THE DIAMOND PART 16

 

Perjalan di tempuh 12 jam, karena ia terkena macet, shanty pun langsung melihat ke keluar jendela, shanty kembali teringat tempat yang ia lewati hampir sama dimana tempat ia yang sering ngamen waktu 10 tahun lalu. Tak ada yang berubah dan hanya tertata rapih.






“ini kan tempat.. ..kenapa kita kesini?” Tanya shanty yang masih terkejut dan menyadari ini benar-benar kota yang ia tinggali 10 tahun lalu.


“gue udah tinggal disini, dan tugas disini, “ jawab gilang santai langsung menuju arah perumahan.


“sama bokap lo?” tanyanya lagi penasaran.


“gak kok, mereka di kota sebelah, gue tinggal sendiri di sini, lo sama bang benny bisa tinggal sementara disini, sampai dapat perkejaan yang cocok” ucap gilang berhenti di rumah yang berbeda dari rumah lainnya, rumahnya tak bertingkat dan memilik halaman luas dan juga banyak tanaman hias.


“gue aja” ucap shanty saat gilang mengendong tasnya sambil meringis, dengan tanpa ekpresi shanty mengambilnya begitu saja dan langsung menuju pintu depan. Mereka pun masuk kedalam yang lumayan luas karena hanya beberapa barang seperti rumah kosong.


“sebenarnya gue punya rencana tinggal disini, sekarang masih lom gue tempatin, makanya gue bawa lo kesini” ucap gilang ikut masuk.


“dan bisa tinggal sampai kapan aja, tenang aja” ucapnya sambil meremas bahunya menahan nyeri dan langsung mengambil sesuatu dari tasnya langsung menuju salah satu kamarnya, rasa penasaran langsung membuat shanty mengikuti gilang.






Ia pun terkejut saat gilang membuka perban yang membungkus punggungnya, kulitnya yang memerah di tambah sedikit basah membuat shanty ikut meringis Melihatnya.




Gilang pun mencoba melilitkan kembali perban yang baru tetapi ia kesulitan untuk itu, ia langsung menoleh saat ada seseorang yang memegang tangannya,dan ternyata shanty di belakanganya. Shanty tanpa bicara mengambil perban langsung melilitkan kembali perbannya.






“yang gue tau kalau luka bakar gini gak usah di perban, biar cepet kering” ucapnya tanpa ekpresi.


“entahlah, mungkin biar gak kena debu” jawab gilang singkat sambil meringis saat shanty melilitkannya sedikit kencang, suasana menjadi sangat hening.saat shanty terus menganti perbannya.


“selesai” shanty langsung melangkah pergi, lagi tangannya di tahan oleh gilang membuatnya kembali menoleh. Gilang menariknya sambil mereka rebahan di kasur.


“thanks” ucap pelan gilang sambil mendekatkan wajahnya dengan wajah shanty,


“lo belum jawab pertanyaan gue, kalau susah jawab gue kasih pilihan, lo pasrah saat gue cium bearti jawaban lo ia, dan sebaliknya” gilang langsung mendekatkan bibirnya.


“hmm” shanty menahan bibirnya gilang dengan tangannya, dan langsung bangun,


“beri gue waktu satu minggu, gue pasti jawab” shanty tersenyum pelan dan langsung melangkah pergi keluar kamarnya. Senyum gilang merekah melihat pertama kalinya shanty tersenyum lepas di depannya secara langsung.








***






Bang benny dan shanty pun merapihkan pakaiannya, rumah ini hanya terdapat dua kamar yang bersampingan, dan masing-masing menempati kamarnya.






“kenapa bengong lo?” tergur bang benny saat shanty berdiri di halaman depan melihat sekeliling.


“hehe, gk bang, gue ngerasa tentram suasana gini, rumah di kelilingi pohon, rasanya nyaman hehe” gumamnya merasakan ada yang aneh.


“oh iya, tadi tuh anak titipin ini sebelum pergi lagi” bang benny memberikan sebuah kotak panjang,


“apaan tuh?” bang benny hanya menggelengkan kepalanya.


“buka aja” shanty mulai membukanya dan terlihat sebuah bingkai foto,


“ini kannnn” ucapnya tertahan melihat di dalam bingkai itu terdapat sebuah coretan gambar rumah di kelilingi perpohonan. Matanya mulai memerah sambil mengigit bibirnya.






Air matanya menetes karena tak menyangka gambar di bingkai ini adalah gambar yang dulu ia lukis dengan alat seadanya, shanty membuat gambar agar berharap ia bisa tinggal di tempat yang tentram dan nyaman.




Shanty pun langsung berjongkok dan terisak nangis, diam-diam gilang memperhatikannya sedalam ini. Ia pun membandingkan gambar di bingkai dengan rumah gilang, dan hasilnya hampir mirip walau tidak sama.






"apa yang harus gue lakuin sekarang?”


“gue ingin di samping Lo lang tapi takut jadi benalu” gumamnya dalam hati sambil menyeka air matanya.


“gue baru kali ini liat lo nangis, hebat banget ya tuh anak bisa bikin seorang shanty nangis” ucap bang benny pelan.


“segalak-galaknya lo, lo masih butuh pendamping hidup. “ bang benny mengusap kepalanya shanty.


“gue gak mau tinggalin lo bang, “ ucapnya kembali terisak.


“jangan kwahtirin gue, gue berharap setelah kejadian ini lo buka lembaran baru. Mungkin sama tuh anak?”


“gue lebih gak nikah daripada harus tinggalin lo bang, gue belum bisa bayar balas budi lo selama ini, yang ada gue terus bikin lo repot”


“dah dahh ah” bang benny mengelus punggungnya agar shanty lebih tenang sambil menuju kedalam rumah. Shanty semakin bimbang untuk memutuskan jawabannya.






***






Tak terasa sudah 1 minggu, gilang datang setelah mengurus semua urusan dan begitu pun shanty sudah memikirkan baik-baik jawabannya, gilang melihat shanty sedang menyiram tanaman, wajahnya kini lebih baik dan tidak terlihat jutek seperti biasanya.






“gue kira lo gak betah” ucap gilang tepat di belakangnya.


“haaa?” shanty yang terkejut langsung menghentikan menyiramnya.


“lo ngapain kesini?”tanyanya sekenananya.


“lah rumah gue, boleh lah balik kesini kapanpun” .


“”ouhh hmmm” shanty langsung berbalik dan melangkah pergi, kembali tangan shanty di tahan.


“nanti malam siap-siap kita pergi ke restoran”


“ha???ngapain?” langkah shanty terhenti sambil membalikan badannya.


“di ajak makan malam sama keluarga gue, bokap gue yang undang” shanty terlihat terkejut mendengarnya.


“gak usah, makan di sini juga enak” jawabnya langsung.


“bang benny juga suruh dateng” lanjutnya


“gak usah protes nih ambil gaun lo dan buat bang benny,”


“jam 7 gue jempur lagi kesini” ucapnya memberikan bungkusan kepada shanty dan langsung kembali ke mobil. Shanty terpaksa mengambilnya dan langsung masuk kedalam.


“belanja darimana lo” Tanya bang benny yang sedang asik menonton tv.


“kita di undang makan malam, jam 7 sama keluarga dia, dan ini suruh pakai nanti malam”


“gilang?” anggukan pelan shanty.


“wahh gilaaaa, terus lo mau?”


“iaah, gue dateng juga bermaksud buat serahin tuh berlian ke bokapnya, gak ada alasan lain dan Gue rasa ini waktu yang tepat.”


“dan setelah itu, kita cari tempat lain deh” senyumnya pelan sambil menghela nafas panjang,


“sayang banget ya, harusnya lo terima aja dia” celetukk bang benny karena menerka jawaban dari shanty ke gilang secara tak langsung.


“gue sadar diri bang, hehe.. gue seneng bisa bantu seseorang jadi sukses secara tak langsung. Tapi untuk dia gue gak cocok bang.” senyum shanty.


“seterah lo dah.. yang penting nanti malam makan enak hahaha” tawa bang benny,


“dah ah nihhh ambil” shanty melempar bungkusan buat bang benny. Tatapannya terus memikirkan apa yang harus ia bilang antara mau dan tak mau.






***






Shanty terdiam di depan cerminnya dengan memakai gaun yang di beli gilang, “ gue belum siap lang di sisi lo, dan berharap malam ini lo ngerti perasaan gue sekarang” gumamnya menjadi bimbang kembali dengan jawabanya.






“tin tin tin” klakson mobil gilang yang sudah menunggu di luar, shanty pun bergegas keluar bersama bang benny.


“gue di belakang aja bang” ucap shanty saat gilang membukakan pintunya.


“ohh gk bisa, lo depan” jawab bang benny, shanty pun terpaksa duduk di kursi depan, gilang tersenyum senang melihat shanty sangat cantik malam ini dengan gaun yang ia beli. Mobil pun menuju restoran yang ternyata tak jauh dari rumah.


“ayo cepetan, udah tungguin” di tariknya tangan shanty, dan shanty tak berusaha melepaskan tangannya gilang. Dari kejauhan terlihat 3 orang yang duduk, dan salah satunya papa gilang. Ia pun melambaikan tangannya.


“ayooo” di gandengnya tangan shanty membuat shanty yang gugup mengikuti langkahnya. Shanty tersenyum malu berhadapan dengan mereka bertiga.


“pa, ma, kak, ini shanty.. kenalin” ucap gilang dengan percaya diri.


“ohh ya ya silahkan duduk” ucap mama gilang yang menyambut hangat dan terus memandang kearah shanty dan bang benny,


“dan ini kakaknya shanty, bang benny” lanjut gilang memperkenalkan bang benny, shanty merasa sangat gugup malam ini, orang tua gilang menyambut hangat karena berkat dirinya gilang menjadi yang sekarang. Hal itu membuat shanty semakin tertekan.


“nikmatin sepuasnya, “ ucap papa gilang setelah menu special sudah tersedia, bang benny begitu terpesona melihat berbagai macam makan, dan langsung sigap mengambil beberapa. Shanty meliriknya tajam agar menjaga sikapnya tetapi tak di perdulikan.


“makan juga lo, “ bisik gilang, shanty pun mengambil dikit demi sedikit, gilang terus memperhatikan shanty yang makan sangat perlahan berbeda dengan bang benny, dan merasa ia merasa tak nyaman di sini, mungkin pandangan mama dan kakaknya terus menuju kearahnya.






Makanan yang begitu banyak kini tersisa hanya piring kotor, shanty kembali melirik bang benny sambil menggelengkan kepalanya.






“nafsu makan kakak kamu benar-benar gede, tapi baguslah habis semua” papa gilang membuka pembicaraan.


“kamu temennya gilang apa udah pacaran?” Tanya mama gilang membuat gilang dan shanty saling melirik.


“bukaann” jawabnnya bersamaan. Kedua roang tua gilang hanya tertawa.


“sebenarnya saya kesini bermaksudddd untukkk” ucapnya tertahan sambil merogoh tasnya dalam-dalam.


“untuk ini….” Shanty berdiri dan memberikan bungkusan hitam ke papa gilang,


“ini??” ucapnya terkejut saat membuka isi bungkusan hitamnya yang ternyata berlian.


“iah, saya berharap itu jadi bukti yang kuat buat tangkap big boss, “ ucapnya menunduk.


“kalau gitu saya pamit, antara saya dan gilang tak ada apa-apa“ ucapnya menundukan kepalanya sambil menarik tangan bang benny.


“tunggu shanty” gilang sedikit terkejut dengan ucapannya membuat gilang langsung memegang tangan shanty.


“plis lepasin, gue gak mau ada yang terluka semakin dalam lang,” ucapnya tersenyum.


“ayo bang pulang, dan besok gue sama bang benny pindah cari kontrakan” ucapnya lagi membuat gilang semakin menghela nafasnya dalam-dalam. Dan menoleh kearah orang tuanya yang mengangkat pundaknya yang bearti mereka tak bisa memaksa,


“om tante, maaf yang tiba-tiba tak sopan, tapi saya ucapin terima kasih buat makan malammnya,” pamit shanty menarik kembali tangan bang benny.


“shanty” ucap gilang memelas, shanty hanya tersenyum,


“ini jawaban lo shanty?” gumam gilang hanya bisa melihat shanty semakin menjauh,


“apa harus gue lepasin lo?” gumamnya lagi menghela nafas, dan terus memandang langkah shanty keluar dari restoran.


“gilang kira jawabannya bakal ia, dan ternyata dia udah jawab secara tak langsung ?” ucap perlahan


“masa gitu aja kamu pasrah sih lang, mungkin dia masih belum siap untuk jawab, mama yakin” ucap mama tiba-tiba.


“maksudnya?”


“ia kalau kamu suka sama dia, kejar sana, masih ada harapan, “ lanjut


“kamu ini katanya udah berubah, tapi soal gini kok lemes gitu, cepetaaannn” pinta mama membuat gilang tersenyum pelan, dan langsung berlari mengejar shanty.


“mungkin kata mama benar, shanty bilang kayak gitu karena terpaksa” gilang berlari dengan sekuat tenaga.






Dari kejahuan terlihat mobil truk yang hilang kendali mengarah tepat ke mobil gilang yang baru saja keluar dari pintu masuk parkiran.






“nggggittttt braaaakkkkkkkkk!!!!” suara benturan keras mobil itu menabrak mobil gilang dengan kencang.



Posting Komentar

0 Komentar