Masa-masa indah kelas 2 STM sudah terlewati, banyak kenangan yang sudah tersimpan rapi di memoriku. Kenangan indah bersama temen-temen geng SSL yang tidak pernah bisa aku lupakan. Aku sekarang sudah kelas 3 STM artinya aku sudah di katakan dewasa soal sex. Mungkin saatnya aku mulai berburu MILF-MILF yang semlohay. Eits tapi aku sadar aku ini siapa, hanya seorang pembantu yang baru beranjak dewasa.
Main game sudah aku kurangi guna mempersiapkan diri untuk ujian kelulusan tapi untuk main sama temen masih sering. Dan aku juga sekarang sudah jarang berkominkasi dengan Ine. Waktu mau kenaikan kelas 2 ke kelas 3 kemarin Ine sempet cerita kalau dia dideketi kakak tingkat anak kedokteran dan Ine bilang juga dari awal sudah naksir sama dia. Dan sebulan kemudian watu aku lagi masa liburan kenaikan kelas, Ine bercerita kalau kakak tingkat itu menembaknya dan langsung di terima Ine, aku Cuma mendukung dan berdoa semoga Ine gak salah pilih seperti dahulu dan awet sampai ke jenjang pernikahan. Awalnya aku sempet cemburu tapi aku sadar akhirnya mengikhlaskan Ine bersanding dengan cowok lain.
Semenjak itu Ine sudah jarang komunikasi denganku mungkin seminggu hanya sekali itupun chat basa basi aja, obrolan melalui telpon pun sudah tidak pernah lagi. aku pun juga gak mau menganggu pacarannya Ine dan kesenengan Ine di sana.
Aku sendiri pun juga masih belum mau mendekati wanita aku berpikir mending kerja dulu dapat uang baru memikirkan atau mencari pendamping hidup. Kalau sekarang aku masih belum punya keinginan untuk mencari wanita untuk dijadikan pacar. Meskipun temen-temenku banyak yang sudah punya pacar masing-masing tetapi aku tidak ada sedikitpun ounya keinginan mencari pacar. Bukan aku tidak normal (aku masih sering ngaceng atau berdiri ketika melihat cewek sexy) tetapi aku masih memandang diriku belum layak untuk punya pacar.
Aku ingin fokus ke kelulusan STM dan sekarang aku rajin belajar. Kehidupanku di kota tinggal beberapa bulan lagi, apalagi sekarang sudah memasuki semester 2 artinya 6 bulan lagi aku harus keluar dari sekolah ini mungkin juga keluar dari kota ini karena aku harus kembali ke desa.
Membicarakan soal desa. Awal-awal kakekku memang sering ke kota untuk menjenguk aku tapi semenjak kelas 2 aku yang ke desa, sebulan sekali aku ke sana. Aku bersyukur meskipun kakek tinggal sendiri tapi dia masih sehat dan bugar karena dia masih sering olahraga silat untuk menjaga kebugaran itu.
Kalau pulang ke desa pasti gak lepas dari petuah-petuah kakek. Sebenernya bosan tapi aku tahu petuah kakek akan sangat berguna di kehidupanku mendatang. Akupun hanya mendengarkan dan mencerna apa yang sudah di ajarkan kakek kepadaku. Aku juga sudah bilang ke kakek kalau selepas STM aku akan kembali ke desa untuk menmani beliau dan bekerja seadanya. Beliau hanya tersenyum dan bilang kalau ada kesempatan kerja di kota gak usah kembali ke desa dulu. Kamu kalau bisa mencari rejeki di kota karena kakek pengen hidupku gak susah lagi istilahnya memperbaiki nasib.
Waktu terus berjalan tidak ada yang menarik di ceritakan apalagi temen-temen mesum seperti John, Nanksbry, Eko dan lain-lain sudah kuliah ke luar kota jadi pengaruhnya tidak lagi terasa. Pada akhirnya ujian akhir pun di mulai dan semua mata pelajaran aku lahap habis.
Setelah ujian maka libur pun dimulai. Banyak temen-temenku yang berencana mau kuliah tetapi ada juga temenku yang mau mencari pekerjaan karena mahalnya biaya pendidikan perguruan tinggi. Mereka mengadu nasib dan menjalani garis kehidupan masing – masing.
Setelah dinyatakan lulus kemarin sempat terbersit pikiranku untuk kembali ke desa hidup bersama Kakek sembari melamar pekerjaan di sana, dengan ijazah STM aku yakin akan mudah mencari pekerjaan disekitar desaku.
"Sebaiknya aku bicarakan dulu dengan Pak Karim” Batinku.
Pada saat malam hari setelah Pak Karim dan Bu Juleha selesai makan malam dilanjut mereka sedang menonton acara berita di televisi.
"Assalamualaikum , permisi Pak, Bu” sapaku.
"Waalaikumsalam “ jawab pak karim dan bu juleha serentak.
“ Sini duduk aja. Gimana ada apa kemari?” tanya pak karim.
“ Iya Pak, mohon maaf menganggu” jawabku sembari aku melangkah.
Akupun masuk ke ruang tengah dan duduk di sofa depan TV. Setelah duduk Pak Karim menyuruh Bu Juleha bikinkan kopi untuknya. Bu Juleha menawariku tapi karena gak etis dan gak sopan, aku pun segera menolaknya.
“ Ada yang mau Untung bicarakan Pak?” ucapku langsung to the point
“ Iya bicara soal apa ini? Bapak sambil nonton TV yah.. “ Ujar Pak Karim.
“ Gini pak, Untung kemarin sudah menyelesaikan ujian akhir nasonal, dan mulai besok Untung sudah libur. Untuk Untung sendiri bingung mau gimana setelah ini?” ujarku memulai percakapan.
“ Lha Untung sendiri bagaimana? Bapak pengen tahu rencana Untung...” jawab Pak Karim
“ Kalau untuk Untung sendiri kalau memang Untung sudah selesai disini Untung mau cari kerja di desa sambil menemani kakek di desa Pak” Jawabku
“ Untung gak ada pengen kuliah?” Tanya Pak Karim
“ Ya kepengen sebenernya Pak, cuman Untung mau biaya sendiri kalau mau kuliah. Tidak membebani Bapak lagi” jawabku.
“ Lha kenapa gitu? Bapak bisa dan mampu biayain kamu kuliah?” tanya Pak Karim
“ Iya pak cuman Untung ingin mandiri. Karena Untung sudah bisa bekerja dengan modal ijazah STM, kalau kemarin kan saya punyanya ijazah SMP jadi Untung akan kesulitan mencari kerja kalau sekarang mungkin gak sulit” Jawabku dengan percaya diri
“ Kata siapa gak sulit. Jaman sekarang ijazah SMA atau STM masih sulit lho mas” sanggah Bu juleha dengan membawa secangkir kopi buat pak karim.
“ Kita disini masih butuhkan kamu mas, kamu kalau pulang ke desa pasti ujung-ujungnya kerja di sawah dan atau kerja di kandang ayam atau sapi. Ya kan? Apa ada pabrik di sekitarmu? Gak ada kan” Pak Karim menjelaskan
“ Tetep disini aja ya.. Ibu sama Bapak kesepian lho. Tenang kamu sudah tidak bekerja menyapu, menyiram dan lain sebagainya. Ibu sama Bapak punya bisnis sendiri-sendiri lho. Kamu bisa ikut Bapak atau bisa juga ikut Ibu” Ujar Bu Juleha gantian menjelaskan.
“ Soal kerja Untung gimana pa? Enaknya di taruh dimana Untung ini? ” Tanya Bu Juleha kepada Pak Karim.
“ Iya ini papa mikir....” jawab Pak Karim sambil mengkerutkan dahi.
“ Sebentar. Mama kan lagi ekspansi toko ke luar kota tinggal mendealkan lahan. Apa mama gak sebaiknya cari supir,capek lho ma setiap hari luar kota terus dengan menyetir mobil sendiri. Dan mama juga gak mungkin sehari bisa mengahndle tiga toko artinya mama butuh wakil untuk menggantikan mama biar mama juga gak terlalu capek. Nah itu Untung jadikan mama supir sekaligus wakil mama untuk menghandel tiga toko itu” Ujar Pak Karim memberi saran
“ Iya ya pa, sebaiknya Untung aja jadi sopirku pa, tinggal setiap hari suruh ngajari mbah Man menyetir, dan untuk jadi wakil perlu training dulu pa, gak mudah lho menghandle tiga toko itu. Gak masalah sih nanti Mama akan training Untung” Jawab Bu Juleha
“ Oke setuju” ucap pak karim.
“ Jadi gini ntung, soal kerja kamu gak usah bingung dulu. Kamu disini aja ya jadi supirnya Ibu sekaligus wakilnya Ibu. Nah untuk masalah gaji Ibu profesional. Nah gaji itu kamu tabung untuk biayamu kuliah dan tabungan masa depanmu nanti. Gimana?” ujar Bu Juleha memberikan penawan yang menarik.
Aku pun berpikir sejenak, aku yang terbesit pikiran akan kata-kata kakek 'untuk cari kerja sebaiknya di kota dulu dan jangan kembali ke desa’ akhirnya aku menyetujui tawaran Pak Karim dan Bu Juleha.
“ Oke berarti mulai besok tiap jam 9 kamu belajar nyetir sama mbah man. Untuk urusan SIM biar kolega bapak dikepolisian yang ngurusi” kata Pak Karim
“ Baik Pak” Ujarku
“ Terus untuk mama segera di proses itu harga sewa tempatnya untuk sementara mama keluar kota sendiri kalau Untung sudah bisa baru sama Untung” Ujar Pak karim kepada Bu Juleha
“ Iya pa” jawab Bu Juleha
“ Ya sudah kalau gitu Untung mau balik kamar dulu Pak Bu, mau istirahat. Terima kasih banyak Bapak dan Ibu” Jawabku sambil berjabat tangan dan mencium tangan beliau berdua
“ Iya dikurangin main gamenya, masa depanmu masih panjang” Ujar Pak Karim
“ Baik pak” jawabku
Akupun pamit dan pergi ke kamar untuk mengistirahatkan badan tapi sebelum istirahat aku main game tapi hanya sekali permainan saja.. setelah itu aku terlelap. Zzzzzzzzz...
Antara sadar atau tidak aku merasakan geli dan hangat di batang kejantanaku,
Ssluurrruupppp ... !!
Slururruuppp ...... !!
Sluurruuuuppp .... !!
“Emhh.. eemmhhh..emmhhh” terdengar suara erangan yang berasalah dari arah batang kejantananku.
"Suara apa ini?” batinku. Mataku masih enggan untuk terbuka. Aku pun masih diem saja sambil meresapi dan mencoba berpikir.
Akhirnya setelah mendapat tenaga untuk membuka mata, aku melihat Ine sedang mem blow Job batang kejantananku.
Degh..!
"Sejak kapan dia di rumah ? bukankah dia sedang di luar kota ?"” batinku kebingungan.
“ Apa yang kamu lakukan mbak ? “ kataku kepada Ine dengan suara serak – serak basah.
“ Aku kangen kamu. Aku sudah lama kepengen ini” katanya sambil menunjuk batang kejantananku.
Sluruuuppp .... !!
Sluruuuppp ..... !!
Slurruupppp ... !!
“ Ini salah.. tidak seharusnya terjadi “ Batinku.
Dia terus mengocok batang kejantananku dengan mulutnya.. aku mau melarang tapi apa daya mulutku seperti terkunci.
Clok.. clokk.. clokkk.. clokkk..
Ine mmpercepat kocokan dengan mulutnyaaa.. terlihat banyak air liur ini menetes.
“ Langsung aja yah, setelah ciuman pertamamu sekarang giliran keperjakaanmu yang aku ambil sekarang” ucapnya.
Dia langsung berancang-ancang memasukkan batang kejantanannku ke liang senggamanya.
“ Aaaahhh besarrr baangeetttt Ntunggg. Sampai mentokkkk” Ucapnya menahan kenikmatan.
“ Ahhh mbakk,, enakkkk, hangat dan seeemmpittttt.. ” Ucapku sambil mendesah.
Slebbb.. sleebbb.. sleeebbb ...
Batang kejantananku keluar masuk dari liang senggamanyaa.. sekali – kali pantatnya bergoyang meremas batang kejantananku.
“ Aaahhh.. emmmhhh.. aaahhhhhh... emmmhhhh.. ahhh ” desahan Ine menggema di seluruh kamarku.
Aku hanya bisa pasrah sambil merem melek dan menahan aliran sperma agar tidak cepat keluar.. maklum perjaka ting – ting biasanya cepet keluar. Aku tidak mau mengecewakan Ine.
“ Enak Ntung? Aaaahhhh ... oohhhh” tanya Ine sambil mendesah.
“ Iya mbakk enakkk.. ahhhh.. ini pertama kalinya mbak setelah 18 tahun” jawabku dengan meracau akibat gelombang syahwat yang bertubi-tubi..
Plokkk .... plokkkk ... plokkkk ... plokkkk ...
Cloppp ... Cloppp ... Clopppp.. Clopppp ...
Ine mempercepat goyangan pantatnya naik turun di batang kejantananku.
“ Aahhh. Oohhhh ... aaahhhhh .. ohhhhhh.. aaahhhhh.. oohhhhh “ desahan Ine semakin keras
“ Mentokk ntungg penismuuu .. “ uapnya sambil menggigit bibirnya.
“ Aaahhh ... ohhhhh .... aaahhhh .... ohhhhh ... aaahhhhh.. oohhhhh” suara Ine mendesah tanpa bisa di tahan lagi.
Plokkk .. plokkkkk ... plokkkkk ... plokkkkk ...
“ Aku cepetin yahh. Aku mau keluarr ... aaaahhhhh ...“ ujar Ine.
“ Sama mbakkk.. aku juga mau keluarrr. Ohhhh .. “. Jawabku sambil mendesah. Terasa aliran spermaku sudah diujung kepala batangku.
Plokkk .. plokkkkk ... plokkkkk ... plokkkkk ...
Plokkk .. plokkkkk ... plokkkkk ... plokkkkk ...
Plokkk .. plokkkkk ... plokkkkk ... plokkkkk ...
“ Aaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhh “ desahan panjang Ine menandakan sedang orgasme
“ Aku keluarrrr nttuungggg. Aaahhhh ... ahhhhhh.. ohhhhhh “ jawabnya sambil badannya ambruk di dadaku.
“ akuu jugaaa mbakkkk oohhhhhhh” jawabku memeluk Ine dan mengangkat pantatku tinggi – tinggi.
Crootttt .... croooottt ... crootttttt ... crotttt.. croootttt
Setelah menembak sebanyak 5x sperma di liang senggamanya Ine, aku lemes dan mataku yang tadi bisa melek akhirnya meremm lagiii sambil memeluk Ine..
“enaknyaa.. hilang sudah keperjakaankuu..” batinku sambil menuju terlelap lagi.

0 Komentar