...........Belum juga aku menemukan tujuan ku setelah ini, tiba-tiba saja pandangan mataku tertuju pada sepasang muda-mudi di seberang jalan depan kampus, mereka dengan mesra bergandengan tangan sambil bercanda tawa, si lelaki nampaknya aku kurang begitu familiar meskipun beberapa kali melihatnya, disamping itu juga, jarak pandang juga sedikit jauh..
Namun si wanita..
Yaaa.. Wanita itu.. Sepertinya aku sangat-sangat mengenalnya..
Iyya.. Aku sangat kenal wajah itu, aku kenal tubuh itu, aku kenal baju itu..
Aku kenal semuanya.. Dan aku sangat yakin.. Wanita itu adalah SITI MAYSAROH
SITI MAYSAROH... Pacarku..................
******
"Apakah harus aku datangi mereka secara langsung saat ini juga? Kalaupun aku datangi kesana, apakah aku akan mendapatkan jawaban sesuai dengan apa yang selama ini menjadi beban pertanyaan? Apakah benar berita-berita yang selama ini aku dengar dari beberapa teman tentang Siti? Apakah benar Siti berpaling dariku? Apakah? Apakah? Apakah????"
"Aaaaaaaahhh, sial" rutukku sambil sedikit bergumam kala memperhatikan pemandangan tak lazim di seberang jalan seperti saat ini.
Pemandangan itu memang lain daripada yang lain, yang aku saksikan saat ini adalah sebuah pemandangan yang melebihi euforia pandangan seorang fans akan idolanya, yang aku saksikan di seberang jalan itu sekarang bukanlah pemandangan seorang Syahrini atau Ariel NOAH yg sedang jumpa fans!! Bukan semuanya..
Pemandangan diseberang jalan itu adalah sebuah pemandangan yang mungkin menjadi sebuah pemandangan yang sangat menyesakkan dada, sangat tidak menyenangkan, dan mungkin sangat menyakitkan!!
Bagaimana tidak!!
Seorang wanita yang selama ini sangat aku harapkan bisa menjadi penyemangat, menjadi penerang saat kegelapan melanda hati, menjadi aspirin saat kepala terasa sakit, dan bahkan menjadi penghangat dikala tubuh menggigil.. Tapi yang aku lihat diseberang jalan itu, dia malah bergandengan mesra dengan lelaki lain, bercanda ria, tertawa-tawa, seakan dunia ini cuma punya mereka! Tidak ada kecanggungan, bahkan tidak ada keresahan saat mata-mata orang disekitar tertuju kepada mereka..
"Heeeeghh, heeeeeeghh, heeeeeeeeghh", "Heaaarrggghh", mungkin seperti itulah deru nafas yang keluar dari lubang hidungku! Di ikuti pandangan iblis dan dan kepalan nafsu! Deru nafas dan pandanan yang terpompa karena amarah dan nafsu! Deru nafas yang mungkin sangat tidak ingin aku keluarkan! Karena aku masih sangat mengingatnya! Deru nafas seperti inilah yang membuatku harus meringkuk di rumah besi!!
Lalu apakah aku harus mengikuti ini semua!!
Apakah aku harus menghampiri mereka saat ini juga?, bertanya baik-baik atas apa yang mereka lakukan?, Apa opsi yang akan aku tawarkan seandainya jawaban yang ku terima tidak memuaskan? Apakah aku akan menghindar begitu saja macam pengecut? Merasa kalah? Jawabannya jelas tidak!! Paling tidak aku berani menjamin beberapa hiasan memar akan menghiasi tubuh si lelaki, atau bahkan mungkin keduanya!!
Tapi jika seandainya kejadiannya memang benar seperti itu, akibat apa yang akan aku terima? Yang jelas akibatnya juga tidak lebih baik!! Apa akibat yang akan aku terima dari Universita, dari Fakultas, seandainya aku benar-benar kalap sampai menghajar mereka!! Drop Out mungkin jawaban yang paling tepat! Mencoreng almamater, apalagi kejadiannya persis di depan Universitas, pada jam-jam sibuk pula! Padahal di dalam tas ranselku saat ini terbungkus rapi masa depanku, cita-citaku, harapanku!!
Aaaaahhh.. Aku benar-benar bingung...
Mungkin saat ini, itulah pertanyaan yang bersliweran di kepala, sehingga tanpa kusadari ketika kusapukan lagi pandanganku ke sana, mereka berdua sudah bersiap untuk naik ke salah satu angkutan kota..
"Mau kemana mereka?"Tidak! Aku tidak boleh sampai kehilangan jejak mereka untuk kali ini, aku harus mengikuti mereka" tekadku saat itu sambil kemudian berlalu ke tempat parkir di mata motorku berada..
Namun!!
"Shiiitt.. Apa lagi ini" makiku di tempat parkir itu saat mengetahui ban depan motorku ternyata kempes..
"Ohhh Tuhaaaaaaaannn" kataku saat itu sembari menutup mukaku dengan kedua telapak tangan...
******
Akhirnya, dengan masih menyimpan beban dongkol di dada, dikarenakan ban depan sepedaku yang tau-tau kempes, sehingga aku tidak dapat melanjutkan pengejaran, yang artinya lepas pula kesempatanku untuk mengetahui rahasia sebenarnya dari kedekatan Siti dan Lelaki tersebut..
******
Tambal ban "bang Ulil" , disinilah akhirnya aku berlabuh, sebuah kios tambal ban yang terletak sekitar 500 meter arah kanan dari kampus..
"Kenapa lagi Di motormu?, bukannya kemarin baru saja lulus dari sini? Tanya Bang Ulil begitu aku selesai memarkir motor dengan kemeja yg hampir basah mirip kehujanan, padahal cuaca di siang itu sangatlah panas, mungkin sepanas hatiku setelah melihat kejadian Siti tadi namun tak mampu menelusuri lebih lanjut kebenarannya..
"Ini bang, tiba-tiba saja ban depan kempes, di santet orang mungkin, lha tadi pagi masih sehat, tau-tau tadi mau tak bawa kempes", jawabku kemudian sambil mengambil tempat duduk khusus pelanggan, kemudian membuka 2 kancing teratas kemejaku, sehingga dada agak bidangku yang berhias Tatto motif tribal hasil karya temanku
Tono sedikit mengintip, sembari mengibas-ibasakan sobekan bekas tutup kardus salah satu merek minuman untuk sekedar mengusir gerah..
"Ya sudah, tunggu sebentar, aku selesaikan ini dulu", sambung bang Ulil sambil meneruskan pekerjaannya memasang disc brake depan motor langganan yg tadi di kerjakannya..
10 menit kemudian, setelah motor yang di garapnya tadi selesai, Bang Ulil beralih mengerjakan motorku, mulai di buka ban depan yang kempes tadi, untuk kemudian di ambil ban dalam, di cek ada kebocoran ataukah tidak! Sampai pada akhirnya, setelah di temukan sebuah lobang kecil bekas tambalan sebelumnya yang ternyata terkelupas kembali, Bang Ulil kemudian menambalnya, membakar tambalan baru untuk lebih merekatkan lem..
"Ehh Di, aku tanya sedikit boleh?, tiba-tiba saja Bang Ulil bertanya..
"Ehh, I-iyya Bang, memang mau tanya apa?" Jawabku tergagap karena pertanyaan tiba-tiba tadi..
"Kamu apa masih jalan sama, samaaaa... aduhh",
"Jalan sama siapa Bang", ucapku memotong pertanyaan Bang Ulil
"Sama itu lho Di, pacarmu itu lhoo, siapa ya namanya?,
"Siti maksud abang", jawabku memperjelas maksud pertanyaan Bang Ulil
"Iyya, Siti, yang dulu sering kamu ajak ke sini kalo kamu servis",
"Masih Bang, memang kenapa" jawabku sambil mendekat ke arah Bang Ulil sambil berpindah duduk di bangku kecil dekat Bang Ulil..
Aku memang sering mengajak Siti kalau misal aku servis atau untuk urusan yg lain seperti tambal ban seperti saat ini, Bang Ulil memang langganan Mahasiswa Kampusku dan sekitarnya, karena selain orangnya ramah, santai dan enak di ajak ngobrol, hasil pekerjaannya pun sangat memuaskan, sehingga kebanyakan akan balik lagi kalau mereka ada masalah dengan motor mereka..
"Kok kemarin aku lihat Pacarmu itu jalan sama orang lain Di", jawab Bang Ulil kemudian
Plaaasss..
Jawaban Bang Ulil seperti sebuah tamparan yang cukup telak mengena di wajahku tanpa sempat aku menangkisnya..
"Ahh, Bang Ulil salah lihat orang mungkin", sangkalku untuk menutup keterjutanku
Terus terang saja, sebenarnya aku tidak cukup terkejut dengan jawaban Bang Ulil tadi, sebuah jawaban singkat yang hampir sama seperti jawaban yang aku dengar dari teman-temanku akan permasalahan dengan Siti, jawaban yang hampir kesemuanya menyatakan bahwa ada yang salah dengan kelakuan Siti akhir-akhir ini kalau di belakangku, yang kesemuanya bermuara pada perselingkuhan Siti..
Namun aku bukanlah orang yang begitu saja gampang percaya tanpa pembuktian! Aku dari kecil sudah berprinsip, "Tanpa Bukti, Tanpa Arti".. Namun aku juga bukan menyepelekan atas apa yang telah di katakan Bang Ulil dan juga teman-teman lainnya, karena aku tau dengan pasti bagaimana mereka..
"Salah bagaimana Di?, mataku ini masih normal Di, masih bisa melihat dengan benar, apalagi melihat cewek macam Pacarmu itu, dan juga cewek-cewek kampus yang sering bersliweran di depan kios kalau pulang kuliah", sambung Bang Ulil sambil kemudian mengambil ban dalam yang telah di bakar sebelumnya, sambil kemudian mencoba memompanya lagi untuk sekedar mengecek apakah tambalannya masih ada kebocoran atau tidak..
"Memangnya Bang Ulil berani lirak-lirik cewek kampus? Apa punya keberanian? Ndak takut samaaa, itu tuhh" balasku sambil dengan anggukan kepala tertuju pada Istri Bang Ulil yang sibuk di Kios Rokok sebelah Kios Bang Ulil ini..
Oiyya.. Selain Kios Tambal Ban, Bang Ulil juga mempunyai Kios Rokok dan makanan ringan untuk di kelola istrinya..
"Eehh, jangan kenceng-kenceng Di, bisa ndak dapat jatah nanti malam Si Otong" elak Bang Ulil sambil berbisik takut di dengar istrinya..
******
Sambil menunggu Bang Ulil menyelesaikan kerjaannya, aku sedikit melamun dan mengingat-ngingat beberapa kejadian yang terjadi beberapa bulan terakhir ini antara aku dengan Siti, akhir-akhir ini sering sekali Siti protes ke aku, aku ingat beberapa di antaranya,
(Mas Dion sekarang ndak Romantis Lagi, kalau jalan-jalan sekarang jarang sekali menggandeng Siti
Mas Dion ndak Romantis, kalau sedang makan berdua Siti sekarang juga jarang di suapi
.. Pkoknya Masih banyak alasan yang dikemukakan Siti)..
Itulah beberapa alasan yang dikemukakan Siti kepadaku, padahal dari awal aku sudah sering bilang, aku bukanlah orang bertipe romantis, bukanlah orang yang pernah berpacaran..
Siti adalah pacar pertamaku, wanita pertama di hatiku.. Aku yang sebelumnya sama sekali tidak pernah memikirkan yang namanya pacaran, entah kenapa bisa berpaling ke Siti, padahal sebelumnya sudah banyak cewek-cewek di kampus yang mungkin bisa dikatakan lebih cantik dan sexy dari Siti secara terus terang bilang suka ke aku, namun aku tidak pernah sekalipun tertarik, aku lebih tertarik kerja part time, menikmati ke-Jombloanku dengan teman-temanku, alcohol drunk, jotos-jotosan, kesemuanya lebih menarik perhatianku!
Namun kesemuanya berangsur-angsur beralih ketika aku bertemu Siti, adik tingkat Fakultasku.. Siti yang putih, berambut lurus sepunggung, cerewet, semampai dengan tunjangan bokong yang menungging serta di hiasi bukit kembar 34B di dadanya, benar-benar membuatku berpaling, sampai pada akhirnya aku jadian dengan Siti..
Namun, kebersamaan yang dulu sangat aku nikmati, akhir-akhir ini...
******
"Ehh Di, sudah selesai ini", kata Bang Ulil yang sudah menyelesaikan kerjaannya menambal ban motorku yang bocor, sekaligus mengagetkan lamunanku akan Siti tadi..
"Ehhh, iiyya Bang, berapa ongkosnya", jawabku tergagap sambil merogoh uang di saku celanaku..
"5 juta Di, seperti biasanya, Hahahahahaaa", jawabnya berkelakar, memang Bang Ulil ini senang berkelakar dari dulu, coba bayangkan saja, mana ada biaya tambal Ban 5 juta..
"Ini Bos ongkosnya, kembali 5 Juta ya", kelakarku balik sambil menyerahkan uang pecahan 10 Ribuan, sambil mengambil kembaliannya 5 Ribu dari tangan Bang Ulil..
Untuk diketahui saja, 5 juta seperti yang di bilang Bang Ulil tadi sebenarnya adalah 5 ribu rupiah, namun Bang Ulil sering berkelakar untuk sekedar bersosialisasi dengan pelanggannya, untuk sekedar menciptakan kesan khusus di mata pelanggannya..
******
Akhirnya, akupun meneruskan untuk kembali saja ke kost, tidur, untuk sekedar melepas beban yang saat ini ada! Beban Skripsi, Beban Masalah Siti, serta beberapa beban yang tidak akan mungkin dapat terselesaikan dengan kondisi seperti di Bengkel Bang Ulil ini..

0 Komentar