa agak mengeras...sehingga Mbak Lies mulai mengejang-ngejang. Mulai mengelus rambutku yang berada di bawah perutnya.
Dan ketika aku mulai melancarkan jilatan bercampur isapan di clitorisnya, Mbak Lies mulai merengek-rengek histris,
"Yadi....aaaaaa......aaaaah.....jilatanmu enak banget Yad....aaaaahhhhh......aaaah...iya Yad....iya....enak digituin Yad....aaaaahh...Yadiiii ....aku makin sayang padamu Yadddd.........aaaa....aaaaa....aaaahhhhh...."
Ketika feelingku berkata bahwa Mbak Lies sudah dekat orgasme, aku pun menjulurkan tanganku jauh ke atas, ke sepasang payudaranya yang montok itu. Kumainkan kedua pentil payudara Mbak Lies, sementara mulutku konsen di clitorisnya. Kusedot-sedot sambil kuelus-elus dengan ujung lidahku.
"Yaaaad....aaaaahhhh...akhuuu lephassssssssssssssss....hhhhhhhh........" Mbak Lies berkelojotan sementara liang kemaluannya terasa membanjir. Tapi aku tak peduli dengan kering ataupun banjirnya liang kemaluan wanita bertubuh tinggi montok itu. Aku langsung mengarahkan batang kemaluanku ke liang yang kebanjiran lendir itu. Dan sekali tekan...blessss....batang kemaluanku dengan mudahnya melesak masuk seluruhnya. Mbak Lies membuka matanya yang tampak sayu. Lalu mendekapku erat-erat, sementara aku mulai mengenjotnya....
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar