Semenjak kupergoki Zia tengah berduaan di rumah kontrakannya dengan seorang pemulung hatiku menjadi tak tenang. Entah kenapa ada rasa jengkel yang bergejolak di dada. Bukan itu saja, kurasakan ada ketidak terimaan atas perbuatannya itu. Apakah benar aku memang cemburu? Apakah benar aku jadi mencintai gadis itu lebih dalam lagi? Gadis bernama Zia itu benar-benar sudah mengaduk-aduk perasaanku.
Malam ini aku sedang duduk di teras belakang rumah sambil menikmati sebatang rokok berlabel huruf A itu. Mama kebetulan sedang di rumah juga, katanya dia minta libur satu hari sebelum mulai shift malam lagi. Kadang aku bertanya-tanya apa sebenarnya yang dilakukan oleh mama di luaran sana. Kuperhatikan mama jadi berkelakuan mirip anak muda sekarang. Semakin hari kulihat pakaian mama saat di rumah semakin asal-asalan juga.
Sikapku yang cuek pada kelakuan mama sepertinya diartikan kalau aku membiarkan apa yang dilakukannya. Seperti halnya malam ini, sejak sore tadi kulihat mama memakai baju tidur kimono seperti biasanya. Namun sekarang tali di pingganya tidak diikat. Itulah kenapa ada kesan mama ingin memamerkan bentuk tubuhnya yang masih terlihat langsing itu. Dengan baju tidurnya tidak terikat aku bisa melihat dengan jelas celana dalam warna merah muda yang dipakainya malam ini. Belum lagi bulatan payudaranya yang sering nongol secara utuh saat baju tidurnya terbuka seakan tak diperhatikannya.
“Belum tidur Ven?” tanya mama begitu dia mendekatiku.
“Belum mah.. lagi banyak pikiran..” balasku sambil menghisap rokok di jariku.
“Pikiran apa sih? pasti cewek yah?” tanya mama lagi. Kali ini dia duduk di sebelahku, baju tidurnya yang tak menutupi susunya sebelah kiri dia biarkan saja.
“Hehehe.. iyah.. cewek... fuuhhhh” ucapku sambil meniup asap rokok dari dalam mulutku.
“Ngapain sih dibawa pusing, kalo susah-susah ya tinggalin aja, cari yang laen”
“Enggak kok.. bukan pacar..”
“Apalagi bukan pacar kamu.. ngapain sih dipikirin...” ujar mama kemudian.
“Hehehe, iya sih mah.. tapi.. ah, biarin aja”
“Nah, biar kamu gak mikir sampe pusing.. kamu minta apa sama mama biar nyaman?” tanya mamaku sambil memandang wajahku.
“Ahh.. mama ada-ada aja.. tapi kalo boleh sihh...” sengaja kuhentikan ucapanku.
“Minta apa sayang?” tanya mama lagi.
“Dulu kalo aku nangis biasanya mama kasih apa?”
“Pas masih kecil? Ya biar kamu berenti menangis mama biasanya kasih nenen” balas mama.
“yaudah...”
“Maksud kamu? Kamu minta nenen mama lagi? Beneran nih Ven?” tanya mama seakan tak percaya apa yang dia dengar. Aku juga serius memintanya, penasaran aja gimana rasanya bisa ngemut puting susu mama lagi.
“Iya dong mah.. masak Vendi mau minta ke orang laen?”
“Hihihi.. nakal kamu yah? Udah gede masih pengen nenen sama mama.. yaudah sini...” mama kemudian menarik leherku dengan lembut sekaan memintaku tiduran di pangkuannya.
“Aseekkkk...” balasku kegirangan. Mama yang tengah duduk bersila di lantai langsung aku buat tiduran pahanya. Seketika itu buah dada mama begitu dekat dengan mukaku.
Mama kemudian menyibak baju tidurnya sebelah kiri supaya tidak menutupi buah dadanya. Dengan dibantu tangannya mama mengarahkan puting susunya sebelah kiri itu masuk ke dalam mulutku. Seketika itu aku merasa kembali ke waktu bertahun-tahun yang lalu. Semasa kami sekeluarga masih bersama dan semuanya baik-baik saja. Aku sangat merindukan masa-masa itu.
“Kok ga keluar susunya sih? biasanya kan ada..” ucapku iseng sambil terus mengenyot ujung payudara mama.
“Iya ga ada lah Ven.. mama kan gak hamil..” balas mama sambil terus memegangi bulatan payudaranya.
“Kalo gitu mama hamil dong.. biar ada susunya lagi.. hehehee...” candaku sambil ketawa garing.
“Ngawur kamu nih.. emang mama mau hamil sama siapa Ven?”
“Ya cari suami lagi dong mah.. mama masih cantik lho... atau..”
“Atau apa?”
“Ng.. gak dek mah, ga jadi..” masak aku harus ngomong biar Vendi aja yang hamilin mama, bisa digetok pake pot bunga nih pala aing.
Sambil sesekali ngobrol, aku terus mengenyot dan menyedot puting susu mama. Sensasinya sungguh membuatku nyaman banget. Ada rasa kasih sayang dari mama yang begitu besar padaku. Tapi dasar akunya yang mesum, kelakuanku menghisap puting susu mama malah membuat libidoku naik. Kurasakan batang penisku semakin lama semakin tegak mengeras di balik celana bola yang kupakai malam itu.
“Mah.. lepasin dong bajunya..” pintaku iseng.
“Emm.. biar kamu gak keganggu yah nenennya? Iya deh mama lepasin..” duhh, jadi belingsatan sendiri akunya. Mama beneran melepas baju tidurnya. Praktis kini dia hanya memakai celana dalam saja dan kepalaku berada tepat di sebelahnya.
Begitu mama melepas baju tidurnya seketika itu terlihatlah payudaranya sebelah kanan. Kini kedua buah dada mama tersaji tepat di depanku tanpa penghalang apapun. Sambil aku terus menghisap puting mama sebelah kiri, tanganku kini mulai menyentuh puting susunya yang sebelah kanan. Mungkin hal ini akan tidak pantas kalau ada orang lain yang melihatnya. Namun sampai saat ini mama terus membiarkan kelakuan mesumku itu.
“Vendi...”
“Iya mah....”
“Kita pindah ke dalam aja yuk, disini banyak nyamuknya..”
“Umm.. oke mah.. mama mau kemana?”
“Ke kamar mama aja, siapa tau kamu langsung ketiduran, hihi..” ucap mama genit. Entah apa maksud kegenitannya itu.
Aku menyetujui ajakan mama. Mumpung mama mau memberikan payudaranya untuk kunikmati aku turuti saja kemauannya. Akhirnya kami berdua pindah ke dalam kamar mama.
“Kamu baring aja ya Ven.. biar tambah enak” pinta mama kemudian.
“Ohh gitu ya mah.. siapp..”
Aku kemudian naik ke atas tempat tidur lalu memposisikan diriku berbaring telentang. Mama kemudian ikut naik ke atas tempat tidur, lalu mengangkangi perutku. Dengan gerakan yang lembut mama mendudukkan pantatnya tepat di atas perutku. Benar kata mama, dengan posisi begini mulutku bisa dengan leluasa menghisapi kedua puting susu mama bergantian kiri dan kanan.
“Nahh.. tambah enak kan Ven nenennya?” tanya mama sambil tersenyum melihat wajahku.
“Iya mah.. pas banget susunya, hehehe...” candaku.
“Hihihi... ada-ada aja kamu ini.. puas-puasin deh.. mumpung mama ada waktu” balasnya terkikik geli.
“Mah.. boleh gak aku lepasin celanaku? nyiksa banget nih”
“Ehhh.. kok aneh-aneh sih kamu ini??”
“Yahh.. mamah.. boleh dong, sakit banget nih mah” tunjukku pada selangkanganku. Mama kemudian ikut menoleh melihatnya juga.
“Hihi... iya deh, daripada ketahan terus jadi bengkok ntar..”
Setelah mendapat persetujuan dari mama aku kemudian menekuk kedua kakiku lalu tanganku menggapai ujung karet celana bola yang kupakai. Karena ada mama yang masih menduduki perutku agak susah kutarik celanaku, tapi akhirnya aku berhasil juga melepasnya.
“Udah yah Ven.. jangan tambah aneh kamunya.. ini aja udah terlalu jauh kita”
“Gini aja kok mah.. yukk kita mulai lagi”
Masih berada di atas perutku, mama kemudian membungkukkan badannya. Otomatis kedua payudaranya kini bergelantungan indah di depan mukaku. Sungguh indah banget pemandangannya. Kedua susu mama yang berukuran besar itu kini seakan diserahkan semua padaku, anak kandungnya sendiri.
“Nggghhhhhhh.... pelan-pelan dong Ven....” protes mama saat kusedot dengan kuat puting susunya.
“Hehe.. gemes banget mah..”
“Bukan gemes itu.. kamunya aja yang rakus.. hihi”
Kini mama kembali membiarkan mulutku menyedot kedua puting susunya bergantian. Saat ini kuperhatikan detak jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Begitupula degub jantungku. Mungkin kami berdua sudah mulai horni.
“Gimana Ven? Enak kan? Gak kipiran cewe ga jelas itu lagi kan?”
“Hemmmphh.. emmpphh.. iya mah.. susunya mama bener-bener bisa bikin nyaman banget” ucapku jujur tanpa mengendurkan hisapanku pada kedua putingnya.
“Nahh.. bener kan mama bilang?”
“Hehe.. iya mama bener, kalo gitu lain kali boleh dong Vendi minta lagi?”
“Hihihi.. umm.. boleh gak yah? Iya deh.. boleh aja” balas mama dengan tersenyum. Wajah cantiknya semakin terlihat jelas saat itu.
“Eh, mm.. mah.. lepasin cd nya dong.. perut Vendi sakit kegesek-gesek terus” memang aslinya perutku semakin lama terasa panas karena tergesek kain celana dalam mama.
“Ohh.. sakit yah? Oke deh kalo gitu kamu bantu lepasin..” ujar mama santai.
“Be-beneran mah? Yakin gapapa?”
“Gapapa kok.. katanya perut kamu sakit? Ayo dong mama dibantu”
Tanpa menunggu lama kedua jari tanganku dengan cekatan menarik ke bawah celana dalam mama. Sepertinya mama memang benar-benar mengijinkannya, karena kakinya dia angkat bergantian untuk mempermudah aku melepas celana dalam warna merah muda itu.
“Udah kan Ven..”
“Iya mah.. kalo gini ga bakala terasa panas kulit perutku”
Setelah mama melepas celana dalamnya, kini sentuhan antara permukaan vagina mama dengan kulit perutku terasa enak. Rasanya ada aliran listrik yang merayap di tubuhku kala celah vagina mama menggesek perutku dengan lembut. Belum lagi saat ujung penisku sering mengenai bongkahan pantatnya membuat libidoku semakin naik.
Siapa sangka malam ini aku dan mamaku berdua di dalam kamarnya telanjang bulat bersama. Mungkin mama memang ingin membuatku nyaman dan menghilangkan masalahku dengan Zia. Tapi dibalik itu semua pikiran kotorku mulai menguasai otakku. Siapa sih yang bakal tahan kalau ada payudara montok bergantian mengisi mulut dan celah vagina yang begitu dekat dengan batang penis kita.
“Mah.. boleh dong minta ciuman dari mama?” pintaku lagi.
“Boleh.. dimana?”
“Di bibir dong..” balasku lancang.
“Hemm.. makin tambah aneh deh, dulu aja kalo mama cium di bibir pasti kamunya nolak.. yaudah sini..” setujunya.
Mama semakin membungkukkan badannya supaya bibirnya bisa mendekati bibirku. Karena agak susah akhirnya mama sedikit mengangkat pantatnya lalu mundur. Tanpa dia perkirakan sebelumnya, saat mama menurunkan kembali pantatnya rupanya celah vaginanya tepat menindih batang penisku.
“Ehhhh...” ucapku kaget menyadari belahan memek mama tepat mengenai batang penisku.
“Gapapa Ven, birain.. jadi minta mama cium gak nih?” kata mama dengan santainya, seakan tak ada hal penting yang terjadi.
“Jadi dong mah... yukk”
Mama kali ini kembali membungkukkan badannya dan dengan mudah dia mencium bibirku. Satu kali, dua kali kecupan bibir mama terasa aneh, tapi setelah yang ketiga kali malah aku yang ketagihan. Selama aku dewasa baru kali ini bibirku dicium oleh wanita, hanya saja wanita itu adalah ibu kandungku sendiri.
“Emmhh... emmhhh... emhhh...”
Mama hanya menggumam saat bibir kami berdua melekat. Kutahan kepalanya dengan kedua tanganku supaya mama tak cepat-cepat mengangkatnya. Lama kelamaan kurasakan ciuman mama bukan lagi bibir ke bibir, tapi kami sudah saling melumat dan membelit lidah. Sungguh erotis rasanya bagiku menerima ciuman mama itu sambil batang penisku tergesek permukaan vaginanya.
“Emmmhhhh.. jago banget sih kamu ciumnya...”
“Masa sih mah? Aku lho baru kali ini mencium bibir wanita...” ungkapku.
“Waahh.. beneran!?”
“Beneran.. lanjutin gak nih mah?” tawarku.
“Ehh... lanjutin dong Ven.. emmphh.. emmphhhh... mmmuuaahh”
Kami terus beradu bibir dan membelit lidah. Bukan hanya itu, kami juga sudah saling bertukar ludah. Kami melakukannya dengan semangat seakan kami ini adalah sepasang kekasih yang lama terpisah. Namun begitu aku tak mau berbuat lebih jauh. Aku tak mau mama marah lalu tak mau lagi aku sentuh. Bisa bahaya nih kehidupan gua ntar.
“Mphhhh... emmhhh... emmhhhh... ahhh.. emmpphhh...”
Mama terus menggumam mengiringi panasnya cumbuan kami. Sambil terus meladeni belitan lidah mama pada lidahku, kurasakan di bawah sana batang penisku mulai tergesek belahan vagina mama. Pinggul mama yang tak mau diam otomatis ikut menggerakkan permukaan vagianya mengelus-elus penisku. Mungkin karena memek mama sudah mulai becek akhirnya gesekan celah vaginanya bisa lancar mengurut permukaan penisku. Nikmat banget rasanya.
Kami sudah mulai melupakan payudara mama yang sedianya diberikan padaku untuk kuhisap-hisap. Kini kami malah fokus untuk menggesek kedua kelamin kami sambil terus melakukan french kiss dengan khidmat.
“Ahhh... emmhhh... ahh... Venn.. kamu kok kuat banget sih?”
“Uhhhmmhh... ahh.. iya dong mah... masak gini aja udah muncrat.. rugi dong aku” balasku vulgar tanpa bisa kututupi lagi.
“Lanjut??”
“Lanjut dong mah...”
Mama terus menggoyang pinggulnya maju mundur. Akibat gerakannya itu celah memeknya semakin mengelus permukaan penisku. Pikiran mama yang terbagi antara menggesekkan memeknya dengan ciuman bibirnya membuat beberapa kali ujung kemaluanku terselip masuk ke dalam celah vaginanya. Meski hanya masuk kepala penisku tapi tetap saja itu namanya ngentot. Karena mama cuek saja akhirnya akupun ikutan cuek dan lebih memilih mengerjai kedua puting susu mama lagi. Kupilin dan kugesek puting mama dengan jari tangaku.
“Aahhmmmm.. pinter banget sih kamu Ven.. ahhh... anak mama udah gede yah!?”
Di bawah sana kurasakan batang penisku betul-betul sudah basah oleh lendir yang keluar dari celah vagina mama. Kalau sudah seperti itu aku jadi yakin kalau mama saat ini tengah birahi tinggi. Bahkan semakin lama kurasakan mama secara sengaja berusaha meyelipkan kembali ujung penisku pada celah memeknya. Diam-diam aku ingin mengerjai mama, aku ingin lihat bagaimana reaksinya saat penisku beneran melesak masuk ke dalam liang senggamanya.
Mama menggoyangkan pinggulnya semakin liar dan tak terarah. Tangaku masih sibuk terus memelintir kedua puting susunya. Kedua mulut kami juga masih saling menyatu dan bertukar ludah. Ketika goyangan pinggul mama membuat memeknya tepat mengenai ujung penisku kugunakan kesempatan itu untuk menghentakkan pinggulku ke atas.
“Aahhhhhhhhhhhhkkkk....!!” mama memekik panjang ketika batang penisku berhasil masuk ke dalam liang vaginanya.
Aku berlagak cuek dan meneruskan ciuman dan gerakan tanganku mengerjai susunya. Mama sepertinya sedang protes padaku atas masuknya batang kejantananku itu. Matanya kulihat melotot menatap tajam padaku tapi aku berusaha tak menghiraukannya. Aku sudah bersiap kalau mama langsung mengangkat pinggulnya hingga penisku terlepas, tapi diluar dugaan ternyata mama malah mulai menggoyang pinggulnya lagi. Batang penisku yang masih bersarang dalam liang senggamanya kini mulai mengaduk-aduk organ kewanitaanya.
“Uhhhhh.. ahhh.. ahhh... aduhhh.. ahh.. beneran masuk kan!? Ahh.. gimana sih Ven?” ucap mama disela rintihannya.
“Hehe.. ya ga tau mah.. ga sengaja mungkin” balasku terkekeh bahagia.
“Ahh.. yaudah deh... lanjutin aja, enak banget sih kontol kamu ini” ujar mama apa adanya.
Kini tanpa ragu kusodokkan penisku keluar masuk celah vagina mama. Pinggulnya yang ikut bergoyang semakin menambah rasa nikmat yang timbul dalam persetubuhan kami ini. Sungguh aku tak pernah membayangkan sekalipun aku bisa menyetubhui mama kandungku sendiri. Selain berzina dengan kakak perempuanku, kini aku berzina juga dengan ibu kandungku. Masa bodo dengan semuanya, yang penting kami merasa nikmat, yang penting kami sama-sama puas.
“Mah... capek nih.. mama nungging aja yah..” pintaku kemudian.
“Ahh.. ahh... ahh.. iya deh Ven... yukk”
Mama kemudian turun dari atas tubuhku. Dia langsung menungging di depanku memerkan belahan vaginanya yang berlendir itu. Libidoku semakin memuncak melihatnya, aku langsung menusukkan kembali batang penisku dan ku goyang dengan cepat.
“Ahhh... ahhhh... ahhh.. aduuhhh... mantaabbb.. ahh..ahh”
Mama mendesah dan sesekali menjerit kecil menerima tusukan penisku pada liang senggamanya. Baru kali ini aku melihat mama begitu binal, begitu seksi dan begitu mempesona daam satu waktu. Jepitan lobang kemaluannya juga masih terasa kuat. Tak nampak kalau vagina itu dulunya sudah dilalui dua orang bayi, yaitu aku dan kakakku.
“Ahhhhh... mama nyampeeee !!”
Crrrtt... crrrttt... crrtttt...
Mama orgasme lagi, ini orgasme mama untuk kedua kalinya, yang pertama datang sewaktu mama menggoyang pinggulnya di atasku tadi. Tubuh mama kulihat kembali bergetar dan menegang seakan melepaskan sesuatu dari dalam tubuhnya. Aku yakin mama sedang melepaskan beban nikmatnya.
“Yahhh.. mama ngecrit lagi.. kalah sama vendi dong..” ujarku menggodanya.
“Ahhh.. ahhh... iyah.. mama kalah.. punya kamu manteb banget tuh.. ahh..”
Aku terus menggenjot vagina mama dengan keperkasaan batang penisku. Kulakukan itu dengan tempo yang cepat, sampai kurasakan puncak kenikmatanku semakin mendekat.
“Ahhh.. mah... mama balik badan gih... telentang aja” pintaku.
“Ahh.. iya.. emm.. udah mau ngecrot ya Ven?”
“Iya nih... keluarin dimana nih mah?”
“Dalem aja.. biar tambah enak..”
Mama kemudian membalik badannya. Kini dia tiduran telentang menghadap aku yang menatapnya. Aku kembali menusukkan penisku setelah sebelumnya kuangkat kedua kakinya.
“Ahhh... enaakkkk...” jerit mama kala penisku kembali melesak masuk ke dalam celah memeknya.
Kali ini selain aku bisa menggenjot memeknya, aku juga bisa menikmati pagutan bibir mama. Tanganku juga tak berhenti meremas payudara mama dan memelintir kedua puting susunya. Dalam posisi ini aku bisa merasakan dekapan tubuh mama. Selain ada rasa nikmat, juga ada rasa nyaman yang timbul.
“Ughhhhhhhhhh.... “ lenguhku tertahan lumatan bibir mama saat kulepaskan semburan spermaku dalam rahimnya.
Crrrttt... crrtttt... crrttt...
Rasanya sungguh banyak sekali cairan yang keluar dari ujung kemaluanku. Sampai membuat tubuhku menggigil menahan rasa nikmat yang berlebihan saat itu. Mama yang merasakan semburan spermaku dalam vaginanya tiba-tiba mengangkat pinggulnya dan membuat penisku menusuk lebih dalam lagi.
“Aahhhhhh.... yesssss...!!” teriaknya. Rupanya mama ikutan orgasme lagi.
Dalam beberapa saat tubuh kami masih saling mendekap, dengan kedua kelamin kami masih menyatu. Aku tak mau cepat kehilangan momen bahagia ini. Mungkin lain kali aku tak bisa merasakannya lagi. Meski keringat deras mengucur dari tubuh kami tapi tak menghalangi rasa nyaman yang timbul dari persetubuhan dengan mamaku sendiri. Aku ingin terus menyatu dengan mama, tapi batang penisku yang mulai mengekerut akhirnya terlepas dari jepitan memek mama dengan sendirinya.
“Dea....!!” teriak mama sambil melihat ke arah pintu kamarnya. Memang dari awal kami tak menutup pintu itu.
“Kenapa mah?” aku ikutan kaget dibuatnya.
“Itu.. itu ada kakakmu..” balasnya panik.
“Lho kok kakak bisa keluar sih?”
“Iya Ven.. tadi mama gak menguncinya sih...”
“trus kak Dea kemana?”
“Ada itu.. yukk ahh.. kamu lepasin mama dulu dong.. badanmu berat tau gak!?”
Aku kemudian mengangkat tubuhku dari atas tubuh mama. Kini terlihat jelas tubuh kami berdua basah karena keringat. Tanpa aba-aba lagi mama langsung beranjak duduk lalu turun dari tempat tidur. Aku mengikutinya, rupanya mama mencari keberadaan kakak perempuanku. Moga saja dia tak sampai keluar rumah.
Dalam waktu singkat akhirnya kami menemukan kakak perempuanku itu berada di kursi ruang tamu. Dia duduk meringkuk di atas kursi sofa sambil kedua tangannya menutup telinganya. Aku yakin kak Dea pasti merasa kecewa melihat kelakuanku dan mama tadi. Siapa sih yang gak bakal kecewa dan marah kalau melihat saudara laki-lakinya sedang ngentotin mamanya sendiri? orang waras pun akan merasakan hal yang sama dengan kak Dea.
Aku dan mama yang masih telanjang bulat mulai mendekati kak Dea yang saat itu tengah telanjang juga. Memang kakakku sekarang terbiasa tak memakai apa-apa. Meski mama tahu akan hal itu tapi dia juga diam saja. Mungkin mama juga sudah capek berusaha mengatur kak Dea.
Suasananya jadi tambah aneh sekarang. Kami bertiga kini berada di ruang tamu dengan kondisi telanjang bulat semuanya. Aku tak pernah menyangka kalau hal ini bisa terjadi, bahkan membayangkannya pun tak mau. Tapi inilah kenyataan saat ini. Aku dan mama selepas berhubungan badan berusaha menenangkan kakak perempuanku yang mengalami gangguan jiwa itu.
“Dea sayang.. dengerin mama dulu..” ucap mama yang mulai memeluk dengan hangat tubuh bugil kak Dea.
“Kamu jangan marah yah.. yang mama dan adek kamu lakuin tadi adalah wujud kasih sayang keluarga... tak lebih” mama mulai memberi sugestinya.
“Iya kak.. kami selalu sayang kakak.. apapun yang terjadi di rumah ini pokoknya kami tetap sayang kakak” imbuhku sambil ikutan memeluk tubuh kak Dea.
Beberapa kalimat dari kami rupanya mampu meluluhkan kemarahan kak Dea. Kedua tangannya yang menutupi telinga kini dia turunkan. Nampaklah sekarang kalau kakak perempuanku itu meneteskan air mata. Aku jadi semakin merasa bersalah padanya. Selain karena aku pernah menyetubuhinya, juga sekarang membuatnya kecewa dengan memergoki aku sedang menyenggamai mama.
“Yaudah... yukk kita kembali ke kamar..” ajak mama pada kak Dea. Mereka kemudian berjalan menuju ke kamar kakak perempuanku itu.
“Mah... basah nih kursinya” kulihat lelehan cairan spermaku yang keluar dari celah vaginan mama membasahi kursi.
“Lahh.. jangan diem aja dong sayang.. ambil tissu.. bersihin..”
“Eh.. iya mah.. siapp”

0 Komentar