SEBUAH SISI LAIN PART 3

 


Semenjak perkenalanku dengan gadis cantik bernama Fauzia itu rasanya komunikasi kami semakin lancar. Meski hanya lewat chat saja tapi hal yang kami bicarakan sudah semakin dalam, bahkan beberapa kali kami terlibat obrolan masalah pribadi. Meski begitu aku hanya menganggapnya teman, tak lebih dari itu. Perbedaan umurnya yang lebih tua dua tahun dariku membuatku seperti sedang berhadapan dengan kakakku. Hingga tak ada pikiran untuk menembaknya jadi pacarku.




Sore itu, setelah aku bangun tidur dan membalas chat dari Zia, aku kemudian pergi keluar kamar. Jam sudah pukul 4 sore, sudah waktunya mandi dan membuat acara dengan teman-temanku malam ini mau nongkrong dimana. Begitu aku keluar dari dalam kamar, tiba-tiba saja kutemui kakak perempuanku tengah duduk di depan kamar mandi. Memang ada sebuah kursi kayu yang disiapkan untuk memandikan kakak perempuanku itu oleh mamaku.




Sebenarnya kejadian itu sudah sering kulihat. Saat kak Dea tengah duduk terdiam sebelum dia mandi bersama mama. Namun kali ini beda banget. Kak Dea sedang duduk di kursi itu dalam kondisi telanjang bulat. Aku yang melihatnya langsung penasaran pada apa yang terjadi sebelumnya.




“Mah... mamah....” teriakku mencari mama.




“Ada apa sih Ven?” balasnya muncul dari dalam kamar sudah memakai baju seragam kerjanya.




“Itu.. kok kakak dibiarin gak pake apa-apa? Kayak orang gila aja..” ucapku.




“Lah, memang kakak kamu itu gila...”




“Mamah !!” balasku agak teriak. Aku seakan tak terima saat mamaku mengatakan kalimat ‘Gila’ itu.




“Kenapa? emang kakak kamu gila kan!?” ujar mama lagi dengan penekanan kata ‘Gila’ lagi. Aku tak mau terpancing jadi ikutan emosi, kuredakan amarahku dengan mendekati kakakku.




“kak.. kak Dea.. ayo mandi sama adek aja..” ucapku lalu menuntun kakakku masuk ke dalam kamar mandi.




“Kamu urus kakakmu aja dulu Ven.. bisanya bikin repot aja....mama mau kerja...” ucap mama dari depan pintu kamar mandi. Kurasakan ada nada jengkel dan kebosanan dalam kata-kata dari mama.




“Serah mama aja lahh...“ balasku cuek.




Setelah itu mama berangkat kerja. Aku yang masih jengah dengan perkataan mama tak menyahut saat dia pamit pergi kerja. Akupun lalu memfokuskan diriku untuk membersihkan tubuh kakak perempuanku.




“Udah kak... ga usah dipikirin tuh kata-kata mama..” ujarku sambil mulai menyiram badan kak Dea dengan air hangat. Dia masih diam saja tanpa bereaksi.




“Adek janji bakalan rawat kakak sampai kapanpun.. adek ga bakal ninggalin kakak” ucapku lagi.




Bagai tersiram embun pagi yang sejuk. Tiba-tiba kak Dea menoleh ke arahku lalu tersenyum manis. Senyuman mahal yang selama ini hilang tertelan pahitnya derita yang harus diterimanya. Aku balas tersenyum juga sambil mengucap syukur dalam hatiku. Semoga kejiwaan kakak perempuanku itu lekas membaik.




Tubuh kami berdua sudah sama-sama basah. Bedanya aku masih memakai celana pendek sedangkan kakak perempuanku sudah telanjang bulat. Memang secara kejiwaan kakakku itu mengalami gangguan, tapi secara jasmani kakak perempuanku itu tubuhnya masih mempesona. Tak ayal aku jadi semakin horni saat menatap tubuh bugilnya itu lama-lama. Ditambah lagi dengan usapan tanganku pada buah dadanya yang bulat membusung itu semakin memancing libidoku naik.




“Kak.. udah yah... adek keringin ya badannya” ucapku mengajaknya selesai mandi. Tiba-tiba kak Dea kembali menoleh padaku lalu menggelengkan kepalanya.




“Udah dong kak.. ntar dingin loh..” tambahku. Dia masih menggelengkan kepalanya sekali lagi.




“Hemm.. kalo gitu adek boleh yah ikutan mandi?” tanyaku. Sebenarnya aku bingung juga kenapa aku bisa bertanya seperti ini. Padahal sedari tadi penisku sudah tegang di balik celanaku.




Aku berusaha cuek saja saat kulepaskan celana pendek beserta celana dalam dari pinggangku. Seketika itu batang penisku yang keluar dari sangkarnya langsung tegak mengacung di udara bebas. Kakak perempuanku yang menatap lurus ke depan tak menghiraukan adiknya yang sudah sama-sama telanjang dengannya membuatku semakin merasa biasa. Apa yang bisa diharap dari perempuan yang tengah depresi dan terganggu jiwanya? Mana mungkin dia juga horni mandi berdua bareng denganku.




Dalam kondisi bugil berdua dengan kakakku seperti ini aku jadi membayangkan bagaimana reaksinya kalau dia masih normal seperti dulu. Mungkin dia akan teriak-teriak mengusirku dari dalam kamar mandi. Atau mungkin dia sudah malu duluan saat dia dibiarkan duduk telanjang di depan kamar mandi oleh mama tadi. Mengingatnya aku jadi senyum-senyum sendiri.




Setelah aku ikut telanjang bulat seperti kakak perempuanku, akupun kembali menggosok tubuh kak Dea dengan sabun. Padahal tadi sudah aku lakukan. Pikiran cabul kembali bangkit dalam otakku, sengaja aku gosok payudaranya yang bulat membusung itu dengan kedua telapak tanganku. Posisi kak Dea yang berdiri di depanku membuat batang penisku tepat berada depan celah pantatnya. Kupeluk tubuhnya dari belakang dengan lembut sambil kugesekkan ujung kelaminku pada belahan pantat montoknya itu.




Punggung kak Dea yang bersandar pada dadaku membuat tubuh kami berdua semakin lekat. Ujung penisku kini sudah berada pada celah selangkangannya. Pada titik ini mungkin kak Dea akan menamparku karena sudah berbuat kurang ajar, tapi itu dulu, sewaktu pikirannya belum terganggu. Kini dia hanya diam saja tanpa bisa berbuat apa-apa saat aku berusaha mencabuli dirinya.




“Ugh.. kak.. enak kan?” bisikku setengah mendesah karena jujur saja aku merasa keenakan.




Kak Dea hanya bisa diam membisu saat tanganku yang penuh busa sabun itu menyusuri kedua buah dadanya lalu turun ke daerah perutnya. Meski kakak perempuanku itu hanya diam saja di kamar tapi perutnya masih tetap rata dan pinggulnya ramping. Semakin kubelai semakin horni aku dibuatnya. Tak terasa tanganku semakin turun sampai akhirnya menyentuh permukaan vaginanya. Rasanya agak kasar karena bulu kemaluannya tumbuh dengan subur dan hampir menutupi permukaan kewanitaannya.




“Emm.. kakk.. bantu adek dikit yah!?” ucapku kemudian menyusupkan penisku pada celah diantara kedua pahanya.




Tanpa basa-basi lagi aku mulai menggerakkan pinggulku maju mundur seirama dengan gesekan penisku pada permukaan vaginanya. Sungguh cabulnya aku ini. Tega banget mungkin, memanfaatkan kakak perempuanku yang tengah mengalami gangguan jiwa untuk memuaskan nafsuku. Aku tak peduli.




“Aaah... enak banget kaaakk.. mantaabb...” ucapku lirih sambil terus menggesekkan penisku pada celag diantara kedua pahanya. Rasanya memang enak banget, lebih nikmat daripada coli pokoknya.




Kak Dea yang kuperlakukaan seperti itu hanya diam saja. Semakin lama bukannya dia semakin terganggu malah dia seperti mempersilahkan aku untuk menggunakan tubuhnya untuk mencari kenikmatan. Aneh memang. Kini kepalanya dia sandarkan pada pundakku sebelah kiri. Aku sudah tak peduli lagi pada kondisi kakakku, bahkan badannya yang terlonjak-lonjak karena tumbukan dengan pinggulku malah membuatku semakin horni.




“Ahhh.. bentar ya kaak... ahhh.. mau keluar nihh... aaaahhh” desahku.




Crottt... Crottt... Crottt... Crottt...




Akhirnya spermaku muncrat banyak sekali di celah selangkangan kakak perempuanku. Rasanya puas banget. Meski hanya sekedar menggesekkan penisku pada permukaan vaginanya namun rasanya seperti aku telah menyetubuhinya. Ada perasaan malu dan takut yang timbul setelahnya. Takutnya kak Dea akan melapor pada mama. Tapi kalau dilihat kondisi kakakku saat ini, itu adalah hal yang tak mungkin terjadi.




“Aaahhhhhh... huhhhhhhh... udah kak.. makasih yah..” ucapku lalu mencium pipi kanan kak Dea yang masih menyandarkan kepalanya di pundakku.




Sebenarnya aku masih penasaran ingin berbuat lebih jauh. Ada perasaan tak puas hanya bisa gesek-gesek saja tanpa ada penetrasi yang terjadi. Apalagi kakak perempuanku yang hanya diam saja membuatku semakin berani berpikir untuk melakukan sesuatu yang lebih cabul dari yang kulakukan ini. Namun begitu aku tak ingin terlalu tergesa-gesa. Lebih baik aku amati dulu apa yang akan terjadi setelah kulakukan hal cabul tadi pada kakakku.




Beberapa lama kemudian kami kemabali mandi di bawah guyuran shower. Aku tak ingin lagi berbuat lebih jauh. Kali ini benar-benar kubersihkan tubuh kakakku dengan baik dan benar. Begitu pula tubuhku kubersihkan juga dari lelehan sperma yang masih saja keluar dari ujung penisku. Setelahnya kami berdua keluar dari kamar mandi seperti biasa dan kemudian berpakaian seperti biasa pula.




***




Malam harinya setelah aku mengerjai kakak perempuanku tadi semuanya berjalan seperti biasa. Setelah memastikan kak Dea tidur, akupun menyusul tidur di kamarku setelah sebelumnya berbalas chat dengan Zia. Iya memang kami semakin hari semakin akrab, bahkan kami sekarang sering membahas kondisi keluarga kami. Dia juga sudah tahu kalau aku memiliki kakak perempuan yang tengah mengalami depresi karena dikhianati calon suaminya tepat beberapa hari sebelum hari pernikahannya.




Zia juga banyak memberi saran padaku untuk perawatan kakakku. Meski dia itu mahasiswa farmasi tapi tahu banyak tentang penyakit gangguan jiwa. Aku bahkan sering diberinya tips untuk sekadar memberi terapi ringan pada kak Dea. Itulah kenapa semakin hari kondisi kak Dea semakin baik, meskipun masih jauh dari kata sembuh.




Sekitar jam 3 pagi aku terbangun dari tidurku. Rasanya tenggorokanku kering dan menahan rasa ingin kencing. Meski malas banget mau bangun tapi aku paksakan saja daripada ngompol. Kan gak lucu kalau aku yang 20 tahun ini ngompol di atas tempat tidurku.




Dengan langkah cepat aku segera menuju kamar mandi lalu menuntasakan hajatku buang air kecil dengan sempurna. Setelah keluar dari kamar mandi aku menangkap sesosok tubuh tengah tertidur di atas kursi sofa ruang tamu. Aku yakin itu bukan kak Dea. Pelan-pelan kudekati siapa yang tengah tidur di ruang tamu rumahku.




“Lhoh?? Kok mama tidur di sini??” gumamku pelan.




Aku merasa heran melihat mamaku tengah tidur dengan lelapnya di kursi sofa ruang tamu. Lebih mengherankan lagi saat itu mama memakai gaun terusan warna hitam dengan hiasan manik-manik yang berwarna-warni. Bukannya tadi dia keluar rumah pergi kerja? Kok sekarang jadi dia pakai gaun seksi seperti itu ya. Aku tak bisa berpikir kemungkinan apa yang bisa terjadi.




“Maahh... mamah.... pindah ke dalam yukk..” ajakku sambil menggoyang tubuhnya.




Mungkin karena terganggu dengan sentuhan tanganku, mama akhirnya menggeliat dan merubah posisi tidurnya dari tengkurap manjadi telentang. Di saat seperti itu aku mendapat kejutan tambahan lagi. Bau alkohol langsung menyeruak dari nafas mamaku dan tercium hidungku dengan kuat. Baru kali itu aku mendapati mama pulang dengan bau minuman keras di tubuhnya.




“Maahhh.... mamahhh...” kembali aku goyang tubuh mamaku supaya bangun, namun dia masih terus tidur dengan lelap. Mungkin saja dia benar-benar mabuk.




Dalam keremangan ruang tamu mataku mendadak menyadari sebuah pemandangan tak lazim. Gaun yang dipakai mama bagian atas sedikit melorot di bagian dadanya karena posisi tidurnya. Bukan itu saja, gaun yang di bagian pundak hanya berupa tali itu melorot sampai membuat payudara montok milik mama sebelah kiri terpampang jelas di depanku. Aku langsung menyadari kalau mama malam itu tak memakai Bh.




Sebentar kemudian mama ikut menggerakkan kakinya hingga lutut sebelah kirinya menekuk ke atas. Posisinya itu membuatku mendadak bisa melihat permukaan vagina mama. Bersih tanpa bulu, itulah keadaan permukaan kewanitaan mama yang bisa kulihat dengan jelas saat itu. Aku jadi semakin penasaran dan bertanya-tanya, apa yang sudah dilakukan mama di luaran sana hanya memakai gaun seperti itu tanpa dilapisi dengan dalaman apapun. Akhirnya pagi itu kutinggalkan saja mamaku tertidur dengan lelap di ruang tamu. Aku balik ke kamar dengan segudang pertanyaan di kepalaku.




Pukul 7 pagi, aku menerima chat dari Fauzia katanya dia mau ke rumahku. Aku mendadak panik karena baru kali ini dia ke sini. Apalagi di chat yang dikirimkan padaku dia bilang sudah dekat dengan rumahku. Memang dia belum pernah ke rumahku tapi alamatanya dia sudah tahu, bahkan aku sudah pernah foto di depan rumahku dan kukirimkan padanya. Langsung saja aku loncat dari tempat tidurku lalu berlari menuju ke ruang tamu. Seingatku tadi mama masih tidur lelap di kursi sofa ruang tamu.




Benar saja dugaanku. Kulihat mama masih tergeletak di atas kursi sofa ruang tamu masih lelap dalam tidurnya. Kondisi mama semakin acak-acakan. Gaun terusan yang dipakainya kini sudah tersingkap sampai sebatas pinggang. Meski pemandangan pangkal paha mama yang tak memakai celana dalam itu tersaji di depanku tapi kepanikan karena Fauzia yang mau datang ke rumah membuatku tak mempedulikannya. Dengan tergesa-gesa aku langsung mengangkat mama dan membawanya masuk ke dalam kamar.




Setelah di dalam kamar, aku letakkan tubuh mama dengan hati-hati supaya dia tidak terbangun. Sebelum keluar aku sempat menyelimuti badan mama, namun mama malah menolaknya dan melempar selimut itu sampai jatuh di atas lantai. Sepertinya memang mama merasa gerah, apalagi pagi ini matahari sudah bersinar dengan terik.




“Mahh.. dipakai dong mah.. ada temen Vendi mau datang nih” ucapku saat kembali berusaha menyelimuti tubuh mama lagi.




“Heehhh... eemmm... gaakk... panas banget.. ahh...” balasnya masih dengan mata terpejam. Kembali mama melempar selimut itu ke samping. Bukan cuma itu saja, mama lalu melepas gaun terusan yang dipakainya. Secepat kilat mama langsung polos di depanku. Dia lalu kembali tidur tanpa mempedulikan tubuhnya yang bugil itu terlihat oleh orang lain. Kebetulan orang lain itu adalah anak laki-lakinya sendiri.




Aku memang sudah sering melihat tubuh bugil mama, tapi itu dulu, saat aku masih sekolah TK. Kami sering mandi bareng dengan alasan dapat menyingkat waktu dan tak merepotkan. Kalau sekarang aku melihat tubuh polos mama mungkin sudah lain, ada nafsu kelelakianku yang mulai bicara.




“Serah mama dah... “ gumamku lali pergi keluar dari dalam kamarnya.




Aku kembali ke kamarku untuk memakai kaos, karena dari tadi aku hanya memakai celana pendek saja. Beberapa menit kemudian pagar depan di ketuk. Aku yakin itu Fauzia yang datang dan langsung lari ke depan untuk membuka pagar.




“Vendiii.... Veennn....!!” teriak Zia dari depan.




“Iya sebentar.... tunggu..!!” balasku.




Buru-buru aku ke depan sampai tak sadar kaos yang kupakai masih belum sempurna menutup bagian perutku.




“Kamu baru bangun tidur yah?”




“eh, enggak.. udah dari tadi kok...” balasku.




“Boong kamu.. bajumu aja masih acak-acakan gitu kok” ucapnya lagi.




“Hehe.. iya.. baru keluar dari kamar.. masuk yuk...”




Fauzia membuntutiku dari belakang. kuliihat sekilas Zia pagi itu memakai jilbab biru langit, kaos lengan panjang warna abu-abu dan celana training warna hitam. Sepertinya dia baru olah raga atau jogging pagi.




“Mau minum apa nih Zia? Yang dinging atau yang hangat?” tanyaku setelah dia duduk di kursi ruang tamu.




“Engga usah, aku baru aja serapan kok...” balasnya sambil tersenyum cantik seperti biasanya.




“Iya deh... tumben pagi-pagi udah keluar?”




“Hemm.. tadi baru aja jalan-jalan sama temen, kebetulan rumahnya deket sini, jadi aku sekalian ke rumah kamu”




“Ohh...” balasku enteng.




Sesaat lamanya kami sama-sama diam. Zia sibuk men-scroll layar Hpnya sedangkan aku sibuk menikmati wajahnya yang cantik itu. kalau saja dia tak lebih tua dariku pasti sudah aku tembak dia jadi pacarku.




“Ven.. ada cewe cantik kok malah ngelamun sih?” tanya Zia tiba-tiba.




“Eh, anu.. em... hehe.. gapapa kok..” balasku gelagapan.




“Kenapa? baru lihat cewe secantik aku yah? Hihi...”




“Ah kamu bisa aja Zia.. hehe.. emang cantik banget sih” kataku jujur.




“Gombaallll....” balasnya memeletkan lidah.




“Lah, beneran.. gak boong deh kalo masalah ini”




Kami kembali terdiam sebentar. Aku kembali mengalihkan pandanganku darinya, sedangkan dia masih membalas chat yang masuk ke Hpnya.




“Hemhhh... gerah... “ ucapnya sambil melepas jilbab biru langit yang sedari tadi menutupi kepala dan rambutnya.




“Bikin nyaman aja yah Zia... maap di rumahku ga ada ac” ujarku.




Melihat rambut panjang Zia yang tergerai kembali membuat aku terpesona dengan kecantikan gadis cantik itu. mataku memperhatikannya hampir tak berkedip. Tiba-tiba dari kamar kak Dea aku dikejutkan dengan suara benturan dari pintu kamarnya.




“Eh, apaan tuh Ven?” tanya Zia yang mungkin saja kaget.




“Emm.. anu itu.. kakakku” balasku.




“Ohh.. kak Dea yah..” ujarnya kemudian berdiri dan melangkah menuju pintu kamar kakak perempuanku.




“Eh.. mau ngapain sih kamu?” tanyaku yang gagap pada situasi yang terjadi.




“Boleh kan aku melihat kakak kamu?”




“Emm.. boleh.. boleh..”




Zia kemudian meneruskan langkahnya menuju kamar kak Dea. Setelah sampai di depan pintu dia kemudian memutar gagang pintu dan membukanya.




“Ehhhhh.. !!” teriak Zia karena terkejut menyadari kak Dea sedang berdiri di balik pintu.




“Ada apa sih??” tanyaku sambil berlari menuju ke arah mereka.




“Enggak apa-apa.. aku kaget aja kakak kamu udah di depan pintu” ujar gadis cantik itu yang sekarang terlihat kembali tenang.




“Kak.. ini temenku Zia.. kakak mau mandi yah?” kataku pada kak Dea.




“Loh, memang kakak kamu bisa mandi sendiri Ven?” tanya Zia menoleh padaku.




“Emm.. anu.. enggak.. itu.... biasanya aku yang mandiin kakak” balasku agak malu juga ketahuan aku sering mandi bareng kakakku.




“Ohhh... gitu.. yaudah deh, pagi ini biar aku aja yang mandi bareng kakak kamu... gimana boleh kan?” tawarnya.




“I-iya.. bo-boleh aja Zia..” balasku agak kikuk pada tawarannya tadi. Aku takut kalau kak Dea gak terbiasa dengan orang lain, bisa-bisa dia marah dan teriak histeris.




Setelahnya Zia menuntun kak Dea menuju kamar mandi. Kulihat gerakan tangan dan perlakuannya pada kakak perempuanku sungguh lembut. Seakan Zia sudah sangat ahli sekali melakukannya. Bahkan kak Dea sama sekali tak menolak, sepertinya dia memang cocok banget dengan Zia ini.




Beberapa saat lamanya kutinggalkan kak Dea dan Zia berada di dalam kamar mandi. Entah kenapa suasananya jadi hening, aneh saja sih bagiku. Segera kutinggalkan mereka munuju dapur untuk membuat kopi dan teh untuk Zia. Juga menyiapkan makanan untuk sarapan kakak perempuanku. Tak berapa lama kemudian terdengar suara Zia memanggilku.




“Vennn.... Vendii... Venn..” teriaknya. Aku langsung menuju depan kamar mandi, khawatir kalau kak Dea bakalan memberontak tak mau dimandikan oleh orang asing.




“Ada apa sih Zia?”




“Tolong pegangin bajuku dong.. taruh situ aja biar gak basah” balas Zia yang kepalanya melongok keluar dari balik pintu kamar mandi. Dari yang terlihat aku yakin dia sudah telanjang bulat dibalik pintu itu.




“Eh??” aku langsung kaget karena Zia memberiku bajunya lengkap beserta celana dalam dan bra yang dipakainya.




“Taruh situ aja.. biar aku gampang ambilnya” tambahnya.




“Ehh... iya deh.. aku taruh sini” kuambil sebuah kursi lalu kutaruh bajunya di atas kursi itu.




“Makasih” kemudian Zia menutup pintu kamar mandi.




Sejenak kuperhatikan baju dan dalaman milik gadis cantik bernama lengkap Fuzia Aura Rahmawati itu. Entah kenapa onggokan pakaian itu menarik perhatianku. Aku jadi teringat cerita-cerita yang aku baca, katanya dalaman milik cewek cantik baunya pasti enak. Tanpa ragu kuambil celana dalam putih itu lalu kudekatkan pada indera penciumanku lalu kuhirup aromanya.




“Hemmmmmm...” gumamku kala itu.




Menarik, meski baunya tak seharum dugaanku tapi anehnya bisa membuat aku jadi horni. Ada sedikit bau masam di celana dalam itu, tapi selebihnya baunya wangi. Bukan bau sabun atau bau parfum, pokoknya wangi dan semakin lama kuhirup libidoku jadi naik. Tiba-tiba jadi aneh saja aku ini.




Semakin lama kuhirup bau di celana dalam itu semakin membuatku nyaman. Bau celana dalamnya aja wangi, apalagi bau memeknya yah? Hehe. Tiba-tiba suara desis air mendidih mengembalikan kesadaran dari proses lamunanku. Aku langsung menaruh kembali celana dalam itu di atas tumpukan pakaian Zia lalu berlari menuju dapur.




Sekitar dua puluh menit kemudian mereka berdua keluar dari kamar mandi. Kak Dea dengan tubuh yang terbelit handuk, sedangkan Zia sudah berpakaian lengkap.




“Ven.. ini baju kakak kamu mana?” tanya Zia begitu melihat aku mendekatinya.




“Itu di dalam kamar, udah aku siapin kok” balasku.




Kemudian Zia menuntun kak Dea masuk ke dalam kamar. Sejenak mereka berdua di dalam kamar kak Dea, mungkin sekarang Zia sedang memakaikan baju kakakku. Aku menunggu di ruang tamu sambil menikmati kopi pertamaku di pagi itu.




“Udah yah Ven.. ntar jangan lupa suapin kakakmu yah..” ucap Zia setelah kembali dari kamar kak Dea lalu duduk di sebelahku.




“Iya, udah aku siapin juga makanannya” balasku melihatnya. Meski tanpa make up tapi wajah Zia memang cantiknya alami. Aseli cantik bukan hasil editan.




“Uhh.. aku jadi cemburu sama kakak kamu...”




“Maksudnya?” tanyaku mendadak.




“Iya, aku cemburu aja.. seorang kakak dapat perhatian lebih dari adeknya..” ucapnya serius.




“Lhoh.. ya kan kakakku sedang sakit Zia, emang kamu ga punya adek?”




“Ehh.. berapa kalau aku ceritain, kan aku cuma punya kakak satu aja, itu juga udah nikah trus ikut suaminya” balasnya. Memang dia dulu pernah cerita kalau dia hanya dua bersaudara, kakaknya perempuan dan sudah punya keluarga sendiri.




“Hemm... iya yah.. aku yang lupa, kalo gitu anggep aja aku adiknya kamu, hehe...” ujarku asal.




“Gak lah... daripada jadi adek mendingan jadi...”




“Jadi apa hayo?? Jadi pacar? Mau?” berondongku dengan pertanyaan menohok.




“Halahhh.. ngarep banget kamu tuh... udah ge-er kamunya” balasnya sok jual mahal, tapi aku yakin dibalik tatapan matanya ada sebuah persetujuan pada pertanyaanku tadi.




“Hehe.. siapa tau mau...”




“Udah ah... aku pulang aja dulu, mau ada acara sama temen nih”




“Iya deh.. eh, kamu mau dianterin?” ucapku.




“Ga usah.. aku udah pesen ojek online nih...”




“Oke deh..”




Zia setelah memakai kembali jilbabnya langsung beranjak pergi dari ruang tamu rumahku. Dia lalu menuju ke depan rumah dengan aku ikuti di belakangnya. Beberapa menit kemudian jemputannya datang dan dia langsung pergi dari hadapanku.




Sepulangnya Zia dari rumahku, aku kemudian balik masuk ke dalam rumah. Aku langsung menuju dapur dan mengambil makanan untuk kakak perempuanku. Begitu aku masuk ke dalam kamar kak Dea, aku terkejut bukan main. Kulihat kakak perempuanku tengah duduk bersila di atas kasurnya masih dalam kondisi telanjang bulat. Pakaian yang kusiapkan tadi ternyata masih menumpuk rapi di dekat pintu. Sial tuh Zia, dia kerjain aku nih.




“Kak.. ayo kak dipakai dulu bajunya” ujarku sambil mulai mengambil celana dalam milik kakak perempuanku itu. Kakakku tak bereaksi, namun dia menepis tanganku yang mendekatinya.




“Ayo dong kak.. ntar mama marah tuh... bantu Vendi dong kak” ucapku memelas.




Lagi-lagi aku mendapat penolakan dari kakak perempuanku. Dia hanya duduk diam bersila di atas kasurnya dengan mentapku. Aku yang mendapat reaksi seperti itu hanya bisa kelimpungan tak tahu apa yang harus aku perbuat. Sebenarnya menyiksa banget saat melihat tubuh telanjang kakak perempuanku itu. Aku jadi semakin sadar kalau dia memang benar-benar gila.




“Yaudah deh... adek suapin aja yah.. ayo makan kak” ucapku menyerah pada kemauannya. Kali ini dia tak menolak lagi. Suapan demi suapan nasi beserta lauknya masuk ke dalam mulutnya.




Sebenarnya selain rasa prihatin melihat kondisi kakak perempuanku yang kurang waras itu, ternyata timbul juga nafsuku pada tubuhnya. Mau tak mau meski kakak perempuanku tengah terganggu mentalnya tapi tubuhnya masih mempesona dan wajahnya masih cantik. Siapa sih yang gak bakalan tergoda kalau terus-terusan disuguhi payudara bulat membusung tanpa penutup apa-apa? Semakin kulihat semakin menarik pula pemandangan itu. Ukuran payudara kak Dea yang lumayan besar, dengan puting susu yang mungil berwarna merah muda pasti akan menggoda bagi pria manapun yang melihatnya. Aku yang juga laki-laki normal jadi ikut membayangkan bagaiamana rasanya saat puting mungil itu masuk dalam mulutku dan kuhisap dengan rakusnya. Ahh, pasti nikmat banget.




Sambil aku menyuapi makanan pada mulut kak Dea, tak henti-hentinya mataku melahap pemandangan tubuh bugil nan seksi kakak perempuanku itu. Tiba-tiba saja mataku menangkap sebuah kejanggalan pada area kelaminnya. Rambut kemaluan yang bisanya kulihat rimbun menutup celah kemaluannya kini hilang seluruhnya. Aku yakin Zia yang mencukurnya, siapa lagi tersangkanya. Tapi entah kenapa kondisi permuakaan kemaluan kak Dea yang mulus tanpa bulu itu semakin menarik perhatianku. Ugh, ingin rasanya aku bisa mengelusnya.




Beberapa lama kemudian kusadari makanan di dalam piring yang kubawa telah habis. Namun begitu mataku masih ingin berlama-lama menikmati pemandangan tubuh bugil seorang cewek di depanku itu, meski cewek itu tak lain adalah kakak perempuanku yang sedang sakit jiwa. Ahh, harus kusudahi kelakuanku ini. Lama-lama aku bisa ikutan gila juga nih.




“yaudah kak... aku mandi duluan yah.. udah siang ini” ucapku pada kak Dea yang kini kembali berbaring malas di atas kasurnya.




Aku tak ambil pusing lagi pada kondisi kakak perempuanku yang masih tanpa busana itu. Aku biarkan saja dia begitu, tapi aku kunci pintu kamarnya untuk meyakinkan dia tak bisa pergi kemana-mana. Setelah menaruh piring kotor dan gelas bekas dipakai kak Dea, aku segera mengambil handuk dan pergi ke dalam kamar mandi. Dengan santai aku menaruh handuk itu pada gantungan baju di dalam kamar mandi. Mendadak aku kaget pada sesuatu yang ada di gantungan baju itu. Kutemukan sebuah celana dalam dan Bra warna putih, dari bentuk dan warnanya aku pernah melihatnya.




“Lhah.. bukannya ini punya Zia? Berarti dia pulang tadi gak pake daleman apa-apa dong!?” gumamku saat itu.

Posting Komentar

0 Komentar